Berita

Harga Komoditas Batu Bara Tinggi, Produksi Alat Berat Meningkat Tajam – kbr.id

Ilustrasi:  Bongkar muat batu bara di Pelabuhan PT Karya Citra Nusantara, Marunda, Jakarta. Rabu (12

Ilustrasi: Bongkar muat batu bara di Pelabuhan PT Karya Citra Nusantara, Marunda, Jakarta. Rabu (12/1/22). (Foto: Antara/M Risyal Hidayat)

KBR, Jakarta— Kenaikan harga komoditas batu bara turut mengerek penjualan alat berat di Indonesia sepanjang dua tahun terakhir. Bahkan, produksi alat berat pada 2022 diramalkan menempati capaian tertinggi penjualan sejak 2011.

Ketua Umum Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi) Jamalludin memproyeksi, produksi alat berat pada tahun ini akan melonjak tajam hingga 9.000 unit. 

Jumlah itu diyakini bisa melebihi taksiran yang ditetapkan sejalan dengan tren harga komoditas batu bara yang masih meningkat.

“Tahun ini kita memproyeksikan 9 ribu. Jadi sepanjang sejarah alat berat berdiri tahun ini paling gede rencana produksinya. Dan kapasitas produksi alat berat di Indonesia itu 10 ribu setahun. Jadi kita lebih dari 10 ribu nggak bisa. Tapi kalau 9 ribu, itu sudah ditangan. Bahkan bisa lebih sehingga bisa dimaksimalkan kapasitas produksinya,” ujar Jamalludin saat dihubungi KBR, Jumat (28/1/2022).

Baca Juga:

Jamal menyebut, meningkatnya produksi alat berat pada tahun ini tidak terlepas dari dampak pemulihan ekonomi dan permintaan pada tahun lalu yang belum terealisasi sepenuhnya. 

Pada 2021, produksi alat berat mencapai 6.740 unit. Penjualan sepanjang tahun lalu lebih tinggi sebesar 12,33 persen dari target yang diperkirakan, yakni sebesar 6.000 unit.

Jamal menambahkan, sampai saat ini penjualan alat berat masih didominasi oleh sektor tambang dan konstruksi, masing-masing menyumbang sebesar 35 persen. Sisanya, penjualan berasal dari sektor agrikultur dan kehutanan masing-masing sebesar 15 persen.

Dia menjabarkan, porsi penjualan terbesar akan diisi oleh hydraulic excavator dan dump truck.

Jika melihat secara kuantitas, lanjutnya, permintaan hydraulic excavator masih didominasi kelas 20 ton yang banyak digunakan untuk sektor konstruksi. Sementara, hydraulic excavator kelas 200 ton banyak digunakan untuk mengisi ceruk pasar pertambangan.

Saat ini, kata Jamalludin, kendala utama yang dihadapi industri alat berat yakni ketersediaan komponen yang sebagian material masih impor. 

Beberapa industri saling berebut mendapatkan komponen sejalan dengan pulihnya ekonomi nasional. Untuk itu, kata dia, industri dan pemerintah perlu meningkatkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).

Baca Juga:

“Kalau dari kita tetap saja satu, TKDN ditingkatkan. Kemudian mohon dibantu soal logistik. Logistik itu sekarang sangat sulit sekarang kondisinya. Untuk mendatangkan material dari luar negeri. Itu yang perlu ditekankan. Delay-nya sudah kepanjangan. Logistik bermasalah, lewat Korea lagi bermasalah. Bukan cuma Indonesia ya, dunia juga mengalami kesulitan tentang logistik itu,” sambungnya.

Persoalan kedua, kata dia, menyangkut sumber daya manusia (SDM) yang masih terbatas. Saat pandemi berlangsung, banyak dari karyawan di industri alat berat yang dipangkas. Karena itu, saat ini ketersediaan SDM untuk industri alat berat sangat dibutuhkan.

Meski saat ini industri alat berat tengah ‘mencicipi kue’ dari kenaikan harga komoditas, dia mengatakan Hinabi akan bersiap dengan potensi anjloknya bisnis pertambangan. Untuk itu, pelaku usaha akan mengalihkan penjualan ke sektor lain yang lebih potensial. 

Pelaku industri sudah memahami bahwa industri alat berat memiliki siklus permintaan yang tidak stabil dengan siklus 10 tahun berjalan.

“Misalnya nanti batu bara tidak menggeliat cuma kan kita mulai bermain lagi dengan energi. Mereka butuh alat berat. Hanya saja tidak sesignifikan booming-nya mining. Jadi alat berat tetap berperan cuma mungkin switching model. Model besar jadi model kecil,” katanya.

Editor: Agus Luqman

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.