Serbaserbi

Kisah Cicit Rasulullah Ali Zainal Abidin Saat Dicaci Maki

Cicit Rasulullah bernama Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib ini dapat kita jadikan teladan soal ke kezuhudan dan tawadhu’. Sayyidina Ali Zainal Abidin sebagai orang yang wara’ dan zuhud.

Dalam Kitab al-Tibr al-Masbuk fii Nashiihah al-Muluk, Imam Al-Ghazali menceritakan kisah Ali Zainal Abidin saat dicaci maki oleh seseorang. Berikut kisahnya dilansir dari NU Online:

خرج زين العابدين علي بن الحسين رضي الله عنه إلي المسجد فسبّه رجل فقصده غلمانه ليضربوه ويؤذوه, فناهم زين العابدين وقال: كفوا أيديكم عنه! ثم التفت إلي ذلك الرجل وقال: يا هذا أنا اكثر مما تقول وما لا تعرفه مني أكثر مما قد عرفته, فإن كان لك حاجة في ذكره ذكرته لك. فخجل الرجل واستحي فخلع عليه زين العابدين قميصه وأمر له بألف درهم, فمضي الرجل وهو يقول: أشهد أن هذا الشاب ولد رسول الله صلي الله عليه وسلم.

Sayyidina Zainal Abidin Ali bin Husain radliyallahu ‘anhu keluar (rumah) menuju masjid. Tiba-tiba seseorang mencaci-makinya. Para pengawalnya hendak memukul dan menyakiti orang tersebut. Sayyidina Ali Zainal Abidin melarangnya dan berkata:

“Tahanlah tangan kalian darinya!”

Kemudian ia berpaling kepada orang yang mencacinya itu dan berkata: “Wahai tuan, aku memiliki keburukan lebih banyak dari yang tuan katakan. Apa yang tuan tidak ketahui (tentang keburukanku) lebih banyak dari yang tuan ketahui. Jika tuan membutuhkannya, aku akan menceritakan (semua)nya pada tuan.”

Orang itu pun menjadi malu. Lalu Sayyidina Ali Zainal Abidin merogoh kantong bajunya dan memberinya uang seribu Dirham. Orang itu pun berlalu sambil berkata: “Aku bersaksi bahwa pemuda ini (Sayyidina Ali Zainal Abidin) adalah keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Hikmah dari kisah ini, Sayyidina Ali Zainal Abidin seakan-akan menganggap cacian sebagai kasih sayang Allah yang mengingatkan dosa-dosanya. Bagi orang yang selalu ingat akan dosa-dosanya, ia tak akan mudah terhina oleh cacian dan makian.

Cacian adalah cambuk pengingat bahwa, “Aku lebih buruk dari itu,” dan “dosaku lebih banyak dari itu.” Maka, seberapa kasar dan bejatnya sebuah cacian, tak akan berarti apa-apa karena ia merasa jauh lebih buruk dari itu.

Bahkan, Imam Ali Zainal Abidin menawari pencacinya semua informasi tentang keburukannya. Sebagai gantinya, Imam Ali Zainal Abidin berterima kasih pada pencacinya karena telah diingatkan. Seumpama ia hendak berujar, “Cacian yang mengingatkanku atas segala keburukan lebih kunikmati daripada pujian yang melalaikanku.” Karenanya beliau memberi pencacinya uang cukup banyak karena telah membangkitkan penyesalannya kembali atas dosa-dosanya.

Sisi lain kisah ini tentang akhlak yang baik. Meski dicaci sedemikian rupa, Imam Ali Zainal Abidin tidak membalasanya dengan cacian, tetapi membalasnya dengan kebaikan. Beliau melarang pengikutnya menyakiti orang tersebut dan menghampirinya dengan penuh keramah-tamahan.

Sikapnya ini membuat sang pencaci malu. Belum hilang rasa malunya, Imam Ali Zainal Abidin memberinya uang seribu Dirham. Akhlak mulia inilah yang membuatnya bersaksi bahwa ia benar-benar keturunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Imam Abu ‘Utsman Al-Hirri berkata:

أصل التواضع ثلاثة: أن يذكر العبد جهله ويعترف في الحال بتقصيره ولا ينظر إلي تقصير غيره

“Akar tawadhu’ ada tiga: (1) mengingatkan seorang hamba akan kebodohannya, (2) mengakui kekurangannya di (setiap) keadaan, dan (3) jangan memperhatikan (menilai) kekurangan orang lain.” (Imam Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliya’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashiliy al-Wasthani al-Syafi’i [836 H], Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm 480)

(rhs)Rusman H Siregar

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.