Berita

Tekan Defisit Anggaran, Pemerintah Harus Mulai Kurangi Belanja Negara – kbr.id

Ilustrasi: Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan tanjung Priok, Jakarta. Kamis, (16/12/21). (

Ilustrasi: Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Kamis, (16/12/21). (Foto: Antara/Sigid)

KBR, Jakarta— Pemerintah diharapkan dapat mengurangi belanja negara selama dua tahun ke depan untuk menekan defisit di bawah 3 persen sesuai yang ditargetkan atas konsolidasi fiskal 2023.

Pernyataan itu disampaikan Staf Khusus Menteri Koordinasi Bidang Perekonomian Raden Pardede dalam acara Banggar DPR RDPU Dengan Pakar/Ahli Ekonomi dan Keuangan, Kamis 27/12022).

“Belanja pemerintah harus di bawah 2020, 2021 dan 2022 kalau kita mau mencapai konsolidasi 3 persen. Artinya, bahwa belanja pemerintah mengalami kontraksi. Kalimat itu yang harus kita sadari karena kita melakukan konsolidasi. Apabila Indonesia ingin mencapai komitmen di bawah 3 persen, maka belanja itu harus turun. Bahkan bisa di bawah level 2019,” kata Raden Pardede.

Baca Juga:

Pada 2022, lanjut Raden, defisit APBN akan diproyeksi berada di bawah target yang disetujui, yakni 4,7 persen. Berangkat dari sana, pemerintah mesti memikirkan penggunaan sisa anggaran itu untuk menambal sekelumit persoalan yang telah dihadapi Indonesia seperti membayar sisa utang, atau digunakan untuk menambah skill sumber daya manusia (SDM).

“Pertanyaan sekarang, kalau jauh di bawah itu dipakai untuk apa kestra ini? Apakah kita pakai ini untuk menjawab luka yang dalam, di mana ada persoalan skill yang harus kita harus tambah, persoalan job destruction yang terjadi sektor-sektor yang kami katakan. Itu yang menjadi kunci. Jadi kalau ada ekstrak buah, kita kemanakan ini? Apakah kita save, kita bayar utang, atau menjawab masalah yang medium term termasuk skill dan infrastruktur digital seperti yang kami katakan tadi,” ujarnya.

Sepanjang 2022 ini, Pardede memperkirakan penerimaan negara berjalan lebih baik karena dampak positif dari harga komoditas di tingkat global. Harga komoditas yang tinggi itu memperbaiki outlook penerimaan negara.

Editor: Agus Luqman

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.