Keagamaan

Biografi Ibnu Abbas: Mufassir Pertama dan Kitab Tafsir Tanwir Al-Miqbas | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Artikel berikut ini akan menjelaskan biografi Ibnu Abbas. Ia lahir pada tahun ke-7 Kenabian di tempat yang dikenal dengan nama lembah Abi Yusuf. Lembah tempat Nabi Saw dan Bani Hasyim mengungsi  setelah  melakukan perjanjian dengan kaum Quraisy. 

Nama lengkapnya ialah Abdullah bin Abbas  bin Abdul Muthalib (Syaibah) bin Hasyim (Amr) bin Abdi Manaf bin Qusyai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr al-Qurasyi, al-Hasyimi. Ibunya bernama Ummul-Fadhl Lubabah binti Harits bin Hazn bin Bujair Al-Hilaliyah dari Hilal bin Amir.

Ibnu Abbas secara tidak langsung merupakan sepupu dari Nabi Muhammad Saw, karena ayahnya Abbas merupakan kakak dari ayahanda Nabi. Ibnu Abbas berumur 10 tahun ketika Nabi Muhammad Saw wafat. Ia sempat membersamai Nabi Saw selama 30 bulan (sekitar 2,5 tahun).

Ibnu Abbas dan kedua orangtuanya baru pindah ke kota Madinah pada saat penaklukan kota Mekkah, meski sebelumnya ia telah masuk Islam. Ia adalah salah satu sahabat Nabi yang dikaruniai pemahaman mendalam terhadap ilmu agama, juga seorang pakar dalam tafsir Al-Qur’an.  

Imam Ad-dzahabi dalam kitabnya Siyar a’lam an-Nubala menyifati Ibnu Abbas demikian. “Ia, Ibnu Abbas adalah pelita umat, seorang fakih di zamannya,  pakar tafsir”.

Ibnu Abbas terkenal sebagai bapak para mufassir. Ia dengan tafsir yang dinisbatkan kepadanya, Tanwir al-Miqbas merupakan mufassir pertama dalam Islam. Ibnu Abbas pernah didoakan langsung oleh Nabi Saw sebagai orang yang paham terhadap takwil dan fakih dalam Agama.

عن حماد بن سلمة وغيره عن عبد الله بن عثمان بن خثيم عن سعيد بن جبير  عن عبد الله قال: بت في بيت خالتي ميمونة، فوضعت للنبي غسلا، فقال: من وضع هذا؟. قالوا: عبد الله. فقال: اللهم علمه التأويل وفقهه في الدين.

Dari Hamad bin Salmah dan yang lainnya dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Sa’id bin Jubair dari Abdullah berkata: “aku menginap di rumah bibiku Maimunah, aku mengambilkan air untuk mandi Nabi. Nabi Saw berkata: “siapa yang menyiapkannya?”. 

Orang-orang berkata: “Abdullah (bin Abbas)”. Nabi berkata: ” Ya Allah, berilah ia ilmu tentang takwil (tafsir) dan pemahaman yang mendalam dalam agama”. (Dalam riwayat lain Ibnu Abbas menyiapkan wudhu untuk Nabi Saw, sebelum ia didoakan Nabi Saw).

Banyak riwayat atsar yang menjelaskan terkait Ibnu Abbas. Diantaranya, Ibnu Abbas  pernah shalat di belakang Nabi Saw di akhir malam. Sebelum kemudian Nabi Saw menjadikannya di sisi Nabi Saw. 

Setelah selesai shalat, Ibnu Abbas bertanya pada Nabi: “Apakah diperbolehkan seseorang shalat di sisimu sedang engkau adalah utusan Allah?”. Kemudian Nabi mendoakan Ibnu Abbas agar ditambahkan ilmu dan pemahamannya.

Pernah juga suatu ketika Ibnu Abbas berpapasan dengan Nabi di jalan yang memakai baju putih bersih. Nabi sedang berbicara dengan Dahiyah bin Khulaifah al-Kalabi yang merupakan Jibril yang sedang menyamar. Jibril berkata: “siapa dia?”. “Ia adalah sepupuku”, jawab Nabi. “Kotor sekali bajunya!, akan tetapi keturunannya akan menjadi pemimpin setelahnya,” sambung Jibril. 

Kemudian setelahnya Nabi berkata kepada Ibnu Abbas: “Engkau melihat orang yang berbicara denganku tadi?”. “İya”, jawab Ibnu Abbas. “Penglihatanmu akan memudar”. Kata Nabi.

Namun, meski penglihatan Ibnu Abbas memudar ia diberi ganti yang lebih baik dengan mendapatkan pemahaman mendalam agama terutama dalam tafsir Al-Qur’an.

Salah satu riwayat yang berkaitan dengan penafsiran Ibnu Abbas ialah riwayat Abu Nuaim dalam kitabnya Hilyat al-Auliya, jilid 1 halaman 320 dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar .

“Seorang laki-laki pernah mendatangi Ibnu Umar dan bertanya terkait surah Al-Anbiya/30; 

أن السموات والارض كانتا رتقا ففتقناهما

Ia ingin menanyakan makna “Ratqan” dan “Fataqna” dalam ayat tersebut. Kemudian Ibnu Umar menyarankan untuk mendatangi Ibnu Abbas dan menyuruhnya kembali untuk menjelaskan hasilnya. 

Ibnu Abbas berkata: maksud dari langit “ratqan”, tertutup ialah tidak turun hujan sedangkan bagi bumi tidak menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Kemudian oleh Allah dibuka “fataqna”, kami buka dengan menurunkan hujan dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. 

Laki-laki tersebut kemudian kembali menemui Ibnu Umar dan menjelaskan tafsiran Ibnu Abbas tadi. “Mengagumkan, pemahaman Ibnu Abbas tentang tafsir Al-Qur’an, sekarang aku tahu ia benar-benar telah diberi pengetahuan akan hal ini”, ujar Ibnu Umar.

Mengenal Sekilas Tanwir Al-Miqbas, Kumpulan Riwayat Tafsir Ibnu Abbas

Setelah menjelaskan biografi Ibnu Abbas, berikutnya tentang Tafsir beliau. Kitab Tafsir Tanwir al-Miqbas merupakan karya tafsir  Ibnu Abbas yang fenomenal. Meski, sebenarnya kitab tersebut bukan merupakan buah tangan atau tulisan “langsung” dari Ibnu Abbas.

Melainkan kumpulan riwayat tafsir yang dinisbatkan pada Ibnu Abbas yang dikumpulkan oleh Abu Thahir Muhammad bin Ya’qub Al-Fairuzabadi Al-Syafii, pemilik Al-Qamus Al-Muhith.

Dalam riwayat yang dinisbatkan pada Ibnu Abbas terdapat jenjang kuat dan tidaknya riwayat yang dimaksud. Syekh Manna’ Al-Qathan dalam Mabahis fi Ulum al-Qur’an menyebutkan beberapa riwayat yang masyhur dari Ibnu Abbas diantaranya:

Pertama, riwayat Muawiyah bin Shalih dari Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas. Ini merupakan jalur riwayat yang paling baik dari Ibnu Abbas. 

Kedua, riwayat Qais bin Muslim Al-Kufi dari Atha’ bin Saib dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas. Riwayat dari jalur ini shahih sesuai syarat dari Bukhari, Muslim. Ketiga, riwayat Ibnu Ishaq dari Muhammad bin Abi Muhammad, hamba sahaya keluarga Zaid bin Tsabit dari Ikrimah atau Said bin Jubair dari Ibnu Abbas.

Keempat, riwayat Ismail bin Abdurrahman Al-Sadi, dari Abi Malik atau Abi Shalih dari Ibnu Abbas. Ismail Al-Sadi adalah seorang tabiin dan syiah, riwayatnya juga diperdebatkan. Meski demikian, beberapa imam seperti Al-Tsauri dan Syu’bah meriwayatkan darinya.

Kelima, riwayat Abdul Malik bin Juraij dari Ibnu Abbas. Riwayat dari Abdul Malik memerlukan penelitian ulang, karena Ibnu Juraij memasukan semua riwayat baik yang shahih maupun cacat dalam riwayatnya.

Keenam, riwayat Ad-Dhahak bin Muzahim Al-Hilali dari Ibnu Abbas. Riwayat dari jalur ini tidak diterima karena Ad-Dhahak diperdebatkan ke-tsiqatannya sebagai rawi. Ketujuh, riwayat Athiyah Al-Ufi dari Ibnu Abbas. Tidak diterima karena Athiyah dianggap lemah dalam meriwayatkan.

Kedelapan, riwayat Muqatil bin Sulaiman Al-Azdi, yang juga tidak diterima karena dhaif. Kesembilan, riwayat dari Muhammad bin Al-Saib Al-Kalabi dari Abi Shalih dari Ibnu Abbas. 

Demikian penjelasan tentang biografi Ibnu Abbas, sahabat nabi, sekaligus seorang mufassir pertama, dengan kitab tafsirnya berjudul, Tanwir Al-Miqbas. Semoga bermanfaat.  (Baca: Penafsiran Ibnu Abbas tentang Lailatul Qadar)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.