Keagamaan

Konflik Nusyuz Suami Terhadap Istri Dalam Al-Qur’an – Arrahim.ID

2 min read

Views 309

Berbicara mengenai nusyuz kerap sekali terjadi dikalangan istri, namun tidak menutup kemungkinan hal tersebut terjadi pada suami, seperti dalam nash Al-Qur’an surah An-Nisa (4): 128 yang menjadi sumber hukum tertinggi dalam menata suatu hukum secara eksplisit. Nusyuz secara bahasa yang berarti meninggi, menonjol, durhaka, menentang, atau bertindak kasar. Sedangkan secara terminologi nusyuz memiliki banyak pengertian diantaranya terdapat dalam Tafsir Al-Qurthubi di jelaskan bahwa nusyuz adalah durhaka, yang diambil dari kata an-nasyz yaitu sesuatu yang tinggi dipermukaan.

Sedangkan menurut Abu mansur Al-Baghawi menjelaskan bahwa “Nusyuz adalah bencinya salah seorang dari dua pasangan terhadap pasangannya”. Dalam pemakaiannya kata An-nusyuz ini berkembang menjadi kata al-ishyaan yang berarti durhaka atau tidak patuh. Kriteria nusyuznya seorang suami menurut ulama madzhab yaitu ditandai dengan mengabaikan hak istri atas dirinya, berfoya-foya dengan perempuan lain, merendahkan istrinya, berlaku sewenang-wenang dan lain sebagainya.

Selain istilah nusyuz, pada pihak suami terdapat pula istilah i’rad. Perbedaan antara keduanya adalah jika nusyuz maka suami akan menjauhi istrinya sedangkan i’rad adalah suami tidak menjauhi istrinya melainkan hanya tidak mau berbicara dan tidak menunjukan kasih sayang terhadap istrinya sendiri. Dengan demikian setiap nusyuz pasti i’rad dan setiap i’rad belum tentu nusyuz.

Berkaitan dengan Nusyuz suami, sebagaimana yang telah dipaparkan Allah Swt dalam firmannya surat An-nisa : 128  yang artinya :

وَاِنِ امْرَاَةٌ خَافَتْ مِنْ ۢ بَعْلِهَا نُشُوْزًا اَوْ اِعْرَاضًا فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ اَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحَا ۗ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَاُحْضِرَتِ الْاَنْفُسُ الشُّحَّ ۗ وَاِنْ تُحْسِنُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا

 “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya,maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yanng sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia menurut tabiatnya kikir.dan jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh) maka sesungguhnya Allah adalah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.An-Nisa {4} :128).

Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Al-Thabari ( Imam Thabari ) menyatakan mengenai  sikap seorang istri yang mana ketika suaminya tidak memenuhi kewajibannya berdasarkan tafsir surat An-Nisa ayat 128, menegaskan bahwa seorang istri dapat mengurangi sebagian dari hak suami tetapi tetap menghormatinya. Pada tafsir al-jami li Ahkam Al-Qur’an , al-Qurthubi menafsirkan pada lafadz خَافَتْ yang berarti suatu keyakinan akan nusyuznya suami.

Adapun asbab an-nuzul dari ayat ini adalah Saudah binti Zum’ah. At-tirmidzi meriwayatkannya dari ibnu Abbas, ia berkata: “Janganlah engkau menceraikan ku dan biarkan aku menjadi istrimu dan berilah jatah hariku untuk Aisyah. Maka Nabi pun menyetujuinya, dari situlah keputusan berdamai dengan media apapun maka diperbolehkan”. (Terjemah Tafsir al-Qurthubi jilid 5: 956)

Abu Ja’far  memaknai nusyuz sebagai keenggangan seorang suami terhadap istrinya, bersikap keras kepadanya, tidak mau menggaulinya dan tidak mau memberikan haknya. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya beberapa faktor seperti umur yang sudah lanjut usia (tua), paras yang tidak cantik lagi, atau tidak bisa mengambil manfaat dari apa yang dimiliki istri. Maka pada lafadz والصلح خير  jika istri khawatir terhadap sikap tidak acuh terhadap suaminya maka boleh keduanya melakukan perdamaian dengan meninggalkan sebagian dari kewajiban keduanya atau membuat perjanjian diantara keduanya.

Sesungguhnya perdamaian bagi keduanya adalah sesuatu yang baik yaitu dengan meninggalkan kewajiban dari keduanya, karena yang demikian lebih baik dari pada bercerai. Maksudnya perdamaian karena telah meninggalkan sebagian haknya, terus menerus melakukan hal-hal yang diharamkan, dan menahan diri dari akad pernikahan lebih baik dari pada meminta cerai dan perpisahan.

Perilaku nusyuz suami sangat berakibat terhadap kehidupan seorang istri, yang mana seorang suami harus mencukupi segala kebutuhan sandang pangannya . Bukan hanya istrinya, hal ini juga akan berdampak kepada hak-hak anak nya yang mana seorang ayah semestinya bertanggung jawab membimbing mengajari dan mendidiknya. Selain itu bentuk nusyuz suami bila sampai pada tahap putus perkawinan maka anak akan mengalami dampak spikis karena kurangnya kasih sayang, perhatian dan tuntutan pendidikan orang tua.

Namun dalam menetapkan suatu hukum Al-Qur’an tidak memberatkan kedalam suatu masalah. Apabila konflik nusyuz ini menyebabkan persengketaan yang menyebabkan ketidaksukaan salah satu pihak  baik dari pihak suami atau pun pihak istri walaupun telah menempuh segala cara untuk menyelesaikannya seperti mendatangkan Hakam (juru damai) namun jika didalam hati suami dan istri tidak ada keinginan untuk berdamai dan hanya ada kemarahan terlebih mendapat dukungan dari kedua hakam, dan dengan berpisah lebih baik baginya maka Allah SWT akan memberi kecukupan,kebaikan dan taufik kepadanya. (mmsm)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.