Keagamaan

Mengenal Tafsir al-Baidhāwī : Sinaran Makna Al-Qur’an | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com- Di antara karya ulama muslim yang sangat prestisius adalah bidang interpretasi (tafsīr) al-Qur’an adalah karya dari Imam al-Baidhāwī. Karyanya yang dikenal sebagai Tafsir al-Baidhāwi merupakan satu di antara ribuan tafsir yang berhasil sampai kepada kita dan menyajikan pengetahuan bernilai serta menjadi khasanah berharga untuk kekayaan literasi Islam.

Dalam tulisan ini kita akan menelisik lebih dalam ihwal Tafsir al-Baidhāwi beserta penulisnya Imam al-Baidhāwī sebagai upaya pengenalan salah satu khasanah keislaman yang berharga. 

Mengenal Imam al-Baidhāwi

Nama lengkap Imam al-Baidhāwī adalah Nāshir al-Din Abi Sa’īd Abdullāh ibn Umar ibn Muhammad al-Baidhāwī al-Syairāzī. Imam al-Baidhāwī merupakan seorang ulama yang seorang ulama yang terkenal kecemerlangannya yang dilahirkan di desa al-Baydhā’, di sebuah tempat bernama Syairaz di Iran. Nama al-Syairazy merupakan penisbatan beliau kepada daerah kelahirannya. 

Al-Sayyid Muhammad Ali Iyāzī dalam kitabnya al-Mufassirūn Hayātuhum wa Manāhijuhum menjelaskan bahwa Imam al-Baidhāwī merupakan tokoh yang piawai dalam bidang fiqih, ushul fiqih, tafsir, ushul al-din, bahasa Arab dan ilmu Manthiq.

Selain itu, beliau juga mumpuni dalam ihwal seni debat dan berdiskusi, penafsiran al-Qur’an, dan lain-lain.  Imam al-Baidhāwī merupakan seorang ulama yang memegang mazhab Syafi’i dalam bidang fikih dan mazhab Māturidiah dalam bidang akidah. Keahliannya dalam keilmuan Islam mengantarkannya sebagai seorang Qādhi (pemutus masalah hukum Islam) di daerah Tabriz, Iran.

Selain itu ia juga meninggalkan warisan pengetahuan dalam berbagai bidang keilmuan Islam. Di antara karya-karyanya adalah al-Minhāl fi Ilm al-Ushūl, Syarh Mukhtashār ibn Hājib fi al-Ushūl, al-Īdhāh fi Ushūl al-Din, al-Ghāyah al-Qushwā fi al-Fiqh, Syarh al-Kāfiyah li Ibn Hājib dan Tafsir al-Baidhāwi yang sebentar lagi akan kita bahas detailnya. 

Imam al-Baidhāwī meninggal dunia pada tahun 685 H atau bertepatan dengan tahun 1092 M dan dikuburkan di Tabriz, Iran. 

Mengenal Kitab Tafsir al-Baidhāwī

Tafsir al-Baidhāwī memiliki nama lengkap Anwār al-Tanzīl Wa Asrār al-Ta’wīl (Cahaya al-Qur’an dan Rahasia Ta’wil). Berdasarkan penerbitan yang dilakukan oleh Darul Kutub al-Ilmiyyah pada 1988 M, kitab ini dihadirkan dalam jumlah 4 jilid. Ia merupakan salah satu kitab masyhur yang dikenal dalam dunia Islam, hal ini dibuktikan lewat lahirnya banyak Hasyiyah (catatan pinggir), Syarh (penguraian) ataupun Mukhtashar (ringkasan) atas tafsir tersebut

Bahkan mencapai 83 risalah catatan (hāsyiyah) yang mengulas tafsir tersebut, baik bentuknya analisis hadis-hadis yang dimuat dalam tafsir al-Baidhawi, catatan pelengkap atau ringkasan (mukhtashar) dari tafsir tersebut.

Terkait motivasi penulisan kitab tafsir tersebut Imam al-Baidhāwī menyebutkan, “Sungguh telah lama terbersit dalam benakku untuk mengarang sebuah kitab yang meliputi kejernihan-kejernihan hikmah para sahabat yang agung, ulama tabi’in serta ulama salaf yang lain. 

Kitab yang juga memuat goresan-goresan mengagumkan dan sentuhan-sentuhan indah yang saya sarikan dari diri saya pribadi dan dari ulama-ulama mulia sebelum saya dan para muhaqqiq yang unggul.”

Dan pada akhir jilid keempat, usai menuntaskan karangannya, Imam al-Baidhāwī menulis;

“Telah tuntas penulisan kitab ini. Kitab yang yang mengandung mutiara dari orang-orang hebat (Dzawī al-Albāb) yang meliputi ringkasan dari ungkapan para imam besar dan kebijaksanaan mereka dalam penafsiran al-Qur’an, penyingkapan makna-maknanya, penguraian detail kerumitannya, penjelasan sisi kemukjizatan susunan kata-kata-Nya (berupa al-Qur’an), dan lain-lain.

 Saya berharap agar karya ini tersebar luas manfaatnya untuk segenap pencari ilmu dan agar senantiasa kelelahan untuk menuntaskannya dibayar dengan ganjaran dan pahala dari Allah Swt.”

Tafsir ini tergolong sebagai tafsir dengan model analitis (tahlīlī), yakni sebuah tafsir yang mengandaikan sebuah penafsiran ayat dari berbagai disiplin keilmuan al-Qur’an seperti asbāb nuzul, i’rāb, balāghah, dan lain sebagainya. (Musā’id ibn Sulaiman al-Thayyār, Fushūlun fi Ushūl al-Tafsīr, 1993, hal. 19). 

Sementara dari sumber penafsiran, tafsir ini digolongkan sebagai tafsir bi al-Ma’tsur (tafsir yang menggunakan dalil naqli sebagai alat bantu penafsiran), hal ini dibuktikan lewat ketergantungannya pada tafsir-tafsir sebelumnya seperti al-Kassyyāf karya al-Zamakhsyari, Jāmi’ al-Tafsir karya al-Rāghib al-Asfihānī, dan lain sebagainya. 

Demikian terdapat beberapa karya tafsir belakangan yang terpengaruh dengan Tafsir al-Baidhāwi seperti Tafsir Kanz al-Daqāiq wa Bahr al-Gharāib karya Muhammad bin Muhammad Ridhā al-Qumi al-Masyhadi dan Tafsir al-Shāfi karya al-Musi Muhsin al-Faid al-Kāsyāni dan selain keduanya. 

Sistematika penyajian dalam Tafsir al-Baidhāwī ini adalah dengan menyebutkan nama surat, penisbatan jenis turunnya surat (makky/madany), kemudian dilanjutkan penafsiran ayat per ayat dengan menggunakan beragam sudut pandang dalam penafsirannya.

Pada akhir surat disebutkan hadis-hadis yang berkaitan dengan keberkahan surat dan keutamaannya. Dalam penafsirannya, al-Baidhāwī juga kerap mencantumkan kajian keterkaitan antara satu ayat dengan ayat lainnya (munāsabah). (Syamsul Wathani, 2018:93)

Dari segi pengungkapan I’rab dan Balaghah, Imam al-Baidhāwī berkiblat kepada Tafsir al-Kassyāf karya al-Zamakhsyari. Dari segi pengungkapan hikmah dan kalam (akidah), ia menjadikan kitab al-Tafsir al-Kabir karya Fakhr al-Din al-Razi sebagai rujukan, berikut juga ia menjadikan kitab Tafsir al-Rāghib sebagai sandaran dalam penguraian derivasi kata dan pengungkapan hakikat dan kelembutan isyarat.

Kecenderungannya dalam mengambil ulasan dari Tafsir al-Kassyāf dilakukannya dengan hati-hati dengan meninggalkan sisi muktazilah al-Zamakhsyari, penulis al-Kassyāf.

Kendati sedikit bercampur dengan riwayat yang lemah dan riwayat Israiliyyat, namun tafsir al-Baidhāwi merupakan tafsir yang otoritatif untuk dijadikan rujukan. Hal ini karena tafsir ini dikaji dan dilengkapi dengan karya-karya lainnya sebagai penopang kesempurnaannya. 

Seperti dalam bidang validasi periwayatan yang ada dalam Tafsir al-Baidhāwī kita bisa merujuk kepada kitab al-Fath al-Samāwī fi Takhrīj Ahādis al-Baidhāwi karya Syaikh Abd al-Raūf al-Manāwi ataupun at-Ta’rīf wa al-Tahqīq fi Tafsīr Anwār al-Tanzīl karya Sayyid Abu al-Fadl al-Sayyid al-Musawi yang merupakan penerangan dan penegasan (tahqiq) atas materi yang ada di dalam kitab Tafsir al-Baidhawī, dan lain sebagainya. (Ali Iyazī, 1986:230)

Contoh Penafsiran Tafsir al-Baidhāwī

Tafsir al-Baidhāwī kerap diidentikkan dengan Tafsir al-Kassyaf karya al-Zamakhsyari, kendati banyak ulama meluruskan bahwa al-Baidhāwī tidak terpengaruh dengan sisi kemuktazilahan al-Zamakhsyari. (Ali Iyazi, 1986:228).

Al-Baidhāwī memiliki kesamaan dengan al-Zamakhsyari dalam hal rasionalitas penafsiran, tapi tidak terpengaruh dari sisi kemuktazilahannya. Sebagaimana kita ketahui, di antara asas kemuktazilahan adalah prioritas mereka terhadap akal sebagai sumber pemutusan hukum keagamaan. Perbedaan mendasar dari al-Baidhāwī dan al-Zamakhsyari sangat kentara dalam contoh berikut.

Saat menafsirkan Qur’an surat al-Fajr ayat 22

 وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلۡمَلَكُ صَفّٗا صَفّٗا ٢٢ 

Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris”

Baik al-Baidhāwī maupun al-Zamakhsyari keduanya tidak menafsirkan al-Qur’an secara tekstual, melainkan melakukan ta’wīl. Keduanya menafsirkan bahwa maksud Allah datang pada saat itu adalah tampaknya tanda-tanda kekuasaan Allah dan pengaruh keperkasaan-Nya. 

Hal ini diumpakan sebagaimana datangnya seorang penguasa yang tampak darinya pengaruh kharisma dan kekuasaannya. Subtansi penafsiran keduanya memiliki unsur membebaskan Allah dari sifat-sifat makhluk.

Perbedaan baru tampak saat keduanya menafsirkan surat al-Isra ayat 15.

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبۡعَثَ رَسُولٗا ١٥ 

“Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

Keduanya menafsirkan bahwa Allah tidak akan mengazab suatu kaum sampai datang hujjah terhadap mereka. Dalam hal ini al-Baidhāwi mengatakan bahwa hujjah ialah diutusnya Rasul kepada mereka, karena ia menjadi media penyampaian kebenaran al-Qur’an dan risalah kenabian. 

Sedangkan al-Zamakhsyari berpendapat bahwa hujjah ada kalanya berupa diutusnya Rasul bisa juga berupa akal pikiran. Bagi al-Zamakhsyari, akal juga menjadi media untuk mengetahui Allah, akal mampu menalar, sedang fungsi Rasul hanyalah sebagai tanbīh (pengingat) kesadaran mereka saja. (Samsul Wathoni, 2018:96)

Demikian penjelasan terkait mengenal Tafsir al-Baidhāwī, sinaran makna Al-Qur’an. Wallahu A’lam bi al-Showāb (Baca: Komentar-Komentar terhadap Tafsir al-Baidhawi)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.