Keagamaan

Mengenal Tafsir Rūh al-Ma’ānī : Tafsir Bercorak Tasawuf  | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Kitab suci Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw berfungsi sebagai petunjuk (hudan) bagi yang mempelajarinya. Esensi yang dikandungnya berupa ajaran-ajaran kebaikan serta hikmah dari umat-umat silam adalah pelajaran berharga untuk mewujudkan keluhuran nilai, baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini murni disepakati oleh semua umat Islam dan terdapat banyak bukti nyata (riil) yang mengejawantahkan hal tersebut.

Hal tersebut terjadi di berbagai bidang kehidupan. Fleksibilitas pemaknaan ayat suci al-Qur’an menyebabkan al-Qur’an menjadi relevan (Sālih) bagi setiap zaman dan tempat di mana pesan-pesan al-Qur’an dikebumikan. Realitas ini meniscayakan lahirnya kerja interpretasi (tafsir) atas ayat-ayat al-Qur’an agar mampu lebih dipahami oleh khalayak, agar mampu tersampaikan hakikat yang disampaikannya. 

Dalam analisis mengenai bahasan mengapa kita membutuhkan tafsir untuk memahami ayat suci al-Qur’an, Muhammad Afifuddin Dimyathi menjelaskan bahwa dalam al-Qur’an terdapat hal-hal yang hanya tuntas jika dijelaskan oleh ulama yang mumpuni dalam bidangnya.

Unsur-unsur dalam memahami ayat al-Qur’an seperti terdapatnya bahasan sebab-sebab turunnya al-Qur’an (Asbāb al-Nuzūl), ayat-ayat yang bersifat global (Mujmal), ayat-ayat samar (Mutasyābihāt), dan proses berangsurnya penurunan al-Qur’an yang memuat nilai filosofis (Tadarruj), meniscayakan perlunya kerja mufassir yang ahli demi mewujudkan pemahaman yang komprehensif-holistik.

Di antara kitab tafsir yang bisa kita jumpai adalah tafsir Rūh al-Ma’ānī karya seorang ulama besar bernama Al-Alūsī. Tafsir yang memiliki nama lengkap Rūh al-Ma’ānī fi Tafsir al-Qur’an al-’Azhīm wa Sab’ al-Matsānī ini merupakan karya agung Al-Alūsī dalam menginterpretasikan kandungan al-Qur’an.

Tafsir ini dikenal sebagai tafsir yang memiliki corak isyari, yakni tafsir yang memuat pengungkapan nilai-nilai esoteris (batiniah) ayat-ayat al-Qur’an.

Biografi Al-Alūsī

Nama lengkapnya adalah Abū Syihāb al-Dīn Mahmūd Afandī Al-Alūsī al-Baghdādī. Al-Alūsī dilahirkan di daerah Kurkh, Baghdad, Irak pada tanggal 14 Syaban tahun 1217 H atau bertepatan dengan tahun 1802 M. Nama Al-Alūsī merupakan nisbat dari kata Alus, sebuah tempat di tepi barat sungai Eufrat, antara kota Abu Kamal dan kota Ramadi di Baghdad. 

Dibesarkan oleh keluarga yang peduli pada keilmuan, Al-Alūsī mulai dididik sejak dini di lingkungan keluarga. Perjalanan intelektualnya mengantarkannya belajar kepada guru-guru sufistik seperti Syaikh-Syaikh Khālid al-Naqsabandi.

Pengalamannya yang mengesankan dalam belajar ilmu tasawuf berimbas kepada masterpiece-nya, Tafsir Rūh al-Ma’āni, yang memiliki karakter kesufian (Maisaroh Al Husna, 2020:119). Hal ini sangat lazim terjadi mengingat bahwa sebuah karya, secara khusus tafsir, tak bisa dilepaskan dari latar belakang ideologi penulis. Latar Belakang ideologi dan kebudayaan mufassir turut andil memfigurasi bentuk tafsir yang dibuatnya. (Dimyathi, 2019:5)

Al-Alūsī pada masa hidupnya menjabat sebagai mufti di Baghdad, penanggung jawab wakaf di Madrasah Marjaniyah (yayasan pendidikan yang mensyaratkan penanggung jawabnya seorang tokoh keilmuan di negeri tersebut), juga sebagai pengajar di universitas yang didirikan oleh Syaikh Abdullah Shalah al-Aqulani di daerah Rasafah, dan perguruan tinggi lain. 

Al-Alūsī banyak tertarik dengan kajian-kajian ilmu al-Qur’an seperti ilmu Munasabah, Asbabun Nuzul, Qiraat, juga beberapa disiplin sastra Arab seperti syair-syair Arab. Al-Alūsī merupakan ulama yang mengikuti maturidiyah dalam bidang akidah dan bermazhab Syafi’i dalam ihwal fiqih. (Yeni Setianingsih, 2017:239)

Saat hidupnya, Al-Alūsī menulis beberapa kitab dalam berbagai disiplin keislaman seperti  Hasyiah ‘ala al-Qathr (logika), Syarh al-Salim (logika), al-Ajwibah al-Iraqiyyah ‘An As’ilah al-Lahhariyah, Ghoyah al-Amani f ar-Rad ala al-Nabhani, al-Ayah al-Kubra ala Dholah al-Nabhani fi Raitahi al-Sughra, dan lain-lain.  

Al-Alūsī wafat pada tahun 1270 H bertepatan dengan tahun 1854 M) dan jasadnya dimakamkan di dekat makam Syekh Ma’ruf al-Karakhi, salah seorang tokoh sufi yang sangat terkenal di kota Kurkh, Iraq.

Mengenal Tafsir Rūh al-Ma’ānī karya Al-Alūsī

Imam Al-Alūsī menulis tafsir Rūh al-Ma’ānī pada tanggal 16 Sya’ban 1252 H, pada waktu beliau berumur 34 tahun. Hal ini diawali dari mimpinya bahwa beliau diperintah untuk melipat langit dan bumi dengan mengangkat satu tangan ke arah langit dan satu tangan ke tempat mata air. 

Nama Rūh al-Ma’ānī fi Tafsir al-Qur’an al-’Azhīm wa al-Sab’al Matsānī yang memiliki arti “Semangat makna dalam tafsir al-Qur’an yang agung dan Sab’ul Matsānī” tersebut diberikan oleh perdana menteri Ali Ridho Pasha (pemerintah saat itu)

Tafsir Rūh al-Ma’ānī menggunakan metode analitis (tahlili) dalam penyampaian penafsirannya. Metode ini mengandaikan sebuah penafsiran atas suatu ayat yang ditinjau dari berbagai segi seperti sebab turunnya (asbabun nuzul), unsur sastra (balaghah), kajian bahasa (nahwu dan sharraf), nasikh mansukh, dan lain-lain. 

Tafsir ini lengkap mengurai penafsiran al-Qur’an sesuai tartib Utsmani, yakni berurutan dari surat al-Fatihah hingga surat al-Nas

Dalam penafsirannya, terkait sumber yang digunakan, tafsir ini digolongkan sebagai tafsir bi al-Ma’tsur, tafsir menggunakan atsar, hal ini dikarenakan karya penafsirannya tidak lepas dari pengutipan al-Qur’an, Hadis serta mufassir-mufassir sebelumnya dalam menjelaskan sebuah ayat. 

Tafsir-tafsir seperti tafsir al-Muharrar al-Wajiz karya Ibnu Athiyyah, tafsir Bahrul Muhith karya Abu Hayyan, Tafsir al-Kassyaf karya al-Zamakhsyari, tafsir al-Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil karya al-Baidhawi, tafsir Mafatih al-Ghaib karya Ar-Razi dan lain-lain menjadi rujukannya dalam penafsiran. 

Sistematika Penyajian

Dalam penafsirannya, Al-Alūsī menggunakan sistematika sebagai berikut. Al-Alūsī menyebutkan ayat-ayat dalam al-Qur’an yang sesuai dengan tartib Utsmani, kemudian menerangkan kedudukan kaidah kebahasaan (nahwu), dilanjutkan dengan penafsiran menggunakan ayat-ayat lain, hadis-hadis Nabi Saw, pendapat para mufassir terdahulu serta syair-syair Arab yang menjelaskan makna ayat.

Instrumen-instrumen ilmu Al-Qur’an seperti balaghah, asbabun nuzul, munasabah ayat juga turut memperkaya penafsiran. Maisarotil Husna dalam jurnalnya menyebutkan bahwa tafsir ini mengandung corak tasawuf (isyari), yakni sebuah penafsiran yang mengandaikan adanya penafsiran makna zhahir dan batin atas suatu ayat.

Tafsir dengan nuansa interpretasi seperti ini, menurut analisisnya, diterima dengan syarat bahwa penafsiran tidak berlawanan dengan makna ayat, makna yang disampaikan benar, adanya pertalian (talazum) antara lafaz ayat dengan makna isyari yang disampaikan. (2020:123) 

Dalam hal ini Muhammad Husain al-Zahabi dalam tafsirnya al-Tafsir wa al-Mufassirun menggolongkan tafsir Rūh al-Ma’ānī sebagai tafsir bi al-Ra’yi al-Mahmud (tafsir berdasar ijtihad yang terpuji), alih-alih menggolongkannya sebagai tafsir Isyari, hal ini dikarenakan maksud utama penafsiran al-Qur’an bukan didasarkan dari upayanya menyingkapkan makna al-Qur’an berdasarkan isyarat-isyarat, melainkan berdasarkan apa yang dimaksud oleh riwayat yang shahih. 

Kendati ada yang bersifat isyari dalam penafsirannya, namun hal tersebut lebih sedikit dibanding yang bukan isyari. Tafsir bercorak tasawuf (isyari) meniscayakan adanya tuduhan menggunakan akal dalam penafsiran tersebut. Oleh karena itu maka Al-Alūsī berpendapat bahwa tafsir menggunakan ra’yu adalah hal yang diperbolehkan selama ia tidak didasari hawa nafsunya. 

Mengenai hadis riwayat Abu Daud yang menegaskan bahwa barangsiapa yang berpendapat tentang al-Qur’an tanpa ilmu maka ia akan ditempatkan di neraka tidak lantas menunjukkan keharaman tafsir bi al-Ra’yi.

Dalam hal ini, Al-Alūsī tetap mengedepankan pemaknaan tersurat terlebih dahulu (eksoteris) baru dilanjutkan dengan pemaknaan tersirat (esoteris).Hal ini lahir dari anggapannya bahwa hakikat tidak bisa dicapai kecuali dengan syariat terlebih dahulu. (Yeni Setianingsih, 2017:243, 249)

Hal ini bisa kita jumpai dalam penafsirannya berikut, di mana beliau memadukan penafsiran berdasarkan makna tersurat dengan makna tersirat.

Dalam al-Qur’an surat al-Rahman ayat 19-20 Allah Swt berfirman :

مَرَجَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ يَلۡتَقِيَانِ ١٩  بَيۡنَهُمَا بَرۡزَخٞ لَّا يَبۡغِيَانِ ٢٠

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing

Al-Alūsī menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan bertemunya dua lautan tersebut adalah laut Persia dan laut Romawi yang bertemu di Tengah. Masing-masing berkadar air asin dan tawar, dan keduanya tidak tercampur. Ini semua, ungkapnya, merupakan qudrah dan ketetapan dari Allah Swt. 

Kemudian Al-Alūsī juga makna batin atau penafsiran isyari dari dua lautan. Al-Alūsī menafsirkan dua lautan dalam ayat tersebut adalah, “Lautan langit yang kuat berada di atas dan lautan dunia yang kuat berada di bawah, yang keduanya dibatasi oleh hati.”

Akhir kata, tafsir Rūh al-Ma’ānī merupakan tafsir yang komprehensif dan efektif dalam membantu kita dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an. Beberapa ulama seperti Muhammad Husain al-Zahabi, ataupun mufassir lain seperti Ali al-Shabuni, Abu Syuhbah, Quraish Shihab, dan Rasyid Ridha menilai baiwa tafsir ini sangat layak untuk dijadikan rujukan dalam memahami makna yang dikandung dalam kitab suci al-Qur’an. (Ali Akbar, 2013:65).

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.