Featured

Tay Kak Sie, Kelenteng Megah dan Bersejarah di Kawasan Pecinan Semarang

Kota Semarang di Jawa Tengah terkenal dengan kawasan Kota Lama dengan banguna-bangunan kuno berarsitektur Eropa. Namun, jangan lupa bahwa tak jauh dari sana jiga terdapat kawasan pecinan yang kental dengan nuansa kebudayaan Tionghoa. Salah satunya adalah bangunan Kelenteng Tay Kak Sie.

Namanya mungkin tak sepopuler Sam Poo Kong yang tersohor di Semarang, ditambah lagi Kelenteng Tay Kak Sie berada di sebuah gang kecil yaitu Jalan Gang Lombok. Namun, rumah ibadah yang dibangun pada tahun 1746 ini juga termasuk kelenteng bersejarah dan memiliki keunikan tersendiri.

Menjelang imlek, biasanya dilakukan kegiatan bersih-bersih, terutama pada meja altar dan patung-patung Buddha beserta Dewa-Dewi, sebagai lambang penyucian diri umat Tri Dharma sebelum memasuki tahun baru.

Selain menjadi tempat beribadah, Kelenteng Tay Kak Sie juga biasa dikunjungi untuk kegiatan wisata. Sehingga siapa saja sebenarnya bisa berkunjung ke kelenteng ini untuk menikmati keindahan bangunan kelenteng yang megah ini. Wisatawan juga diperbolehkan berjalan-jalan di area kelenteng, tetapi pastikan untuk menjaga sikap dan tidak mengganggu.

Kelenteng Tay Kak Sie | @AGUSTINUS ARIF WIJAYANTO Shutterstock

info gambar

Kelenteng Tay Kak Sie pada awal berdirinya bernama Kelenteng Kwam Im Ting dan didirikan oleh seorang pedagang, Kho Ping dan Bon Wie dan kawan-kawannya. Pembangunan kelenteng mulanya bertujuan untuk memuja Kwan Sie Im Po Sat, Yang Mulia Dewi Welas Asih. Seiring berjalannya waktu, kelenteng ini juga digunakan untuk memujak berbagai Dewa-Dewi Tao.

Nama Tay Kak Sie berarti Kuil Kesadaran Agung, hal ini tertulis dalam papan nama besar di pintu masuk kelenteng. Lengkap dengan catatan tahun pemerintahan Kaisar Dao Guang 1821-1850 dari Dinasti Qing.

Tay Kak Sie merupakan kelenteng terbesar di Semarang dalam artian banyaknya dewata. Selain dewata tuan rumah Dewi Kwan Iem Po Sat, Dewa-Dewi lain yang dipuja di kelenteng ini yaitu Sam Koan Tay Te, Sam Po Hud, Thian Siang Seng Boo, Sam Po Tay Jin, Cap Pwee Lo Han, Po Seng Tay Te, Seng Hong Lo Ya, Kong Tik Cun Ong, Te Cong Po Sat, Jay Sin Ya, Thai Sang Lao Chin, Hian Thian Siang Tee, Hok Thik Ching Sin, dan Kwan See Tee Kun.

Setiap momen menjelang tahun baru Imlek, kelenteng ini rutin mengadakan upacara Siang Sin Giu Hok yang bertujuan untuk mengantar para Dewa-Dewi ke kayangan. Umat berkumpul dan membawa tampah berisi kertas doa yang kemudian dibakar dan tampah diayunkan. Abu dari bakaran kertas akan terbang ke langit dan mengantarkan para Dewa-Dewi ke kayangan. Umat juga berdoa agar diberkati dengan kondisi negara yang akan, tenteram, cuaca dan kesehatan yang baik, dan kelancaran hasil bumi.

Adapun tradisi-tradisi yang rutin diadakan jelang imlek di Kelenteng Tay Kak Sie adalah upacara Seng Sang Thian yaitu ritual para Dewa-Dewi ke kayangan menghadap Tuhan, upacara Seng Xia Thian setelah Imlek yaitu turunnya para Dewa-Dewi dari kayangan. Kemudian, ada pembagian angpao untuk para lansia dan pada kalendar Imlek bulan 5 tanggal 1, kelenteng akan menggelar upacara memperingati kedatangan patung Dewa Po Seng Tay Tee dengan arak-arak membawa patung dewa pengobatan tersebut sampai ke Pantai Marina. Tujuan upacara ini agar Kota Semarang selalu aman dan terbebas dari wabah penyakit.

Ada lagi pada tanggal 29 bulan 6 kalendar Imlek di mana kelenteng mengadakan upacara memperingati kedatangan Dewa Sam Po Tay Dien di Semarang. Patung Dewa tersebut akan dibawa ke Kelenteng Gedung Batu, disemayamkan di singgasana, kemudian pada siang hari dikembalikan ke Tay Kak Sie.

Kelenteng Tay Kak Sie juga sering menggelar pementasan Wayang Potehi, kesenian yang sudah ada sejak masa Dinasti Jin tahun 265-240 Masehi, sebagai persembahan untuk para Dewa. Wayang Potehi umumnya memiliki cerita berseri, seperti kisah sejarah klasik Kerajaan Cina.

Singkawang, Kota Toleransi dari Kalimantan dengan Panorama Seribu Kelenteng

Kelenteng dengan bangunan megah

Kelenteng Tay Kak Sie memiliki bangunan dengan konstruksi gaya China yang terlihat jelas pada bagian tiang penahan bangunan yang terbuat dari kayu bentuk segitiga. Dalam Bahasa Mandarin, sistem penahan bingkai tersebut disebut dou-dong dan berfungsi untuk menahan kasa-kasa bagian atap.

Ketika memasuki area kelenteng, di bagian depan akan terlihat patung Laksamana Cheng Ho dan di tepi sungai, pengunjung bisa melihat replika kapal Laksamana Cheng Ho yang tengah bersandar.

Kelenteng ini juga memiliki sumur langit, yaitu lubang di bagian atap kelenteng terbuka langsung menghadap ke langit. Sumur langit berfungsi sebagai altar utama dengan makna menyembah Tuhan Yang Maha Esa.

Bangunan kelenteng memiliki berbagai ornamen dan simbol-simbol. Misalnya, patung Buddha Gauama di bawah pohon Boddhi yang berarti rindang atau damai. Bagian atapnya berhiaskan sepasang naga yang sedang memerebutkan matahari. Dalam mitologi China, naga atau liong merupakan hewan yang melambangkan kekuatan, keadilan, dan penjaga benda-benda suci, sedangkan matahari adalah simbol mutiara alam semesta.

Di depan pintu masuk juga ada singa jantan dan betina yang melambangkan penolak bala, keadilan, dan kejujuran. Kemudian, ada lukisan sepasang panglima perang Qie Lan Pu Sa dan Wei Tuo Pu Sa. Tak jauh dari pintu masuk, pengunjung juga bisa melihat tempat abu hio besar yang diapit dua lilin yang tak pernah mati sepanjang tahun.

Untuk ruangan di kelenteng ini terbagi tiga, yaitu ruang tengah untuk pemujaan utama, yaitu tempat memuja Guan Yin Pu Sa yang didampingi Shan Cai. Kemudian, ada meja pemujaan Tri Ratna Buddha (Sam Poo Hud). Di ruangan sebelah kanan terdapat tempat untuk memuja Hok Tek Ceng Sin (Dewa Bumi), Hian Tian Siang Tee (Dewa Pengusir Setan), Koan Tee Kun (Dewa Keadilan), Jing Cui Co Su (Dewa Air), dan Te Cong Ong Po Sat (Dewa Pintu akhirat).

Kelenteng Tertua di Ibukota Tegaskan Harmonisnya Indonesia Dibalik Keragaman

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.