Keagamaan

Telaah Pemahaman Ayat Poligami Ala Ahmad Wahib  | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Poligami merupakan sebagian isu-isu yang seolah tidak pernah surut dari perbincangan. Terlebih maraknya konten-konten atau seminar tentang pranikah dan poligami, yang pada akhirnya menganjurkan poligami dengan berbagai argumentasi yang diajukan. 

Tidak ketinggalan Agama juga ditampilkan sebagai dalih poligami dengan ayat Al-Qur’an yang menurutnya menganjurkan poligami. Oleh karenanya, penting untuk mengkaji ulang ayat yang terkesan mendukung praktik poligami. Dengan berbagai macam pendekatan. Namun, tulisan ini hanya ingin mengulas dan meneropong ayat poligami melalui konsep “Sejarah Nabi”.

Konsep yang pernah diajukan seorang pembaharu Indonesia tahun 70-an yaitu Ahmad Wahib.  Menurut Ahmad Wahib sumber hukum Islam adalah Sejarah Nabi Muhammad. sedangkan Al-Qur’an dan hadits bagian kecil dari sejarah kehidupan beliau. 

Komponen lainnya yaitu mencakup struktur Masyarakat, ekonomi, kebudayaan, sistem pemerintahannya, hubungan luar negeri, adat istiadat dan lain-lain (Ahmad Wahib mengatakan “lain-lain” yang saya tafsiri sebagai “kondisi psikologi masyarakat” waktu itu).

konsep ini dibahas oleh Ahmad Wahib dalam bukunya Pergolakan Pemikiran Islam dalam beberapa tempat [103/124/ 175]. (Baca juga: Ahmad Wahib: Mencatat Pemikiran dalam Catatan Harian)

Dari perspektif ini, maka memahami hal-hal yang berkaitan dengan keislaman tidak cukup hanya dengan memahami ayat saja atau dengan asbabun nuzul khas. Termasuk dalam memahami ayat poligami, tidak cukup hanya memahami asbabun nuzul yang berkaitan dengan ayat secara spesifik. 

Apa lagi hanya memahami ayat itu secara skripturalistik. Maka mengkaji ayat poligami melalui konsep “Sejarah Nabi” – konsep Ahmad Wahib – diharapkan mendapatkan pemahaman yang lebih sesuai dan tidak sejanggal sebagaimana pemahaman kebanyakan selama ini.

Adapun ayat poligami tertuang di dalam Al-Qur’an surat Al-Nisa sebagaimana berikut

{وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً} 

“Dan jika kalian khawatir tidak berlaku adil pada anak-anak yatim itu maka nikahilah wanita-wanita yang baik (selain mereka), dua atau tiga atau empat maka jika kalian khawatir tidak adil maka cukup satu aja…” [QS. An-Nisa: 3]

Dari ayat di atas, maka ada beberapa pertanyaan terkait ayat tersebut. sekurang-kurangnya ada tiga pertanyaan yang mencuat. Pertama, kenapa Tuhan memerintahkan poligami? 

Kedua, apa hubungannya perintah poligami dan khawatir dengan harta anak yatim? Ketiga, apakah perintah Tuhan tentang poligami menunjukkan wajib, sunnah dan boleh, bahkan makruh?

Jika kita menggunakan analisis melalui “sejarah Muhammad” maka tidak akan mencukupkan kepada asbabun nuzul yang spesifik (mikro) melainkan akan melibatkan seluruh aspek atau komponen yang berkaitan dengan kehidupan Nabi Muhammad itu sendiri (asbabun nuzul makro). Oleh karenanya, akan dimulai dari roda ekonomi pada masyarakat saat ayat itu diturunkan atau bangsa Arab pada umumnya.

Roda Ekonomi

Sebagaimana yang kita tahu dalam kitab-kitab sejarah disebutkan bahwa peredaran perekonomian bangsa Arab didominasi oleh laki-laki. Seluruh sumber ekonomi mulai dari perniagaan, ternak tani dan produksi dikuasai laki-laki. 

Bahkan sebelum Islam datang, hanya laki-laki yang mempunyai hak kepemilikan perempuan dinegasikan. Setelah Islam datang kepemilikan perempuan diakui namun tetap dikuasai laki-laki sebab dalam masa-masa pemulihan. Hanya segelintir perempuan yang memiliki pengaruh dalam bidang ekonomi misalnya Siti Khadijah istri Nabi Muhammad.

Meski perempuan mempunyai kepemilikan harta namun akses untuk mendapatkannya sangat sempit misal bisa melalui warisan, hadiah. Dalam ayat tersebut, Tuhan juga membicarakan soal harta dimana seorang perempuan memiliki harta sementara ia masih berada dibawah asuhan walinya. 

Sehingga wali yang mengasuh memiliki motif untuk merebut harta didukung dengan sosial dimana perempuan masih dianggap tidak layak memiliki harta sebagaimana tradisi sebelum Islam datang.   

Struktur Sosial

Dalam struktur sosial kebudayaan orang Arab, perempuan dianggap lemah dan masyarakat kelas dua sehingga butuh “perlindungan” dari laki-laki. Stigma negatif terhadap perempuan seolah tidak terlepaskan. 

Oleh karena itu, ada semacam tradisi di mana anak-anak khususnya perempuan oleh orang tuanya kebanyakan dititipkan kepada sahabatnya ketika bapak kandungnya itu ingin keluar rumah karena beberapa kepentingan semisal bererang berdagang dan lain semacamnya, atau lebih dikenal dengan istilah isha’. 

Di sisi lain, poligami sudah ada sebelum Islam datang, bahkan praktek poligami di masa itu tidak mengenal batas tertentu. Akibatnya, tidak sedikit perempuan-perempuan sengsara dibuatnya karena dilematis. 

Satu sisi perempuan itu seorang istri yang seluruhnya bergantung kepada suami. Di sisi lain, perempuan tersebut terbengkalai sebab suaminya terlalu banyak istri. Tercatat sejarah bahwa Ghilan ketika masuk Islam memiliki sepuluh istri. Sahabat yang lain memiliki lima istri.  

Dari pemaparan di atas, maka sesungguhnya ayat tersebut – ayat poligami sebagaimana anggapan selama ini – justru ayat itu menganjurkan sebaliknya yaitu “monogami”. Abdul Wahhab Khallaf misalnya, mengungkapkan dalam kitabnya Ushul Fikih [143-145] bahwa tujuan asasi dari ayat ini adalah pembatasan jumlah istri maksimal empat yang asalnya tidak terbatas. 

Tujuan asasi lainnya, wajib mencukupkan satu istri sekiranya tidak akan mampu berlaku adil. Sementara, tujuan yang bersifat logis boleh menikahi perempuan yang baik. (Baca juga: Poligami dalam Islam: Kompromi antara Syariat Nabi Musa dan Nabi Isa)

Sudah barang tentu, monogami pada masa itu adalah membatasi maksimal empat bukan satu sebab memertimbangkan psikologi masyarakat saat itu.  dimana praktik poligami tanpa batas sudah mendarah daging sehingga akan menimbulkan problem tersendiri jika secara konfrontasi langsung membatasi hanya satu istri. 

Implikasinya, ajaran islam sulit diterima oleh mereka yang suka poligami yang dominannya adalah penguasa yang memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat. Ayat itu sejatinya, mengungkapkan fenomena sosial yang terjadi saat itu bukan untuk menggelindingkan atau melegalkan poligami.

Sedangkan relasi antara ayat tersebut, dimana poligami dikaitkan dengan harta-harta anak yatim sesungguhnya tuhan memberikan sindiran keras kepada para wali asuh yang zalim. 

Sebagaimana ditegaskan oleh Abdul Wahhab Khallaf bahwa Tuhan seolah-olah berpesan kepada laki-laki khawatir tidak bisa berlaku adil dalam urusan hartanya anak yatim yang berada di bawah asuhannya maka seyogyanya lebih khawatir lagi tidak akan bisa berbuat adil dalam urusan poligami yang tidak terbatas dengan batas maksimal empat dan jika masih khawatir tidak akan adil maka cukup satu saja.

Akan tetapi, kebolehan poligami hanya merupakan konsekuensi logis dari ayat tersebut bukan tujuan asasi ayat diturunkan. Oleh karena itu, asal dalam perkawinan adalah monogami sementara poligami dibolehkan sekiranya ada alasan yang dibenarkan syariat dan senyampang tidak menyakiti perempuannya. 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.