Serbaserbi

Jelang 1 Abad Nahdlatul Ulama

MUHYIDDIN

Nadhdlatul Ulama genap berusia 96 tahun. Ormas tersebut kini menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks. Jam’iyyah diharapkan bisa menyongsong abad kedua.

Napak Tilas Sejarah NU

Secara bahasa, Nahdlatul Ulama (NU) berarti ‘kebangkitan ulama’. Organisasi masyarakat Islam yang mengusung paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja) itu kini mencapai usia hampir 100 tahun.

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf, jam’iyyah ini tepatnya berumur 96 tahun. Itu apabila merujuk pada sistem penanggalan Masehi.

Sejarah mencatat, NU berdiri sejak 31 Januari 1926. Kota Surabaya, Jawa Timur, menjadi tempat bagi Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari beserta sejumlah ulama tradisional untuk merintis ormas tersebut.

Kalau melihat pada kalender Hijriyah, lanjut sang ketua umum, NU sudah melewati masa 99 tahun. Artinya, hanya satu tahun lagi pergerakan Aswaja itu menggenapi abad pertama dan sekaligus menyongsong abad kedua.

“Menurut penanggalan Hijriyah, usianya (NU) sudah 99 tahun. Nah, tanggal 16 Rajab itu pas 17 Februari 2022 ini,” ujar ulama yang akrab disapa Gus Yahya itu saat ditemui Republika di Kantor Pusat PBNU, Jakarta, baru-baru ini.

Alumnus Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta itu mengatakan, NU selalu konsisten mengupayakan kemajuan umat Islam. Di samping itu, peran ormas ini juga mengawal cita-cita Indonesia sebagai sebuah negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Bahkan, tegaknya RI tidak lepas dari kiprah dan perjuangan para alim ulama jam’iyyah ini.

Dalam rangka peringatan hari lahir (harlah) NU, Gus Yahya mengajak seluruh warga bangsa, khususnya Nahdliyin, untuk mengingat kembali sejarah pembentukan ormas tersebut. Awal dari berdirinya NU ialah keberadaan sebuah organisasi yang terbentuk pada 1916.

Nahdlatul Wathan (NW), begitu nama perkumpulan itu, menjadi tempat berkumpulnya para santri dan cendekiawan Muslim. Mereka memiliki semangat yang sama, yakni kebangkitan umat Islam untuk melawan penjajahan.

Pada 1918, NW berkembang menjadi Taswirul Afkar. Nama lainnya ialah Nahdlatul Fikri, yang berarti ‘kebangkitan pemikiran.’ Transformasi itu mengakomodasi kian banyaknya kaum muda Muslim terpelajar. Mereka menjadikan organisasi itu sebagai wahana pendidikan keagamaan Islam serta sosial-politik kebangsaan.

Selanjutnya, terbentuklah Nahdlatut Tujjar. Seperti tampak pada namanya, pergerakan itu menghimpun kaum saudagar Muslim yang ingin membangkitkan perekonomian umat. Maka dalam dasawarsa pertama abad ke-20, tanda-tanda kebangkitan umat Islam tradisional kian mengemuka. Penggerak utamanya muncul dari kalangan cendekiawan dan pedagang.

KH Abdul Wahab Hasbullah (1888-1971) merupakan seorang tokoh utama di balik organisasi-organisasi “kebangkitan” (nahdlah) tersebut. Ulama kelahiran Jombang, Jawa Timur, itu juga turut aktif dalam pelbagai upaya konsolidasi kekuatan umat se-Tanah Air.

Hal itu tampak, antara lain, pada kontribusinya dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII —disebut pula Kongres al-Islam) IV di Yogyakarta pada 21-27 Agustus 1925. Saat itu, para pemuka Muslim di Indonesia larut dalam diskusi hangat tentang efek runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmaniyah.  

“Menjelang didirikannya NU, ada suatu momentum sejarah luar biasa yaitu runtuhnya Turki Utsmaniyah, yang selama tidak kurang dari 700 tahun berfungsi sebagai tulang punggung peradaban Islam,” kata Gus Yahya.

Maka, peserta Kongres al-Islam itu juga turut membicarakan peristiwa itu. Salah satu hal yang menjadi perhatian ialah situasi di Haramain. Sebab, jatuhnya Utsmaniyyah memunculkan konflik antara para pendukung Ibnu Saud di satu pihak dan simpatisan Syarif Husein di pihak lain.

Masing-masing berebut pengaruh politik utamanya atas wilayah Hijaz. Pada 1925, menjadi jelaslah bahwa kubu Ibnu Saud memenangkan perseteruan. Sebagai catatan, penguasa Arab itu berhaluan Wahabi.

Dalam Kongres al-Islam IV, Kiai Hasbullah mengusulkan pengiriman delegasi dari Indonesia ke Hijaz. Tujuannya meminta jaminan dari pemimpin yang pro-Wahabi itu, praktik-praktik Islam tradisional masih boleh dilaksanakan di Tanah Suci. Namun, kubu modernis menolak usulan tersebut. Penolakan itu mengundang kekecewaan dari sebagian hadirin yang merepresentasikan ulama-ulama tradisional atau pesantren.

Maka kelompok kiai pesantren memutuskan untuk keluar dari Kongres al-Islam. Mereka lantas membentuk Komite Hijaz. Adanya forum baru itu diharapkan dapat memuluskan rencana pengiriman delegasi kepada Raja Saud. Penguasa Hijaz itu diimbau untuk tidak mengekang aktivitas Islam Aswaja di Arab, khususnya Haramain. Komite Hijaz diketuai Kiai Hasbullah.

Memasuki tahun 1926, eksistensi Komite Hijaz menginspirasi Kiai Hasbullah. Ia membayangkan adanya sebuah organisasi yang menyatukan alim ulama tradisional di Tanah Air. Bagaimanapun, penggubah syair “Ya Lal Wathan” itu tidak berani mendeklarasikan sendiri. Dia pun menyampaikan gagasan tersebut kepada gurunya, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari.

Kiai Hasyim tidak langsung menerima atau menolak usulan dari muridnya itu. Sang pendiri Pondok Pesantren Tebuireng lantas meminta pertimbangan (istisyarah) dari gurunya, Syaikhona KH Khalil Bangkalan. Sampai di sini, peranan dari sesama santri Kiai Khalil, yakni KH Raden As’ad Syamsul Arifin, amatlah besar.

Ulama yang berdarah bangsawan itu menyampaikan isyarat dari Kiai Khalil kepada pengasuh Pesantren Tebuireng itu. Penanda yang dimaksud ialah tasbih. Tidak sedikit pun tangan Kiai As’ad menyentuh benda yang dikalungkan pada lehernya itu. Ia sendiri menempuh perjalanan darat dari Bangkalan ke Tebuireng dengan berjalan kaki.

“Apakah ada pesan lain lagi dari Bangkalan?” tanya Kiai Hasyim setelah mengambil tasbih dari lingkar leher sahabatnya itu.

Kiai As’ad hanya menjawab dengan berzikir, “Ya Jabbar, Ya Qahhar.” Dua asmaul husna tarsebut diulang-ulangnya sebanyak tiga kali, sesuai pesan Kiai Khalil.

Kiai Hasyim lalu berkata menafsirkan pesan gurundanya itu, “Allah SWT telah memperbolehkan kita untuk mendirikan jam’iyyah.”

Ada pula kisah lain. Di samping tasbih dan zikir, isyarat berbeda juga pernah disampaikan kepada Kiai Hasyim. Kisahnya terjadi pada akhir tahun 1924. Kiai As’ad diminta Kiai Khalil untuk mengantarkan sebuah tongkat ke Tebuireng.

Penyampaian tongkat itu disertai dengan pesan untuk membacakan surah Thaha ayat 17-23 sesampainya di Tebuireng. Firman Allah itu menceritakan mukjizat Nabi Musa AS. Saat Kiai Hasyim menerima kedatangan Kiai As’ad dan mendengarkan ayat tersebut dibacakan, hatinya langsung bergetar.

“Keinginan untuk membentuk jam’iyyah agaknya akan tercapai,” ujarnya sembari meneteskan air mata.

Maka pada 16 Rajab 1344 Hijriyah atau bertepatan dengan 31 Januari 1926 M, Kiai Hasyim mengadakan rapat bersama sejumlah ulama di Surabaya, Jawa Timur. Semuanya bersepakat untuk membentuk organisasi.

Mufakat telah dicapai. Hadirin lalu mendiskusikan perihal nama organisasi yang hendak didirikan. Turut serta dalam pertemuan ini ialah Kiai Mas Alwi, yang juga murid Kiai Khalil. Ulama yang berusia 35 tahun itu lantas mengusulkan nama Nahdlatul Ulama.

“Mengapa harus pakai nahdlatul? Kok tidak jam’iyah ulama saja?” tanya Kiai Hasyim.

“Karena tidak semua kiai memiliki jiwa nahdlah (bangkit). Ada kiai yang sekadar mengurusi pondoknya saja, tidak mau peduli terhadap jam’iyah,” jawab Kiai Mas Alwi.

Mendengar jawaban yang mantap itu, hadirin menyatakan setuju. Maka diputuskanlah bahwa nama organisasi ini adalah Nahdlatul Ulama.

Terus lestari

Kelahiran NU merupakan wujud respons yang ditunjukkan kalangan ulama tradisional terhadap tantangan zaman awal abad ke-20 di Tanah Air. Pada faktanya, jam’iyyah ini terus lestari, melewati masa demi masa.

Pada era kolonialisme, ormas Islam itu menjadi salah satu yang terdepan dalam melawan penjajahan. Menjelang kemerdekaan RI, banyak tokoh Nahdliyin yang menjadi pendiri bangsa (founding fathers). Mereka dengan sigap berjuang mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Begitu pula tatkala negara ini melalui era Orde Lama dan Orde Baru. NU memiliki pengaruh yang besar dalam menentukan dinamika sosial dan politik Indonesia. Tentunya, kontribusi ormas tersebut di ranah dakwah dan pendidikan tidak kurang pentingnya.

Setiap zaman akan selalu memunculkan persoalan dan tantangan baru. Dengan kebersamaan dan sikap optimistis, warga NU terus berikhtiar untuk mampu mengatasi hal tersebut. Visinya ialah menjadikan Indonesia sebagai negeri yang baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur.

KH Afifuddin Muhajir mengatakan, NU dalam menyambut abad kedua haruslah menggiatkan pembaruan pada pelbagai bidang, utamanya keagamaan dan ekonomi. Kiai sepuh itu berharap, peringatan Harlah ke-19 NU benar-benar menjadi momentum kemajuan.

“Yang perlu dilakukan ya proses tajdid, pembaharuan itu,” ujar Kiai Afif kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini, pada setiap akhir 100 tahun orang yang melakukan pembaruan untuk umat” (HR Abu Dawud).

Kiai Afif menjelaskan, Allah akan mengutus orang yang dapat memperbaharui pada setiap masa satu abad. Karena itu, lanjutnya, para tokoh Nahdliyin hendaknya merenungi hadis tersebut. Paling tidak, timbul semangat untuk terus mengupayakan tajdid pemikiran. Dengan begitu, NU akan selalu relevan kini dan di masa depan.

“Kalau mau tetap eksis, tetap memainkan peranan signifikan, maka harus ada tajdid, pembaharuan di berbagai bidang. Itu baik dalam persoalan agama maupun dalam hal-hal lainnya,” kata sosok yang akrab disapa Kiai Khofi itu.

Ia menambahkan, peringatan Harlah NU sesungguhnya dalam rangka ihya, yakni menghidupkan kembali. Tidak sekadar tajdid. “Jadi, apa-apa yang sudah semangat dibuat semangat kembali, dan kalau ada yang kurang sempurna, maka disempurnakan lagi.” Rol

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.