Featured

Mereka yang Dilupakan: Kisah Keluarga-Keluarga Pasien Covid-19 yang Kematiannya Dihilangkan Pemerintah

DUA BULAN KE BELAKANG, jalan-jalan di sepanjang Kota Surabaya dan Malang mulai sibuk. Hiruk pikuk warga mulai berjalan seperti semula, seperti sebelum tahun pandemi tiba. Pusat-pusat perbelanjaan mulai dijejali manusia; perhelatan berskala kecil, konser, dan lain-lain mulai kembali digelar.

Munaji, seorang koordinator lapangan penggali kubur TPU Keputih, Surabaya, berkata belakangan pekerjaannya pun lebih longgar, “Terakhir memakamkan jenazah [karena Covid-19] akhir September, kalau nggak awal Oktober.” Ia mulai bisa santai, sesekali pulang ke rumah, kali ini tanpa perasaan was-was.

Menengok lagi ke belakang, tak terbayangkan sebelumnya lelaki yang akrab disapa Mbah Ji ini bakal setiap hari menguburkan jenazah tanpa henti. 

Pada Agustus silam, saat saya menemuinya, Mbah Ji tak sempat sekalipun mengambil jatah libur selama tiga bulan. Dalam satu hari, ia bahkan pernah menguburkan puluhan hingga ratusan jenazah. 

“Bulan Juli itu benar-benar luar biasa. Kami bekerja dari pagi ketemu pagi. Sepanjang pengalaman 25 tahun sebagai tukang gali kubur,” katanya, “saya enggak pernah melihat kematian sebanyak ini. Saya sampai bingung sendiri.”

Pada Juli, TPU Keputih penuh sesak. Pada bulan itu ada sekitar 3.500 jenazah yang dikuburkan dengan protokol kesehatan Covid-19; dengan status positif atau probable. 

Pihak pemakaman mesti membuka lahan baru demi menampung jenazah yang datang berduyun-duyun. Dan jenazah-jenazah ini mesti mengantre berjam-jam untuk waktu pemulasaraan; sebagaimana terjadi di banyak kota dan daerah di Pulau Jawa.

Petugas memakamkan korban meninggal akibat Covid 19 di TPU Keputih Surabaya. (Project M/Ivan Darski)

Enam bulan lalu, Yeni tak menyangka dipaksa menerima kenyataan menyakitkan. Sejak awal Juli, ketika ayahnya dirawat di ruang isolasi Covid-19 di RSUD Dr. Soetomo, pikirannya tak pernah jenak. Ia menghadapi kesunyian yang asing saat menengok dipan kosong, tempat tidur ayahnya, tepat di depan kamarnya. Air matanya selalu meleleh; tengah malam selalu tergeragap seakan baru bangun dari mimpi buruk; berharap ada kabar baik menyapanya dari rumah sakit dalam penantiannya selama dua pekan. 

Pada pagi hari, 18 Juli, Yeni baru terlelap selepas salat subuh ketika dering telepon dari ponselnya mendadak membangunkannya. Di ujung telepon, suara seorang petugas rumah sakit bernada datar mengabarkan: “Mbak Yeni dan keluarga, yang tabah, ya. Bapak Mbak Yeni sudah nggak sakit lagi.” 

Lidahnya seketika kelu, lalu ia mendengar suaranya sendiri berteriak histeris; membangunkan adik dan ibunya. “Dunia seolah runtuh. Kami nggak bisa ngapain-ngapain. Cuman berpelukan. Buat menangis pun udah gak punya tenaga,” kenang Yeni.

“Saya juga enggak menyangka. Bapak itu sehat dan taat pakai masker. Tapi kerjanya di gudang, jadi intens ketemu orang. Enggak ada pilihan buat libur, kan? Bosnya bapak juga meninggal hari itu,” ujar Ibu Yeni. “Kami orang kecil. Nggak semua [pekerjaan] bisa digarap dari rumah, kan?”

‘Menghilangkan’ Kematian

Kematian ayah Yeni pada bulan paling mencekam selama pandemi itu tak tercatat dalam angka kematian pasien Covid-19 yang dilaporkan Pemerintah Kota Surabaya. Bahkan, pada 18 Juli itu, Pemkot Surabaya mengumumkan tak ada kematian kasus Covid-19.

“Di kampung, toa di masjid-masjid mengumumkan kabar kematian tetangga. Sering sekali. Saya enggak menyangka kalau suatu hari tiba giliran nama bapak disebut. Rasanya hati kami remuk,” kata Yeni. 

Ketika di akar rumput dampak pandemi begitu kentara, Pemkot Surabaya kerap berbohong menghilangkan angka kematian menjadi 0 kasus lewat akun instagram-nya. Setidaknya ada 12 hari pada bulan Juni, dan dua hari pada bulan Juli (14 & 18 Juli), yang dilaporkan nol kasus kematin Covid-19 oleh Pemkot Surabaya.

Laporan itu terasa ganjil jika dibandingkan kondisi di lapangan. Selama Juni dan Juli, orang-orang berebut ruang berobat. Di gerai-gerai oksigen, manusia mengantre. Di pemakaman, ambulans bergantian menguburkan jenazah dengan protokol kesehatan sepanjang hari. 

Aditya Cakasana, seorang dokter jaga unit gawat darurat di salah satu rumah sakit Surabaya, berkata pada bulan-bulan itu, rumah sakit kewalahan menampung pasien. “Banyak yang meninggal. Banyak orang yang harusnya di kondisi normal bisa kita selamatkan jadi tidak bisa diselamatkan.” 

Febriadhitya Prajatara, Kepala Humas Pemkot Surabaya, berdalih laporan nol kematian pasien Covid-19 adalah problem “delay” belaka. “Itu kejadian sudah lalu. Ketika di tanggal itu [dirilis] 0 kasus, bisa saja sebetulnya nol kasus itu terjadi dua minggu lalu.”

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, juga melemparkan problemnya pada perkara teknis. Ia berdalih kematian pasien Covid-19 yang statusnya suspect dan probable, tidak bisa dilaporkan ke aplikasi milik Kemenkes, New All Record. “Kenapa tidak masuk datanya? Karena yang meninggal ini adalah orang yang belum di-swab, baik itu PCR maupun antigen,” kilahnya. 

Namun, argumen Eri Cahyadi itu cacat. 

Berdasarkan dokumen dari sumber internal Pemkot Surabaya, ada dua pasien Covid-19 meninggal pada 14 Juli. Satu almarhum memiliki bukti konfirmasi positif Covid-19 dari hasil PCR yang dirilis 11 Juli; dan satu lainnya, terkonfirmasi positif pada 14 Juli. 

Sementara, pada 18 Juli, ada tiga orang dinyatakan meninggal; hasil positif Covid-19 dari tes swab ketiga almarhum telah dirilis pada 3, 9 dan 18 Juli.

Eri sempat melempar dalih lain bahwa ada perbedaan sikap dan pandangan antara Pemkot Surabaya dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam “membaca data.” Namun, argumen ini juga cacat. Laporan angka kematian yang dirilis Pemprov Jatim serupa dengan yang dirilis Pemkot Surabaya.

Sementara Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim mengumumkan tak ada kematian pasien Covid-19 pada 18 Juli, di pemakaman Babat Jerawat, Yeni dan keluarga harus mengantre berjam-jam untuk menunggu pemulasaraan jenazah sang ayah. 

“Lalu, kasus kematian bapak saya itu dianggap sebagai apa? Bapak sampai meninggal pun masih terkonfirmasi positif Covid-19. Bapak itu baru bisa dimakamkan sekitar jam 8 atau jam 9 malam. Antrean banyak banget di pemakaman saat itu,” kata Yeni.

“Kenapa Kematian Ayah Saya Seolah Ditutupi?’

Menyembunyikan angka kematian pasien Covid-19 juga dialami Mega Mustika, warga Tandes, Surabaya. Ayahnya, Sudirman, meninggal dunia di Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Ramelan pada 13 Juni 2021. Ia baru tahu ayahnya berpulang tujuh hari setelahnya. 

“Saya waktu itu sedang diisolasi di rumah sakit, sama bayi saya yang baru berusia satu bulan. Pada malam sebelum ayah saya meninggal, dia seolah datang kepada saya. Dia mengatakan, ‘Bapak pulang, ya, Nduk. Bapak wis waras [sudah sembuh].” 

“Itu antara mimpi atau tidak saya enggak tahu,” kisah Mega. “Itu semacam saya ngelamun. Saya dibangunkan suster karena waktu itu posisinya lagi menyusui si bayi.” 

Keluarga Mega baru buka suara setelah mendesak keadaan ayahnya yang setahu dia masih diisolasi di RSAL Dr. Ramelan. Ia penasaran sebab banyak anggota keluarganya yang memacak foto sang ayah dan mengucap salam perpisahan. Sekaligus ada banyak pesan mengucapkan belasungkawa ke WhatsApp Mega. 

Tetapi, ketika ia bertanya kepada pengirim, semuanya membisu. Dan tak ada yang mengangkat teleponnya. 

“Saya tahu [ayah saya telah meninggal] dari saudara saya. Aduh, rasanya dengkul saya lemas. Sampai pingsan,” kenang Mega.

Kematian Sudirman meninggalkan luka mendalam bagi keluarga Mega. 

Sepeninggal ayahnya, kondisi ekonomi keluarga Mega kian terpuruk. Mereka sempat terlilit utang; tak bisa menebus ijazah sekolah adiknya yang baru lulus SMA. Untuk menyambung hidup, kini keluarga Mega hanya bergantung pada usaha kecil-kecilan makanan ringan yang dipasarkan di kampung. 

“Semua tabungan habis untuk biaya menebus obat bapak, beli oksigen yang habisnya 3-4 jam sekali. Sebelum akhirnya diisolasi di rumah sakit.” 

“Suami saya gajinya juga pas-pasan. Nggak cukup buat menambal kebutuhan sehari-hari. Belum lagi stigma warga yang mencap keluarga kami seolah sebagai virus, semakin membuat dagangan jadi seret. Hidup makin sulit sejak ayah pergi,” kata Mega. 

Ketika ada tetangga terkena Covid-19, keluarganya dianggap warga kampung sebagai biang kerok. “Kalau saya lewat, semua orang tutup hidung dengan baju mereka dan ngomong ‘Awas Covid!’, padahal mereka nggak pakai masker. Nggak ada dukungan dari orang sekitar. Itu adalah salah satu titik terendah hidup saya.”

Mega beserta anak dan ibunya memegang foto bapaknya yang meninggal akibat Covid-19 di Surabaya. (Project M/Ivan Darski)

Mega sempat melayangkan sepucuk surat kepada Wali Kota Kota Surabaya Eri Cahyadi. Ia menulis surat disaksikan putri sulungnya: Kenapa kematian ayah saya karena Covid-19 seolah ditutupi?

Pada 16 September 2021, tiga petugas Pemkot Surabaya mendatangi kediaman Mega. Namun, alih-alih memberikan jawaban, para petugas justru mencecar pertanyaan: Dari mana ia dapat data? Siapa jurnalis yang memberikan data? Dan seterusnya. 

Tetapi, yang keluarga Mega butuhkan, bukan itu; melainkan kejelasan data tentang bagaimana pencatatan nasib ayahnya. Sekaligus, mungkinkah keluarganya mendapatkan bantuan dana subsidi dari pemerintah? 

Rupanya, harapan itu kosong belaka. Hingga hari ini, dana santunan itu tak pernah didapatkan Mega. “Jujur saja, saya butuh itu. Sudah enggak ada tulang punggung. Kemarin juga ada dari Disnaker katanya mau beri pelatihan buat adik saya. Tapi nggak sekarang. Tahun depan. Semoga betul-betul ada, ya.” 

 “Yang jelas saya sangat sangat kecewa. Sangat sedih sekali karena merasa kematian ayah saya tidak dianggap. Atau, dipikir mengada-ada. Padahal benar-benar ayah saya meninggal karena Covid-19 dan itu ada suratnya benar-benar meninggal pada 13 Juni,” kata Mega.

Saat laporan ini dirilis, Pemkot Surabaya menolak menjawab permintaan data kematian akibat Covid-19 sepanjang Juni dan Juli 2021 kepada Reno Surya, kontributor Project Multatuli.

Mendadak Yatim Piatu 

Menengok lagi ke belakang, upaya pembohongan lewat data kematian pasien Covid-19 tak cuma dirilis Pemkot Surabaya saja. Pemerintah kota Malang pun sama saja: melaporkan nol kasus kematian pada tiga hari bulan Juni dan sembilan hari bulan Juli. 

Salah satu yang dihilangkan dari data kematian pasien Covid-19 adalah keluarga Suparman, pensiunan TNI Angkatan Udara yang berpulang pada 2 Juli 2021. 

Tabing Kautsar, cucu Suparman yang berusia 15 tahun, mengisahkan hanya dalam dua pekan, ia mesti kehilangan kakek dan pamannya. Namun kematian keduanya tidak dicatat Pemkot Malang.  

“Jelas-jelas sudah terkonfirmasi positif sampai meninggal, dan keduanya sempat dirawat di rumah sakit,” kata Tabing. “Apalagi waktu itu kami satu rumah positif. Jadi bebannya dobel. Berusaha sembuh, tapi down ketika tahu keluarga meninggal.” 

Tabing adalah cucu pertama Suparman. Ia sangat dekat dengan kakeknya, kata ibu Tabing. “Kakek selalu punya cerita-cerita yang seru. Pakde juga orangnya suka bercanda. Keduanya bikin suasana rumah terasa ramai dan hidup. Sekarang jadi sepi. Tinggal ada aku dan Ibu. Bapak, kan, bekerja, enggak selalu ada di rumah.”

Tabing Kautsar memegang foto kakek dan pakdenya yang meninggal akibat Covid-19 di Malang. (Project M/Ivan Darski)

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, beralasan laporan nol kematian pasien Covid-19, termasuk yang menimpa keluarga Suparman, adalah masalah “keterlambatan” pelaporan, juga melemparkan masalah teknis pada aplikasi New All Record (NAR) Kementerian Kesehatan. Meski begitu, ia mengkui laporan angka kematian Covid-19 Pemkot Malang tidak berdasarkan data riil di lapangan.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia Jawa Timur, Sutrisno, berkata akurasi data pemerintah tidak layak dijadikan rujukan pengambilan kebijakan. “Coba lihat ke kuburan, hampir 20-30 kali lipat dari data yang ada di meja pemerintah,” katanya. 

Pada Juli 2021, Pemkot Malang melaporkan 125 kasus kematian. Tetapi, berdasarkan dokumen pemulasaraan jenazah, ada 699 jenazah, 385 di antaranya positif Covid-19, yang dimakamkan dengan protokol kesehatan. Artinya, ada 260 kasus kematian tak tercatat dan diabaikan Pemkot Malang. 

Salah satu nama tak tercatat itu adalah Nur Hidayat. Putrinya, Hayyu Dwi Cahyani, mendadak menjadi yatim piatu. Orangtuanya meninggal hanya dalam waktu dua hari. 

“Tanggal 7 Juli, ayah diantar ke RS. Hermina. Kondisinya masih segar dan bisa jalan sendiri. Masuk pada 13 Juli, subuh hari, ayah dikabarkan kritis. Jam 6.30, ayah meninggal,” kenang Hayyu.

“Lalu, selang dua hari, ibu menyusul.”

Hayyu bersama anak dan suaminya memegang foto orangtuanya yang meninggal akibat Covid-19 di Malang. (Project M/Ivan Darski)

Bagi pemerintah, tingginya angka kematian warganya akibat Covid-19 seolah menjadi aib yang mesti disembunyikan rapat-rapat. Nama-nama mereka yang meninggal dihapus dan diabaikan demi terlihat paling beres menangani pandemi Covid-19. 

Tetapi, ongkos tiket menonton aksi akrobat pemerintah adu poles data itu adalah nyawa warganya. Kematian bapak bagi Mega, telah membuat hidup ia dan keluarganya terang makin repot. Keluarga Mega tak lagi memiliki tulang punggung. Kini hidup mereka disambung dari pendapatan berdagang tahu bakso dan sate usus. 

“Dulu ketika ada ayah, kami tidak pernah kekurangan. Sekarang, saya kasih duit jajan ke anak saya aja bimbang; duit ini baiknya buat beli beras atau beli jajan anak? Hati ibu mana yang tidak perih ketika melihat anaknya nangis karena enggak bisa beli jajan? Kematian bapak dampaknya masih terasa sampai hari ini,” tutur Mega.

Dimas Yuliari, menantu Nur Hidayat, tak lagi sanggup berharap banyak kepada pemerintah. Ia hanya menitip pesan: “Saya harap, semoga pemerintah segera mendapat hidayah.”


Editor: Fahri Salam

Laporan ini adalah kolaborasi beberapa jurnalis Surabaya (Miftah Faridl dari CNN TV Indonesia, Farid Rahman jurnalis CNN.com, Rangga Prasetya penulis Volkpop.id,  Ardiansyah Fajar dari IDN Times, dan Reno Surya, kontributor Project Multatuli)

Audio juga bisa didengarkan dan berlangganan di:

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.