Keagamaan

Esais Muda Pesantren (3): Sang Murobbi Mujahid; Dakwah, Perjuangan, dan Pengabdian Kiai Zaini Mun’im – Alif.ID

Dunia yang semakin bergerak ke arah kemajuan yang ditandai di bidang teknologi dan informasi, disinyalir menyebabkan kehidupan yang hedonis, materialis dan kapitalis. Tuntutan zaman dan perubahan, disadari atau tidak, telah menyebabkan kita semakin kabur untuk memilih siapa yang harus dijadikan idola, pedoman dan teladan. Bila memang kita sebagai umat Islam dan sepakat bahwa yang seharusnya menjadi panutan adalah ulama karena mereka adalah pewaris para nabi. Lalu, siapakah seseorang yang seharusnya dan selayaknya disebut kiai atau ulama?

Esai-esai dalam buku ini merupakan ikhtiar untuk membuka mata dan pikiran kita perihal kiai-kiai di pesantren. Salah satunya adalah Kiai Zaini Mun’im (Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo). Bagi penulis, Kiai Zaini adalah sosok kiai murobbi (pendidik) sekaligus mujahid (pejuang). Ia tidak hanya menjalani tirakat dan wiridan ala sufi, tapi juga berperang secara fisik melawan penjajah. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, perjuangan Kiai Zaini bertransformasi pada mencerdaskan umat dan mengangkat ekonomi masyarakat. Bahkan sejak baru mendirikan pesantren, Kiai Zaini sudah mendirikan perguruan tinggi di Nurul Jadid. Sebuah langkah progresif dan batu loncatan yang jarang dilakukan para kiai.

Selain kealiman keilmuan dan pengabdian, salah satu ‘tema hidup’ yang unik dari Kiai Zaini adalah caranya mendidik anak-cucu sebagai investasi masa depan perjuangan dakwah di Indonesia. Saking cerdasnya, bahkan Kiai Sufyan Miftahul Arifin – Situbondo mengakui sendiri bagaimana kaderisasi Kiai Zaini terhadap anak-cucunya. “Saya kalau ke Kiai Zaini dalam bidang keilmuan mungkin masih mengimbangi. Kalau cara mendidik anak-cucu, saya mengakui kalah.”

Pada tahun 2021 ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid sudah berusia 72 tahun. Pesantren dengan kisaran sepuluh ribu santri ini sudah tergolong maju secara pesat. Sayangnya, penelitian tentang Kiai Zaini masih belum tersorot secara maksimal dan komprehensif dalam literasi tulis. Padahal perjuangan, kiprah, sepak terjang dan karya-karyanya sangat layak dan perlu sekali kita teladani dan refleksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dimulai dari esai “Perjuangan Keumatan Kiai Zaini Mun’im: Dari Perang Fisik Sampai Perang Intelektual”, himpunan esai dalam buku ini berupaya mengimbangi ruang pikir pembaca dengan menawarkan cara pandang konstruktif dan adaptif ketika terjadi disorientasi ulama sebagai teladan ditengah kehidupan kita sehari-hari.

Tujuan

  1. Mengetengahkan biografi, kiprah, perjuangan hingga karya-karya Kiai Zaini Mun’im sebagai sosok yang patut diteladani dan ditiru masyarakat luas, khususnya berkaitan dengan tema besar (Ulama Nusantara).
  2. Menemukan relevansi kajian kiprah Kiai Zaini Mun’im dengan ragam peristiwa maupun problem aktual yang melingkungi sekitar
  3. Menyebarluaskan perspektif yang mendekati objektif soal kiai dan ulama yang patut diikuti, diteladani dan ditiru ketika disoreintasi ulama -yang notebene menjadi panutan kita- sebagai panutan di sekitar kita.

Judul-Judul

  1. Perjuangan
    1. Perjuangan Keumatan Kiai Zaini Mun’im: Dari Perang Fisik Sampai Perang Intelektual
    2. Kiai Zaini Sebagai Sufi
    3. Kisah Kiai Zaini Mun’im Melawan Belanda di Madura
    4. Temu Akrab Kiai Zaini Dengan Soekarno
    5. Menimba Ilmu di Tengah Hujan Peluru, Strategi Belajar Agama Kiai Zaini di Masa Penjajahan
    6. Kiai Zaini ke Rasulullah: Nasab dan Sanad
    7. Kekecewaan Politik Kiai Zaini, Pergumulan di Orde Lama
    8. Santri Yang Bercelana: Refleksi Kiai Zaini Yang Berbuah Kebijakan
    9. “Seandainya Meneruskan Belajar di Mekah…”, Perjalanan Intelektual Kyai Zaini
    10. “Zaini Al-Khalisi”, Julukan Yang Diberikan Kiai Hasyim Asy’ari Kepada Kiai Zaini
    11. Cara Mendidik Kiai Zaini Kepada Anak-Cucunya
    12. Kiai Zaini, Paiton dan Kiai As’ad Syamsul Arifin
    13. Sejak Zaman Pendiri Sudah Ada Perguruan Tinggi
    14. Seandainya Kiai Zaini Ditulis Betul, Beliau Akan Sekelas Kiai Wahab Chasbullah

B.     Pemikiran

  1. Trilogi Santri, Asal Mula Asas Kesantrian Nurul Jadid
  2. Panca Kesadaran Santri, Sebuah Bekal Hidup
  3. Cita-Cita Kiai Zaini Mendirikan Pesantren Nurul Jadid
  4. Santri Helap Dalam Pandangan Kiai Zaini

C.     Karya

  1. Taysir al Ushul fi Ilmi Ushul, Cara Mudah Belajar Ushul Fikih Ala Kiai Zaini
  2. Tafsir Qur’an bi al-Imla’, Tafsir Yang Diejakan Pada Santri
  3. Pembagian Iman Dalam Nazhmu Syu’abul Iman
  4. Syafinah Yang Di-nazham-kan, Bentuk Kreatifitas Kiai Zaini
  5. Merefleksikan Jihad Dalam Qosidah Az-Zainiyah

D.     Situs Peninggalan

  1. Cangkruk Bata-Bata dan Kisah Kiai Hasan Abdul Wafi Selamat Dari Kepungan Belanda
  2. Dari Sepeda Onthel Hingga Ukiran Al-Quran, Sisa Peninggalan Kiai Zaini di Situbondo

Daftar Pustaka

Abd. Al-Mannan, Hasan. 2000. Al-Mu’jam al-Maudhu’i li Ayat al-qur’an al- Kariim. Riyadh: Baitul Afkar Al-Dauliyah.

Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi : Esai-Esai Pesantren, Yogyakarta, LkiS, 2001.

Abu Hamid al-Ghazali, al-Adab fi al-Din. Abu Hamid al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al- Din, Beirut: Dar al-Ma’rifat.

An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. 1392 H. Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim. Beirut: Dar Ihyaa’ at-Turats.

Deskripsi (Operasionalisasi) Nilai-Nilai Trilogi Santri Standard Profil Santri, Biro Pendidikan Nurul Jadid, 2019.

Dhofier, Zamakhsari. 1941. Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES. 1982

Prof. Dr. Fx. Adji Samekto, SH., MH, Kapitalisme, Modernisasi Dan Kerusakan Lingkungan, Yogyakarta, 2008.

Shihab, M. Quraish. 2005. Tafsir al-Mishbah. Jakarta: lentera Hati. Tim Humas Pesantren, Al-A’malul Al-Yaumiyah

Tim Humas Sekretariat PP Nurul Jadid Nazhmu Syafinah.

Tim Humas Sekretariat PP Nurul Jadid Nazhmu Syu’abil Iman.

Tim Humas Sekretariat PP Nurul Jadid, Selayang Pandang Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo, Paiton : Bagian Humas dan Protokuler Sekretariat Pondok Pesantren Nurul Jadid, 2018.

Tim Humas Sekretariat PP Nurul Jadid, Tafsir Qur’an bi al-Imla’.

Tim Humas Sekretariat PP Nurul Jadid, Taysir al Ushul fi Ilmi Ushul.

Tim Penulis. Tanpa Tahun. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Zuhaili, Wahbah. 2006. Tafsir Al-Wasith. Beirut: Darul Fikr al-Mua’asshir.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.