Keagamaan

Kisah Imam Ibnu Hajar Al Asqalani: Pasrah Belajar Meski Usia 40 Tahun | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Ibnu Hajar Al Asqalani merupakan ulama yang masyhur dalam bidang hadis dan fikih. Namun, siapa sangka di balik titel keilmuannya, menyimpan kisah yang begitu pelik. Berikut kisahnya.

Al kisah, wudhunya ringkas tapi tepat, niatnya dalam ibadah cepat selesai. Bahkan beberapa pendapatnya, ia mencela orang-orang yang was-was ketika berniat sehingga niatnya cenderung lama.

Ia juga seorang faqih (ahli fikih) yang menjadi Qadhi al-Qudhat (hakim agung) mazhab Syafi’i, dengan kurun waktu sekitar 20 tahun, dan dalam bidang hadits bergelar amirul mukminin (pimpinan orang beriman).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, begitulah ia dikenal banyak orang. Nama lengkapnya adalah Abul Fadl Ahmad bin Ali bin Muhammad al-Asqalani al-Misri al-Qahiri. Nenek moyangnya berasal dari desa Asqalan, kota kuno yang terletak di pantai Suriah dan Palestina. Oleh karenanya, afiliasi namanya menggunakan al-Asqalani.

Ibnu Hajar adalah seorang anak yatim, Ayahnya meninggal pada saat ia masih berumur 4 tahun dan ibunya meninggal ketika ia masih balita. Di bawah asuhan kakak kandungnya, Ibnu Hajar tumbuh menjadi remaja yang rajin, pekerja keras dan sangat berhati-hati dalam menjalani kehidupannya serta memiliki kemandirian yang tinggi.

Sosok Semangat tapi Tersekat

Dalam catatan sejarah disebutkan, saat Ibnu Hajar masih dalam tahap belajar di sebuah madrasah, ia terkenal sebagai murid yang rajin, bahkan semangat dan keinginannya untuk menjadi seorang yang memiliki pengetahuan luas melebihi yang lainnya.

Andai, saat itu dunia berpihak pada semangat dan kegigihannya, maka sudah saatnya ia keluar sebagai orang alim dengan penguasaan ilmu yang sudah tidak diragukan lagi. Akan tetapi, dunia tidak mengamini semua perjuangan itu.

Demikian Ibnu Hajar di masa belajarnya, ia sangat semangat, akan tetapi akal dan rasio yang dimiliki olehnya tidak mendukung semangatnya yang tinggi, sehingga ia dikenal sebagai murid yang bodoh, selalu tertinggal jauh dari teman-temannya. Bahkan sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah diajarkan oleh gurunya di sekolah.

Keadaan seperti itu terus ia jalani. Ibnu Hajar tidak mempedulikan ocehan teman-teman seperjuangannya, ia tetap semangat sekalipun harus tersekat dalam menerima pelajaran.

Empat puluh tahun ia jalani keadaan seperti itu (dalam beberapa riwayat ada yang menyebutkan dua puluh tahun, ada pula yang mengatakan empat tahun). Ocehan demi ocehan dari temannya tak mampu menghilangkan semangatnya untuk menjadi seorang yang alim.

Akan tetapi, manusia memiliki batas waktu untuk bersabar, begitu juga dengan Imam Ibnu Hajar. Lambat laun ia mulai bisa dengan keadaan dirinya yang tidak paham-paham dengan apa yang diajarkan oleh guru-gurunya. Di saat itulah Ibnu Hajar menyerah!

Dengan keadaan yang terus-menerus seperti itu, sesekali ia memohon kepada gurunya untuk pamit pulang, mengistirahatkan dan merenungkan dirinya karena lambatnya proses belajar dan menghafalnya. Namun, sang guru tidak pernah memberikan izin kepadanya.

Ibnu Hajar terus memaksa untuk mendapatkan izin pulang, hingga akhirnya sang guru memberikan izin kepadanya. Dari sinilah rihlah keilmuan Ibnu Hajar dimulai.

Batu dan Awal Mula Intelektual Ibnu Hajar Al Asqalani

Setelah Ibnu Hajar mendapatkan restu dan izinn dari gurunya untuk pulang meninggalkan sekolah dan tempat belajarnya, ia pun pergi meninggalkan semuanya, termasuk semua pelajaran dan temannya. Ia pulang sebatang kara, tak ada bekal, apalagi kitab yang ia bawa.

Di tengah perjalanan pulang, dalam kegundahan hati dan kegelisahan yang ada dalam dirinya, hujan pun turun dengan sangat lebat. Keadaan seperti itu tidak bisa membuat Ibnu Hajar melanjutkan perjalanannya. Ia harus berhenti, sembari mengistirahatkan dirinya yang sedang lelah. Akhirnya, ia memilih berteduh di dalam sebuah gua.

Setelah masuk lebih dalam, Ibnu Hajar Al Asqalani mendengar gemericik air dan ia pun melihatnya, ternyata air tersebut telah menetes ke atas batu besar dalam waktu yang sangat lama. Bahkan, batu besar itu sampai berlubang karena terus-menerus terkena tetesan air.

Saat itulah, Ibnu Hajar mulai merenungi proses belajarnya. Ia berpikir, kalau otak atau pikirannya tentu tidak lebih keras dari batu, batu besar yang keras saja bisa berlubang oleh air yang lembut. Menurutnya, tidak mungkin otaknya tidak memiliki bekas sama sekali jika terus-menerus belajar dan menempanya dengan ilmu pengetahuan.

Batu besar yang ia jumpai di dalam gua ini kemudian menjadi sumber hidayah bagi Ibnu Hajar Al Asqalani. Perjalanannya untuk pulang ia hentikan. Ia memutuskan untuk kembali ke tempat belajarnya.

Dengan semangat yang semakin membara, dan keinginan yang semakin meningkat, ia kembali menuju tempat belajarnya dengan penuh keyakinan yang sangat tinggi. Sesampainya di sana, ia terus belajar dan belajar.

Menurut suatu riwayat ada yang mengatakan 20 tahun, ada pula yang mengatakan 15 tahun, namun intinya ia menempuh pendidikan di waktu tua yang tidak sebentar.

Sejak saat itu, perubahan pun terjadi dalam diri Ibnu Hajar Al-Asqalani. Jika pada periode awal ia menjadi murid yang giat namun bodoh, maka periode kedua menjadi murid yang paling cerdas, dan malampaui teman-temannya yang dahulu pernah menghinanya karena lemah dalam menghafal.

Dari rihlah inilah, pada akhirnya ia tumbuh menjadi ulama tersohor dan memiliki banyak karangan kitab, di antaranya adalah, Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Bulughul Marom min Adillat Al Ahkam, al Ishabah fi Tamyiz Ash Shahabah, Tahdzibut Tahdzib, ad-Durarul Kaminah, Taghliqut Ta’liq, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan beberapa kitab lainnya.

Bahkan menurut muridnya, yaitu Imam asy-Sakhawi, karya Ibnu Hajar Al Asqalani  mencapai lebih dari 270 kitab. Sebagian peneliti pada zaman ini menghitungnya, dan mendapatkan sampai 282 kitab. Kebanyakan berkaitan dengan pembahasan hadits, secara riwayat dan dirayat (kajian).

Dari kisah inilah kemudian menjadikan namanya masyhur dengan sebutan afiliasi (bukan nama aslinya), yaitu Imam Ibnu Hajar, yang artinya Anak Batu. Demikian kisah Ibnu Hajar Al Asqalani, mulai belajar usia 40 tahun. (Baca: Kisah Imam Ibnu Hajar dan Islamnya Yahudi Penjual Minyak)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.