Serbaserbi

Bahaya Merokok Dalam Bingkai Media

Pada banyak kasus, media kerap membuat vonis seolah seluruh penyakit disebabkan oleh rokok. Sementara, jika mau diperhatikan lebih, kemasan pemberitaan soal bahaya merokok tak jarang merupakan propaganda media. Ada yang berkepentingan dalam setiap bingkai pemberitaan media.

Salah satu trik yang dipakai adalah memancing klik, atau yang biasa disebut clickbait. Ketakutan yang disebabkan kampanye antirokok di beragam medium membuat masyarakat termakan dan ada pula sebagian perokok yang takut. Wajar saja takut, ancamannya kematian dan hal-hal mengerikan lain. Meski kemudian banyak juga yang merasa masa bodo dan tidak peduli dengan sebaran ketakutan tersebut.

Satu hal yang perokok pahami adalah rokok memang memiliki faktor risiko tertentu. Namun, faktor risiko itu juga berada pada beragam bahan konsumsi lain, bukan hanya rokok. Dan yang paling penting, rokok bukanlah faktor tunggal dan menjadi penyebab utama dari penyakit-penyakit tersebut.

Beberapa hari lalu, sebuah berita terbit dengan judul: ‘Selain Kanker Paru-paru, Kebiasaan Merokok Bisa Picu Kerusakan Mata’. Dari judulnya sudah terasa nuansa yang dibangun. Mau dibaca berulang kali pun maknanya tidak akan berubah. Judul menginsinuasi bahwa ada dua bahaya penyakit yang akan diakibatkan oleh aktifitas merokok; kanker paru-paru dan kerusakan mata. Judulnya merupakan pernyataan, bukan pertanyaan. Jadi, mereka seolah memastikan. Kira-kira begitu soal judul.

Masuk ke badan artikel, ternyata yang dibahas adalah rokok elektrik, alias vape. Bukan rokok sebagaimana yang disebutkan pada judul. Kok beda?

Iya, oke. Pasti akan lahir tanggapan bahwa rokok dan rokok elektrik itu sama saja, sama-sama berbahan tembakau dan mengandung nikotin. Iya, oke. Mari kita anggap demikian. Lanjut.

Pada artikel yang sama, disebutkan pula bahwa tidak ada cukup data untuk mengatakan bahwa vaping menyebabkan kerusakan mata. Studi lebih lanjut perlu dilakukan untuk membangun hubungan.

Lha???

Di judul sudah mantap dan yakin, kok isinya ragu? Kalau memang perlu studi lebih lanjut untuk membangun hubungan, mengapa judulnya justru menghubung-hubungkan? Kenapa? Why?

Hal semacam ini sering terjadi dalam pemberitaan menyoal bahaya rokok– kadang termasuk juga rokok elektrik. Diksi dan redaksi yang bombastis, mencengangkan, bahkan kontroversial, seringkali dipakai sebagai judul.

Dulu pernah ada satu berita dari Tribun Pekanbaru, judulnya: Diminta Berhenti Merokok, Pria Ini Tikam Istrinya yang Sedang Hamil Sebanyak 8 Kali. Mengerikan, bukan?

Setelah membaca muatan beritanya, ternyata masalahnya ini bukan sekadar ‘diminta berhenti merokok’. Lebih dari itu, ternyata sang suami sedang dalam pengaruh alkohol alias mabuk. Pertanyaan saya: kenapa judulnya tak menyebut suami mabuk? Kok, terkesan menjadikan rokok sebagai sebab? Tujuannya jelas membangun tone negatif frasa “rokok” di mesin pencarian Google.

Setelah dibaca lebih lanjut, ternyata kejadian ini pun jauh di Rusia sana. Apakah Tribun Pekanbaru meliput langsung ke sana? Kenapa tak menyebut “Rusia” dalam judulnya? Kenapa tidak biarkan saja tim Tribun Rusia yang melakukan liputan dan mengabarkan?

Fenomena seperti ini memang lahir karena pekerjaan kampanye antirokok yang dibarengi aksi dari media seperti contoh di atas. Silakan periksa sendiri, kebanyakan berita menuliskan bahwa rokok menyebabkan ini, rokok menyebabkan itu, blablabla.. sesekali tidak menyebut sebab-akibat, tapi hanya meminjam frasa ‘rokok’ untuk judul. Intinya, rokok dan perokok dijadikan pesakitan.

Keberadaan media yang harusnya menjadi rujukan masyarakat, sumber informasi dan pencerahan, pada konteks ini, justru membawa menimbulkan prasangka dan ketakutan yang belum tentu benar. Media bekerja di atas prinsip-prinsip, dan berita-berita yang ditampilkan tentang bahaya rokok ini memang tidak banyak menerapkan prinsip jurnalisme seperti itu. Selama bisa dapat klik pembaca dan sesuai kepentingan, semua bisa diatur.

Begini.. kalau memang media benar-benar ingin berkampanye tentang bahaya merokok, dorong saja agar rokok bukan hanya berhenti dikonsumsi, tetapi juga berhenti diproduksi di Indonesia. Kalau sekadar menakuti, itu bukan upaya melindungi publik dari rokok namanya. Tabik

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.