Keagamaan

Imam Harits bin Miskin: Budak yang Belajar di Usia Tua dan Berhasil Menjadi Ulama | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Di antara sekian ulama yang belajar di waktu tua adalah Imam Harits bin Miskin. Kisah hidupnya penuh inspiratif. Ia awalnya adalah seorang budak. Kendati budak, jiwa belajarnya cukup tinggi. Dan kelak berhasil menjadi ulama besar.

Ia tak begitu masyhur seperti Imam Nawawi, tak begitu terkenal seperti Imam Ibnu Qudamah, tak begitu populer (popular) dibanding Imam Abu Yusuf, akan tetapi kontribusi dan sumbangsihnya begitu besar di balik perkembangan ajaran Islam, khususnya ilmu hadits.

Gelarnya tak tanggung-tanggung, dalam ilmu fiqih bergelar al-Faqih dan muhaddits dalam ilmu hadits, dan yang paling mengherankan, ia belajar di usianya yang sudah tidak lagi muda. Kendati demikian, di balik gelar mentereng yang ia dapatkan, ada kisah dan ujian berat yang dihadapinya.

Imam al-Harits bin Miskin, begitulah namanya yang sering dipakai oleh para ulama dalam kitab-kitab salaf. Para ulama sering mengutip pendapatnya untuk dijadikan rujukan, juga sering dijadikan perbandingan dengan pendapat lain, hal ini tidak lain karena luasanya ilmu yang ada dalam dirinya.

Biografi Imam al-Harits bin Miskin

Nama lengkapnya adalah Imam al-Faqih al-Muhaddits ats-Tsiqah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Harit bin al-Miskin az-Zuhri al-Mishri asy-Syafi’i. Afiliasi namanya menggunakan al-Mishri, sebagai bukti kecintaannya yang tinggi pada tanah kelahirannya, yaitu Mesir.

Meski gelar dan namanya hingga kini tetap mentereng dan selalu menjadi rujukan para ulama, khususnya mazhab Syafi’iyah, namun tanah kelahiran dan tahun ulama yang satu ini belum ditemukan secara pasti perihal catatan tegas yang telah ditulis oleh ulama-ulama sejarah tentangnya. Tidak ada riwayat yang penulis temukan secara pasti perihal tahun kelahiran hingga wafatanya.

Akan tetapi, dengan menelisik jalan hidupnya, Imam Ibnu Farihun al-Ya’mari (wafat 779 H) dalam kitabnya yang berjudul, ad-Dibaj al-Mazhab fi Ma’rifati A’yani Ulamai al-Mazhab, juz I, halaman 19, menengarai bahwa Imam Abu Harits bin Miskin dilahirkan sekitar paruh pertama abad kedua hingga awal abad ketiga, tepatnya pada tahun 237 H, dan wafat pada tahun 301 H.

Sebagaimana sebutan awal, gelar Imam Harits bin Miskin adalah al-Imam, al-Faqih, al-Muhaddits, Ats-Tsiqah, dan beberapa gelar lainnya. Gelar ini menunjukkan bahwa dalam dirinya terkumpul banyak ilmu, mulai dari hadits, fiqih, hingga muruah (kewibawaan menjaga kehormatan diri). Dia adalah salah seorang ulama besar di Kota Mesir.

Sebutan al-Imam, al-Hafiz, ats-Tsiqah merupakan sebutan para ahli hadits yang menunjukkan bahwa tingkatan ilmu yang sangat tinggi dan sangat amanah serta kesalehan yang tidak diragukan.

Tiga tipikal di atas merupakan sebutan yang hanya disematkan kepada ulama-ulama yang penguasaan haditsnya tidak diragukan kembali, memiliki hafalan dan daya ingat yang kuat, pribadinya terhindar dari dosa-dosa kecil dan mampu menghindari pekerjaan yang menghilangkan wibawanya.

Cikal Bakal Gelar Harits bin Miskin

Gelar-gelar mentereng yang disematkan ada dirinya di atas, tentu tidak didapatkan dengan mudah oleh diri Imam Harits bin Miskin. Untuk mendapatkannya, ia harus berjuang tanpa harus mengenal lelah dan payah.

Para ulama dalam catatan sejarahnya mengatakan bahwa ia hanyalah seorang mula (mantan budak yang dibebaskan), tepatnya pada masa Dinasti Bani Abbasiyah. Oleh karenanya, ia memiliki latar belakang abu-abu, tak begitu jelas sebagaimana ulama tersohor lainnya.

Namanya seorang budak, sejak kecil pendidikan dan pelajarannya kurang mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya. Ia hanya bekerja untuk memenuhi semua kebutuhan majikannya (sayyid). Tidak pernah terpikir dalam benaknya untuk menjadi seorang alim.

Belajar di Usia Tua

Tepat pada usianya yang sudah mendekati tua, Harits bin Miskin sangat sadar bahwa ilmu menjadi sangat penting. IIa termotivasi dengan para ulama yang keilmuannya sudah mencuat pada masa itu. Akan tetapi, motivasi itu harus muncul di usianya yang sudah bukan masanya, sebagaimana ditegaskan Oleh adz-Dzahabi,

الحَارِثْ بِنْ مِسْكِينْ إِنَّمَا طَلَبَ الْعِلْمَ عَلَى كِبْرٍ

Artinya, “(Imam) Harits bin Miskin, sesungguhnya belajar di usia yang sudah tua.” (Adz-Dzahabi, Siyaru A’lami an-Nubala, [Muassasah ar-Risalah, cetakan ketiga: 1405 H], juz XII, halaman 54).

Dari tulisan di atas dapat diambil teladan, bahwa Imam Harits bin Miskin memiliki keteguhan dan pendirian yang kuat. Di usianya yang sudah tua, dan harus mengabdi kepada majikannya, ia tetap semangat untuk belajar walau harus tiap hari melakukan perjalanan demi mencari ilmu ke berbagai guru di Mesir yang sangat jauh. 

Dalam perjalanannya untuk mencari ilmu di berbagai daerah, Imam Harits bin Miskin senantiasa menjalani hidup yang sangat prihatin, jauh dari kata mewah dan sempurna. Hal ini dikarenakan ketidakmampuan dalam hal ekonomi. Ia harus bersusah payah demi mendapatkan ilmu. Hidup prihatin inilah yang menjadikan ia kuat dalam menghadapi kehidupan.

Pada akhirnya, lewat perjuangan dan usaha yang panjang dan di usianya yang sudah tua, Imam Harits bin Miskin tumbuh menjadi sosok tersohor dengan penguasaan ilmu yang tidak diragukan lagi. Banyak para ulama mesir di masanya yang berguru kepada sosok yang awalnya busak itu.

Pujian Ulama Kepada Harits bin Miskin

Dari perjuangan Imam Harits bin Miskin yang tidak kenal lelah dan pasrah, ia tidak hanya mendapatkan gelar mentereng sebagaimana yang telah disebutkan, jauh dari itu akhirnya juga mendapatkan banyak pujian dari para ulama.

Imam Abu Zakaria bin Mu’in menyebutkan sebagai sosok pembaharu yang berhasil menciptakan peradaban baru dalam ilmu Islam. (Syekh Shafiyuddin al-Yamani, Tahzibu al-Kamal fi Asmai ar-Rijal, 1/222).

Menurut adz-Dzahabi, dalam jiwa Imam Harits bin Miskin tidak hanya terpancar ilmu yang luas dan pengetahuan yang mendalam, akan tetapi juga tampak jiwa zuhud (tidak cinta dunia) yang jarang dimiliki oleh ulama lainnya. Dan masih banyak pujian para ulama lain kepadanya.

Demikian kisah pengembaraan dan perjalanan intelektual Imam Harits bin Miskin, dalam mengembara untuk mencari ilmu dan kehausannya pada ilmu telah menjadi ibrah (pelajaran) dan uswah (teladan) bagi setiap pencari ilmu, bahwa belajar tidaklah ditentukan oleh waktu.

Di usia tua juga memiliki banyak potensi untuk tumbuh menjadi orang yang dalam pengetahuannya. (Baca juga: Kisah Keberhasilan Ulama dalam Belajar di Waktu Tua)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.