Serbaserbi

Peristiwa Besar di Bulan Rajab, Rasulullah SAW Pimpin Pasukan Muslim dalam Perang Tabuk

Peristiwa besar di Bulan Rajab salah satunya adalah meletusnya perang Tabuk. Ini adalah peperangan kedua kaum muslimin melawan kekaisaran Byzantium Romawi Timur. Dalam perang ini pasukan muslim dipimpin langsung Rasulullah SAW .

Perang Tabuk berlangsung di daerah Tabuk pada bulan Rajab tahun 9 Hijriah atau 630 Masehi. Daerah Tabuk terletak di 683 kilometer sebelah barat laut kota Madinah.

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul ” Sejarah Hidup Muhammad ” menggambaran, ketika itu musim panas belum berakhir. Suhu panas musim pada awal musim rontok yang sampai pada titik yang sangat tinggi itu merupakan musim maut yang sangat mencekam di wilayah padang pasir.

Di samping itu, memang perjalanan dari Madinah ke Syam, selain perjalanan yang panjang juga sangat sukar ditempuh. Perlu ada keuletan, persediaan bahan makanan dan air.

Pada kondisi itu, Rasulullah SAW mengumumkan niatnya berangkat menghadapi Romawi itu kepada umat Islam. Beliau menyerukan kepada semua kabilah bersiap-siap dengan pasukan yang sebesar mungkin.

Beliau juga meminta orang-orang kaya berpartisipasi dengan harta dan kemampuan mereka mengerahkan orang. Dengan begitu, beliau berharap kekuatan kaum muslim tersebut membuat keder pihak Romawi. Tentara Romawi sudah terkenal memiliki pasukan yang banyak dengan persenjataan yang lengkap.

Mendengar seruan Rasulullah SAW ada dua tanggapan yang muncul di kalangan umat Islam. Menurut Haekal, ada yang menyambut agama ini dengan hati yang bersemarak cahaya dan bimbingan Tuhan, hati yang sudah berkilauan cahaya iman, dan ia sudah tidak mengenal yang lain.

Hanya saja, ada juga yang masuk agama dengan suatu harapan, dan dengan rasa gentar. Mereka mengharapkan harta rampasan perang, karena kabilah-kabilah itu sudah tak berdaya menahan serbuan Muslimin, lalu mereka menyerah dan bersedia membayar jizyah dengan taat dan patuh.

Golongan pertama, dengan segera berbondong-bondong menyambut seruan Rasulullah. Ada orang miskin dari mereka itu, tidak ada binatang beban yang akan ditungganginya, ada pula orang yang kaya raya, menyerahkan semua harta kepadanya untuk diserahkan kepada perjuangan di jalan Allah, dengan hati ikhlas, dengan harapan akan gugur pula sebagai syahid di sisi Tuhan.

Sedangkan yang lain masih berat-berat langkah dan mulai mereka itu mencari-cari alasan, sambil berbisik-bisik sesama mereka dan mencemooh ajakan Nabi Muhammad kepada mereka untuk menghadapi suatu peperangan yang jauh, dalam udara yang begitu panas membakar.

Itulah mereka orang-orang munafik. Pada saat itu, Surah At-Taubah turun. Surat ini berisi ajakan perjuangan yang paling besar dan tegas-tegas menyampaikan ancaman Tuhan kepada mereka yang membelakangi ajakan Rasulullah SAW.

Ada sekelompok orang-orang munafik yang berkata satu sama lain: Jangan kalian berangkat perang dalam udara panas. Maka firman Tuhan ini turun:

“Dan mereka berkata: “Jangan kamu berangkat perang dalam udara panas begini.’ Tapi katakanlah: ‘Api neraka lebih panas lagi, kalau kamu mengerti! Biarlah mereka tertawa sedikit dan menangis lebih banyak sebagai balasan atas hasil perbuatan mereka.” ( Qur’an, 9 : 81-82)

Nabi Muhamnmad SAW berkata kepada Jadd bin Qais, salah seorang Banu Salima: “Hai Jadd, engkau bersedia tahun ini menghadapi Banu’l Ashfar?”

Banu’l Ashfar ialah bangsa Romawi.

“Rasulullah,” kata Jadd. “Izinkanlah saya untuk tidak dibawa ke dalam ujian serupa ini. Masyarakat saya sudah cukup mengenal, bahwa tak ada orang yang lebih birahi terhadap wanita seperti saya ini. Khawatir saya, bahwa kalau saya melihat wanita-wanita Banu’l-Ashfar, saya takkan dapat menahan diri.”

Oleh Rasulullah ia ditinggalkan. Dalam hubungan ini ayat berikut ini turun:

“Ada pula di antara mereka yang berkata: ‘Izinkanlah saya (tidak ikut serta) dan jangan kaubawa saya ke dalam ujian ini.’ Ya, ketahuilah, mereka kini sudah terjatuh ke dalam ujian itu, dan bahwa neraka itu melingkungi orang-orang kafir.” ( Qur’an, 9 :49)

Orang-orang yang memang sudah membawa bibit-bibit kebencian dalam hatinya kepada Rasulullah, mereka mengambil kesempatan dalam peristiwa ini supaya orang-orang munafik itu tambah munafik dan menghasut orang supaya tinggal di belakang medan perang.

Orang-Orang yang Menangis

Rasulullah SAW melihat bahwa mereka itu tak dapat diberi hati, khawatir nanti akan merajalela. Beliau berpendapat akan mengambil tindakan terhadap mereka dengan tangan besi. Beliau mengetahui, bahwa banyak orang berkumpul di rumah Sulaim orang Yahudi itu.

Mereka mengalang-alangi orang dengan menanamkan rasa enggan dalam hati orang dan supaya mereka tinggal saja di garis belakang. Didampingi oleh beberapa orang sahabat Rasulullah mengutus Talha bin ‘Ubaidillah mendatangi kaum munafik itu, selanjutnya memakar rumah Sulaim.

Salah seorang dari mereka patah kakinya ketika ia melarikan diri dari dalam rumah itu. Yang lain-lain langsung menerobos api itu dan dapat meloloskan diri.

Akhirnya, mereka tidak mengulangi perbuatan semacam itu. Bahkan itu menjadi contoh buat yang lain. Sesudah itu tak ada lagi orang berani berbuat begitu.

Haekal mengatakan tindakan tegas terhadap orang-orang munafik itu ada juga bekasnya. Dalam mempersiapkan pasukan itu orang-orang kaya dan orang-orang berada telah pula datang menyumbangkan hartanya dalam jumlah yang cukup besar.

Utsman bin Affan saja sendiri menyumbang seribu dinar, dan banyak lagi yang lain, masing-masing menurut kemampuannya. Setiap orang yang mampu tampil dengan perlengkapan dan biaya sendiri pula.

Orang-orang yang tidak punya juga banyak yang datang ingin dibawa serta oleh Nabi. Mereka yang mampu oleh Nabi dibawa, sedang kepada yang lain ia berkata: “Dalam hal ini saya tidak mendapat kendaraan yang akan dapat membawa kamu.”

Dengan demikian mereka pun kembali, kembali dengan bercucuran airmata. Mereka sedih, karena tak ada pula yang dapat mereka sumbangkan. Karena tangisan mereka itu mereka diberi nama Al-Bakka’un (orang-orang yang menangis).

Pasukan yang sudah berkumpul mendampingi Nabi Muhammad ini disebut Pasukan ‘Usra, karena kesukaran yang dialami sejak mulai dibangun. pasukan Muslim ini berjumlah 30.000 orang.

Selanjutnya, Rasulullah SAW menyerahkan urusan Kota Madinah kepada Muhammad bin Maslama. Sedangkan urusan keluarga Rasulullah SAW diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib .

Setelah segala sesuatunya sudah dianggap beres, kata Haekal, beliau memimpin pasukan. Ketika itu, Abdullah bin Ubayy juga sudah siap dengan sebuah pasukan terdiri dari golongannya sendiri, akan berangkat di samping pasukan Rasulullah SAW.

Akan tetapi menurut Nabi, Abdullah dan pasukannya itu supaya tetap di Madinah saja karena selain kurang dapat dipercaya imannya juga ia tidak kuat.

Selanjutnya pasukan muslim itu pun berangkat. Debu dan pasir halus mengepul-ngepul ke udara diselingi oleh ringkik kuda. Wanita-wanita Madinah pergi naik ke atas loteng. Mereka menyaksikan pasukan tentara yang dahsyat ini, berangkat hendak menerobos padang sahara menuju ke arah Syam; yang demi di jalan Allah, tidak mereka pedulikan lagi udara panas, rasa dahaga dan lapar.

Pasukan yang telah didahului oleh 10.000 pasukan berkuda serta kaum wanita yang begitu terpesona menyaksikan segala kebesaran dan kekuatan itu, suasananya telah dapat menggerakkan hati beberapa orang yang tadinya surut dalam menerima ajakan Rasul dan tidak mau ikut.

Kisah Abu Khaithama

Demikian juga Abu Khaithama, setelah melihat suasana itu ia kembali pulang. Kedua orang isterinya dijumpainya masing-masing sedang menyirami tempat ia berteduh dan sedang mendinginkan air minum dan menyediakan makanan buat dia. Setelah dilihatnya apa yang dilakukan wanita itu ia berkata:

“Rasulullah dalam terik matahari, angin dan udara panas, sedang Abu Khaithama di tempat yang teduh, sejuk dengan makanan dan wanita cantik diam di rumah. Sediakan perbekalanku, aku akan menyusul.”

Setelah bekal yang diperlukan disediakan, ia pun pergi menyusul pasukan tentara. Mungkin masih ada juga sekelompok orang yang tinggal di belakang telah pula mengikuti jejak Abu Khaithama, setelah mereka menyadari bahwa tindakan mereka yang hendak mengelak dan takut-takut itu suatu tindakan tercela dan hina.

Puing-puing Tsamud

Dalam perjalanannya tentara itu sudah sampai di Hijr. Di tempat ini terdapat pula puing-puing bekas rumah-rumah kaum Tsamud yang terukir pada batu besar. Di tempat itu mereka oleh Rasulullah diperintahkan berhenti. Orang-orang pun mulai mengambil air dari sumur. Setelah selesai, kata Rasul kepada mereka:

“Jangan ada yang minum air sumur ini, juga jangan dipakai berwudu untuk sembahyang. Bila sudah ada adonan yang kamu buat dengan air itu berikanlah kepada ternak dan sama sekali jangan kamu makan. Juga jangan ada yang keluar malam ini kalau tidak disertai seorang teman.”

Menurut Haekal, soalnya tempat itu tiada pernah dilalui orang dan kadang timbul angin badai berupa pasir yang dapat menimbun manusia atau binatang.

Malam itu ada dua orang yang keluar diluar perintah Rasul. Salah seorang daripada mereka dibawa angin dan yang seorang lagi tertimbun pasir.

Keesokan harinya orang melihat pasir itu telah menimbuni sumur sehingga air tidak ada lagi. Orang jadi takut akan kehausan lebih ngeri lagi karena perjalanan masih panjang. Akan tetapi, sementara mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba datang awan membawa hujan dan mereka pun kini mendapat air berlimpah-limpah.

Perasaan takut hilang dan mereka semua bergembira. Ada mereka yang berkata satu sama lain, bahwa itu suatu mujizat. Sedang yang lain mengatakan itu hanya awan lalu.

Romawi Menarik Pasukannya

Setelah itu pasukan tentara itu meneruskan perjalanan ke Tabuk. Sebenarnya tentang pasukan ini dan kekuatannya beritanya sudah sampai kepada pihak Romawi. Oleh karena itu pihak Romawi lebih suka menarik mundur pasukannya yang tadinya sudah ditujukan ke perbatasan dengan maksud hendak melindungi daerah Syam dengan benteng-bentengnya itu.

Setelah pihak Muslimin sampai di Tabuk dan Nabi Muhammad SAW mengetahui pihak Romawi menarik diri dan berada dalam ketakutan, dirasa sudah tidak pada tempatnya akan mengejar mereka terus sampai ke dalam negeri mereka.

Oleh karena itu Beliau tetap tinggal di perbatasan, akan menghadapi siapa saja yang akan menyerang atau melawannya. Beliau berusaha menjaga perbatasan-perbatasan itu supaya jangan ada pihak yang melanggarnya.

Kisah Yohanna bin Ru’ba

Ketika itulah Yohanna bin Ru’ba – seorang amir (penguasa) Aila yang tinggal di perbatasan oleh Nabi telah dikirimi surat supaya ia tunduk atau akan diserbu.

Yohanna datang sendiri dengan memakai salib dari emas di dadanya. Ia datang dengan membawa hadiah dan menyatakan setia. Ia mengadakan perdamaian dengan Nabi Muhammad dan bersedia membayar jizyah.

Di samping itu, Rasulullah telah pula membuat surat-surat perjanjian perdamaian dengan mereka. Berikut ini salah satu bunyi teks itu, yakni yang dibuat dengan Yohanna:

“Atas nama Allah, Pengasih dan Penyayang. Surat ini ialah perjanjian keamanan atas nama Tuhan dari Muhammad, Nabi Utusan Allah kepada Yohanna ibn Ru’ba serta penduduk Aila, atas kapal-kapal dan kendaraan-kendaraan dalam perjalanan mereka di darat dan di laut, mereka berada dalam jaminan Allah dan Muhammad, termasuk mereka penduduk Syam, penduduk Yaman dan penduduk pantai laut.

Barangsiapa melakukan suatu pelanggaran maka selain dirinya, hartanya itu tidak akan dapat melindunginya dan Muhammad dibenarkan mengambil itu dari mereka. Mereka tidak boleh dirintangi dari air yang dikehendaki atau jalan yang akan ditempuhnya, di darat atau di laut.”

Sebagai tanda persetujuan atas perjanjian ini Rasulullah SAW telah pula memberikan hadiah kepada Yohanna berupa mantel tenunan Yaman disertai perhatian penuh kepadanya, setelah diperoleh persetujuan bahwa Aila akan membayar jizya sebesar 3000 dinar tiap tahun.

Pemberontakan Duma

Nabi Muhammad sebenarnya sudah tidak perlu lagi berperang setelah pihak Romawi menarik diri, dan telah dibuat perjanjian dengan daerah-daerah yang terletak di perbatasan dan karena sudah merasa aman setelah pula balatentara Bizantium kembali dari wilayah itu, kalau tidak karena lalu timbul suatu kekuatiran baru.

Namun pihak Ukaidir bin Abdul Malik al-Kindi orang Nasrani, Penguasa Duma akan memberontak dengan mendapat bantuan balatentara Romawi bilamana mereka datang dari jurusan itu.

Itu sebabnya Nabi lalu menugaskan Khalid bin Walid dengan sebuah pasukan berkuda terdiri dari 500 orang. Sedangkan Rasulullah berbalik dengan pasukannya kembali ke Madinah.

Dengan cepat Khalid terjun menyusur ke Duma, tanpa setahu penguasa itu, yang dalam malam terang bulan dengan disertai saudaranya yang bernama Hassan, sedang sama-sama memburu lembu liar.

Khalid tidak mendapat perlawanan yang berarti. Hassan terbunuh dan Ukaidir ditawan. Ia diancam akan dibunuh kalau pintu gerbang Duma tidak dibuka.

Oleh karena itu pintu-pintu kota kemudian dibuka sebagai tebusan atas diri sang amir. Dari tempat ini Khalid kemudian dapat mengangkut sebanyak 2000 ekor unta, 800 ekor kambing, 400 wasq (muatan) gandum dan 400 buah pakaian besi.

Semua itu diangkutnya bersama-sama dengan Ukaidir sampai dapat menyusul Nabi di Ibukota, Madinah.

Rasulullah SAW menawarkan Islam kepada Ukaidir yang kemudian diterimanya dan ia pun menjadi pula sekutunya.

Mendapat Ejekan Kaum Munafik

Nabi Muhammad kembali dengan memimpin ribuan anggota Pasukan ‘Usra ini dari perbatasan Syam ke Madinah, bukanlah soal

yang ringan. Mereka itu kebanyakan tidak mengerti makna persetujuan yang telah diadakan dengan amir Aila dan negeri-negeri tetangganya, Juga mereka tidak menganggap begitu penting persetujuan-persetujuan yang telah dibuat oleh Nabi Muhammad guna menjamin keamanan di perbatasan seluruh jazirah itu serta dibangunnya benteng-benteng di tempat-tempat itu sebagai perbatasan dengan pihak Romawi.

Sebaliknya yang dapat mereka lihat hanyalah, bahwa mereka menempuh jalan yang sulit dan panjang ini, dengan mengalami gangguan-gangguan, kemudian kembali tanpa membawa rampasan, tanpa membawa tawanan perang, bahkan berperang juga tidak.

Segala yang dapat mereka lakukan hanyalah tinggal di Tabuk selama hampir duapuluh hari.

Ada segolongan orang yang lalu mengejek apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad itu. Orang yang memang sudah teguh imannya, menyampaikan kabar ini kepadanya. Ia mengambil tindakan terhadap orang-orang yang mengejeknya itu, kadang dengan kekerasan, kadang dengan cara lemah-lembut, sementara pasukan tentara meneruskan perjalanan pulang ke Madinah sambil selalu Nabi Muhammad menjaga dan mengatur barisan itu.

Tatkala ia sudah sampai di kota, Khalid bin Walid pun menyusul pula sampai. Ia datang bersama dengan Ukaidir yang dibawanya dari Duma, berikut unta, kambing, gandum dan baju-baju besi. Ketika itu Ukaidir mengenakan pakaian lengkap dari sutera berat dengan berumbaikan emas. Penduduk Madinah sangat terpesona melihatnya.

Mereka yang tinggal di belakang tidak mengikutinya merasa gelisah sekali. Mereka yang tadinya mengejek kini mulai sadar sendiri. Mereka datang sekarang sambil membawa dalih minta maaf. Tetapi kebanyakan mereka minta maaf itu disertai kebohongan. Sikap mereka ini oleh Nabi Muhammad ditolak, diserahkan kepada kebijaksanaan Tuhan. Tetapi ada tiga orang yang sudah beriman kepada Allah dan kepada Rasul, mereka ini mengakui akan tindakan mereka tinggal di belakang dan mengakui pula dosa mereka.

Mereka itu ialah Ka’b bin Malik, Murara bin Rabi’ dan Hilal bin Umayya. Karena larangan yang pernah dikeluarkan oleh Nabi Muhammad, mereka bertiga itu selama 50 hari tidak diajak bicara oleh kaum Muslimin, juga tidak seorang Muslim pun mengadakan hubungan dagang dengan mereka. Tetapi Tuhan kemudian mengampuni mereka bertiga, dan firman Tuhan ini turun:

“Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang telah mengikuti Nabi pada masa kesulitan (‘usra) setelah ada sebahagian mereka yang hampir menyimpang hatinya. Tetapi kemudian Tuhan menerima tobat mereka. Allah Maha Pengasih dan Penyayang kepada mereka. Juga terhadap tiga orang yang tinggal di belakang, sehingga bumi yang seluas ini terasa sempit oleh mereka, napas mereka pun terasa sesak, dan mereka sudah mengerti, bahwa tak ada tempat berlindung dari siksa Tuhan selain kepada Tuhan juga. Kemudian Allah menerima taubat mereka supaya mereka selalu bertobat. Dan Allah Maha Penerima segala tobat dan Maha Pengasih.” ( Qur’an, 9 :117-118)

Sejak itu, Rasulullah bersikap tegas terhadap orang-orang Munafik, suatu sikap yang tidak biasa mereka alami sebelumnya. Soalnya ialah karena jumlah kaum Muslimin sudah bertambah banyak. Tingkah-laku kaum Munafik terhadap mereka akan berbahaya sekali dan sangat dikhawatirkan.

(mhy)

 Miftah H. Yusufpati

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.