Featured

The Conversation Indonesia umumkan penulis terbaik 2021 dengan kategori baru pilihan pembaca

The Conversation Indonesia memilih penulis terbaik untuk kedua kalinya dengan memperkenalkan kategori baru yaitu penulis pilihan pembaca (Reader’s Favourite). Ini bentuk apresiasi kami terhadap dukungan para penulis dan pembaca yang telah membantu kami mewujudkan misi menjadi media terdepan yang menerbitkan analisis berbasis riset kepada publik.

Sepanjang 2021, kami menerbitkan 709 artikel dengan melibatkan 716 penulis. Meski jumlahnya turun dibanding tahun sebelumnya, lebih banyak artikel dari penulis Indonesia menjadi artikel populer tahun lalu. Dari 10 artikel paling populer tahun lalu, enam di antaranya ditulis peneliti Indonesia, naik dari hanya dua artikel di tahun sebelumnya.

Sama seperti tahun lalu, kami mempertahankan kategori penulis yang paling produktif (Most Productive), yang paling viral (Most Viral), yang paling banyak dibaca (Most Read) dan kategori pilihan editor (Editors Favourite).

Kami juga menambah satu kategori baru yaitu penulis favorit pembaca dengan menyebar survei melalui akun media sosial kami.

Daftar para pemenang

Untuk kategori penulis paling produktif, Irwandy, profesor ahli kesehatan dari Universitas Hasanuddin, Sulawesi Selatan, menjadi pemenangnya. Ia menerbitkan 10 artikel sepanjang 2021. Irwandy menulis artikel seputar isu-isu kesehatan selama pandemi.

Sedangkan penulis paling viral jatuh pada dosen dari University of Melbourne, Australia, Annisa R. Beta.

Sebuah utas Twitter tentang artikel Annisa yang berjudul “Riset: standar pemerintah untuk “anak muda yang ideal” buta kesenjangan dan minim dukungan negara” menjadi konten media sosial kami yang paling banyak mendapat perhatian dari warganet. Utas tersebut mendapat retweet lebih dari 1.000 kali, likes hampir 2.500 dan impresi lebih dari 400.000.

Selain menjadi penulis paling viral, Annisa juga menjadi pilihan Editor Pendidikan dan Anak Muda. Untuk pertama kalinya, seorang penulis memenangkan dua kategori sekaligus.

“Tulisan-tulisan Annisa terkait standar pemerintah untuk ‘anak muda ideal’, serta inklusivitas media sosial membuka wawasan tentang kondisi sesungguhnya anak muda Indonesia,” Editor Pendidikan dan Anak Muda The Conversation Indonesia, Luthfi T. Dzulfikar mengatakan.

Arif Novianto, peneliti Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menjadi penulis yang artikelnya paling banyak dibaca. Artikelnya “Riset: empat alasan kemitraan Gojek, Grab, hingga Maxim merugikan para Ojol” dibaca oleh lebih dari 170,000 pembaca tahun lalu.

Kategori penulis pilihan pembaca jatuh pada dosen dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Stevanus Pangestu, yang berhasil mengumpulkan lebih dari 60% suara pembaca dalam survei yang melibatkan seitar 1.000 pembaca. Stevanus banyak menulis tentang isu-isu literasi keuangan di The Conversation Indonesia.


Read more: Riset: literasi keuangan tidak hanya membuat kaya tapi juga berpotensi memperpanjang umur


Wisnu Uriawan, peneliti teknologi blockchain yang sedang berada di Prancis, menjadi penulis favorit editor bisnis karena berhasil menulis topik hangat yang belum dimengerti khalayak luas seperti mata uang kripto,


Read more: Dua alasan MUI harus timbang ulang keputusan haramkan uang kripto seperti bitcoin dan ethereum


Sementara itu, Nabiyla Risfa Izzati dari Universitas Gadjah Mada menjadi pilihan Editor Politik dan Masyarakat.

“Kepakaran Nabiyla di bidang hukum dan ketenagakerjaan menjadi rujukan berharga bagi pembaca TCID (The Conversation Indonesia) dan yang lebih penting lagi memperkaya diskusi publik,” ujar Andre Arditya, Editor Politik dan Masyarakat.


Read more: Eksploitasi pekerja magang di start-up bisa terjadi karena aturan hukum yang ketinggalan zaman


Bagi editor rubrik lingkungan Robby Irfani Maqoma, pakar di bidang kelautan dari Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Noir Primadona Purba menjadi favoritnya.

“Artikel Noir bisa menjangkau pembaca yang lebih luas karena cermat memilih angle. Risetnya juga bagus dan relevan dengan persoalan saat ini,” ungkap Robby.


Read more: For several of Indonesia’s small islands, climate change might mean they have no future


Terakhir, penulis favorit bagi Editor Kesehatan Ahmad Nurhasim adalah peneliti Indonesia yang saat ini bekerja untuk Perdana University, Malaysia, Teguh Haryo Sasongko.

“Artikel-artikel Pak Teguh sangat kritis terhadap kebijakan kesehatan yang diambil pemerintah Indonesia terutama dalam penanganan COVID-19,” jelas Ahmad.


Read more: Kasus COVID-19 dan kematian di Asia Tenggara meningkat tajam, apa penyebabnya?


Penghargaan ini tidak hanya merupakan wujud apresiasi kami kepada penulis-penulis The Conversation Indonesia yang selama setahun terakhir ikut menyebarluaskan pengetahuan dan memperkuat kebijakan tidak hanya di Indonesia tapi juga di belahan dunia lain, tapi juga upaya kami untuk terus mengukuhkan fungsi kami sebagai jembatan yang kokoh antara peneliti dan pembaca.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.