Keagamaan

Cerita Dunia dan Bahasa Sunda – Alif.ID

Seorang belum dewasa membaca surat kabar Indonesia Raya. Ia belum terbujuk membaca berita-berita politik panas. Dipilihlah menikmati rubrik kanak-kanak, menghibur dan memberi rangsang pengetahuan-imajinasi. Ia keranjingan membaca, dilanjutkan membuat tulisan dikirim ke Indonesia Raya. Tulisan itu dimuat! Ia dan keluarga bersuka cita.

Ajip Rosidi (31 Januari 1938-29 Juli 2020) menulis dalam bahasa Indonesia untuk Indonesia Raya tapi terbiasa membaca buku-buku berbahasa Sunda. Ia mengenang: “Nunggul Pinang adalah salah satu buku yang paling aku sukai, meskipun cukup tebal, edisi bahasa Sunda terbit dalam dua jilid.” Bacaan berupa cerita mendunia tapi ternikmati dalam terjemahan bahasa Sunda. Pada masa berbeda, ia mengetahui buku terbit dalam terjemahan bahasa Indonesia oleh Balai Pustaka dengan judul Sebatang Kara.

Ia pun membaca sekian buku selera dunia dalam terjemahan bahasa Sunda: Graaf de Monte Cristo (Aleksander Dumas), Pependeman Nabi Sulaeman (Ridder Haggard), Lelampahan Guliper (Dean J Swift), Ngalalana Mekel Saketip (J Grant Allen), Le Medicin Malgre Lui (Moliere), dan lain-lain. Daftar bacaan membentuk diri bergelimang cerita itu dicantumkan dalam buku Ajip Rosidi berjudul Hidup Tanpa Ijazah (2008). Episode indah bagi pembaca buku meski mengetahui situasi perbukuan di Indonesia belum subur.

Ajip Rosidi dalam asuhan Imih (ibu) menggandrungi cerita. Cara memberi sokongan agar Ajip Rosidi makin menjadi makhluk-bercerita: “… Imih memberi dorongan agar aku meniru si Remi, tokoh utama buku Hector Malot yang dalam terjemahan bahasa Sunda berjudul Nunggul Pinang…. Cerita itu menggunakan gaya ‘aku’. Imih rupanya mengira bahwa dalam cerita itu benar-benar si Remi mengisahkan pengalamannya sendiri.” Kekuatan cerita memberi pesona. Ibu dan anak menjadi penikmat dan penafsir gubahan Hector Malot. Dinikmati dan dipercakapkan dalam bahasa Sunda.

Ajip Rosidi membaca duluan dalam bahasa Sunda, berselang mengetahui dalam edisi bahasa Indonesia, dan belum tentu membaca dalam edisi bahasa asing. Buku terjemahan dalam bahasa Indonesia dijuduli Sebatang Kara diterbitkan Balai Pustaka. Penerjemahan oleh Abdoel Moeis. Pada 1957, buku itu cetak ulang ketiga. Buku dengan 580 halaman, tebal bagi anak atau remaja sanggup khatam.

Sampul buku berlatar warna hijau. Tokoh utama ditampilkan sedang membawa alat musik, menempuhi perjalanan. Di belakang, ada anjing kecil dan pemandangan elok. Gambar memikat tapi kita tak mengetahui nama pembuat.

Cerita memang mengharukan: “Meskipun saja anak piatu, anak dapat, sebagai galibnja pada anak-anak sampai umur delapan tahun, masih kusangka, bahwa saja ada mempunjai ibu. Sebab djika saja menangis, adalah seorang perempuan jang memangku dan memeluk sampai sekering-keringnja air mata.” Remi menghadirkan sosok perempuan-keibuan memiliki kasih dan tanggung jawab besar. Bocah membaca cerita itu segera ingin mengetahui nasib Remi.

Si tokoh dibahagiakan dan dimanjakan secara wajar: “Belum pernah saja diletakkan ketempat tidur, sebelum ditjium oleh seorang perempuan, dan djikalau dimusim dingin dalam bulan Desember, angin jang keras memukul katja-katja djendela jang ditutup oleh saldju, terus dinginnja sampai kedalam rumah, maka perempuan itu menggenggam kakiku dengan kedua belah tangannja supaja kakiku jang dingin itu boleh mendjadi hangat. Maka perempuan itu menidurkan saja sambil bernjanji jang amat menarik hatiku, hingga sampai sekarang masih belum hilang lagu dan sebahagian dari buah njanjian itu dari ingatanku.” Kita mengandaikan Ajip Rosidi membaca dalam bahasa Sunda, menerima pengakuan Remi dalam keharuan dan penasaran.

Novel itu mungkin berpengaruh bagi Ajip Rosidi saat menulis cerita pendek dan novel. Ia bercerita diri dan keluarga. Orang-orang membaca “aku” saat menikmati cerita, mengira dan “memastikan” aku itu Ajip Rosidi seperti dugaan Imih dalam membaca gubahan Hector Malot. Begitu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.