Featured

Deforestasi memanaskan suhu lokal hingga 4,5 ℃ dan menyebar ke sekitarnya sampai radius 6 km

Hutan berperan untuk mendinginkan suhu bumi. Fungsinya hampir sama seperti air conditioner(AC) yang bekerja secara alami.

Apa yang terjadi jika kita membabatnya?

Di negara-negara tropis seperti Indonesia, Brazil, dan Kongo, deforestasi yang terjadi secara cepat berkontribusi sekitar 75% terhadap pemanasan suhu permukaan bumi selama 1950-2010.

Riset terbaru kami mencoba melihat fenomena tersebut dari dekat.

Berbasiskan data satelit dari seluruh Indonesia, Malaysia, dan Papua Nugini, kami menemukan deforestasi dapat memanaskan suatu area hingga 4,5 ℃. Pemanasan itu bahkan dapat menaikkan temperatur kawasan hutan alam di sekitarnya hingga radius 6 kilometer (km).

Lebih dari 40% populasi dunia hidup di kawasan tropis. Seiring iklim yang berubah, kenaikan suhu dan kelembapan membawa risiko mematikan. Karena itu, di tengah pemanasan global, pelestarian hutan menjadi kunci untuk melindungi setiap makhluk yang berada di sekitarnya.

Pepohonan memberi keteduhan, habitat, dan mengatur suplai air bersih. Shutterstock

Titik-titik rawan deforestasi

Dalam konferensi iklim PBB (COP26) di Glasgow, Skotlandia, awal November silam, para pemimpin negara yang mewakili 85% kawasan hutan dunia telah berkomitmen untuk mengakhiri sekaligus memulihkan deforestasi pada 2030.

Target tersebut amat penting untuk menghentikan laju pemanasan bumi melebihi batasan yang sudah disepakati secara global sebesar 1,5 ℃. Sebab, jumlah karbon yang tersimpan dalam hutan amatlah besar.

Setiap tahunnya, deforestasi menyebabkan sekitar 5,2 miliar ton CO2 – yang sebelumnya tersimpan selama jutaan tahun di dalam hutan – terlepas ke atmosfer. Angka tersebut hampir mencapai 10% dari total emisi global selama 2009-2016.

Nah, di kawasan Asia Tenggara, deforestasi seakan menjadi hal yang ‘lumrah’. Berdasarkan perhitungan kami, selama 2000-2019, Indonesia kehilangan 17% kawasan hutan (26,8 juta ha). Sedangkan persentase kehilangan hutan di Malaysia jauh lebih besar, yakni sekitar 28% dari total tutupan hutan (atau seluas 8,12 juta ha).

Sementara, di Papua Nugini, deforestasi masih berisiko tinggi terjadi hingga dekade selanjutnya.

Pembabatan hutan di kawasan tersebut dilatari beraneka sebab: ekspansi perkebunan kelapa sawit, konsesi hutan tanaman industri, perkayuan, pertambangan, maupun pertanian skala kecil. Berbagai kegiatan alih fungsi hutan itu menciptakan bermacam-macam pola deforestasi yang dapat dipantau dan diukur melalui satelit.

Area hutan yang dibuka untuk perkebunan kelapa sawit, di desa Bawa, Indonesia. Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia. EPA/HOTLI SIMANJUNTAK

Temuan kami

Hutan berperan secara langsung mendinginkan iklim di suatu kawasan, dan deforestasi memanaskannya.

Tapi, kita perlu mempelajari sejauh mana perbedaan pola-pola kehilangan hutan dapat mempengaruhi angka kenaikan temperatur, serta sejauh mana pemanasan itu menyebar, dari bekas hutan yang terbabat ke daerah lainnya yang belum dirusak.

Caranya, kami menggunakan citra satelit yang dapat memperlihatkan perubahan temperatur permukaan bumi. Setelah ilustrasi terlihat, kami lalu membandingkannya dengan angka kehilangan hutan rata-rata dalam suatu kawasan (dibagi berdasarkan lingkaran-lingkaran) dengan luasan dan radius yang berbeda-beda. Kami juga melihat perubahan temperatur rata-rata dalam hutan di suatu kawasan.

Misalnya, suatu lingkaran menggambarkan hutan selebar 4 km. Lalu ternyata, di daerah luar lingkaran ada area yang telah gundul selebar 2 km, maka hutan di bagian dalam lingkaran dapat mengalami kenaikan suhu rata-rata sebesar 1,2 ℃.

Semakin dekat radius area yang gundul, maka angka kenaikan suhu kawasan hutan di dalamnya (bagian dalam lingkaran) akan semakin tinggi. Jika area yang gundul hanya berjarak 1-2 km dari kawasan hutan (yang belum ditebang), maka kawasan hutan itu dapat memanas hingga 3.1 ℃. Sedangkan apabila jaraknya lebih jauh – sekitar 4-6 km, maka kenaikan suhunya hanya berkisar 0,75 ℃.

Ilustrasi bagaimana suhu berubah karena hilangnya hutan.

Bagaimana pembukaan hutan di dekat area yang tidak berubah menyebabkan suhu naik.

Angka kenaikan tersebut barangkali tidak terdengar terlalu parah. Namun, studi menunjukkan, kenaikan temperatur 1 ℃ akan menurunkan hasil panen sekitar 3-7%. Jika merujuk pada riset tersebut, maka upaya mempertahankan keberadaan hutan di Asia Tenggara, setidaknya sejauh 1 km dari kawasan pertanian dapat menghindari angka kehilangan hasil panen hingga 10-20%.

Perkiraan ini pun cukup konservatif karena kami hanya mengukur efek deforestasi terhadap rata-rata suhu tahunan. Faktor lainnya yang cukup penting adalah, kenaikan temperatur rata-rata biasanya menaikkan suhu ekstrem, seperti saat gelombang panas melanda. Kenaikan suhu secara ekstrem inilah yang amat berisiko menggerus hasil panen, bahkan terhadap kesehatan manusia.

Pembabatan hutan juga jarang dilakukan secara melingkar. Namun, patut dicatat, analisis ini didesain untuk hanya berfokus pada dampak kehilangan hutan, tidak mempertimbangkan faktor lainnya yang menyebabkan perubahan suhu.

Mengapa ini terjadi?

Keberadaan hutan mendinginkan permukaan bumi karena pohon-pohon mengumpulkan air dari tanah, lalu mengalirkannya menuju daun-daun. Lalu terjadilah proses penguapan (evaporasi) dari daun.

Proses tersebut menggunakan energi yang berasal dari sinar matahari dan panas dari udara sehingga daerah di sekitarnya menjadi dingin. Kita merasakan sensasi yang sama ketika merasa kedinginan saat keluar dari kolam renang, dan masih ada air yang menempel di kulit kita.

Satu pohon dalam hutan tropis yang mendinginkan suhu permukaan hingga setara dengan listrik sebesar 70 kilowatt jam untuk penggunaan 100 liter air tanah. Angka ini setara dengan penggunaan dua AC di tingkat rumah tangga.

Hutan juga menjadi kanopi sangat luas sehingga bisa menguapkan begitu banyak air dan mendinginkan area di sekitarnya. Ketika hutan-hutan di daerah tropis ditebang, maka proses evaporasi akan berhenti. Lalu memanaslah suhu permukaan tanah.

Fenomena ini bukanlah hal yang baru bagi penduduk pulau Kalimantan. Pada 2018, peneliti mengadakan survei ke penduduk di 477 desa. Hasilnya, mereka menyadari betul bahwa hutan yang terus berkurang akan membuat warga menderita lantaran suhu yang lebih panas.

Kami juga bertanya, mengapa hutan sangat penting untuk kesehatan responden dan keluarga. Jawaban yang kerap terlontar adalah, karena pepohonan berfungsi untuk mengendalikan temperatur.

Logging road

Jalan industri kayu di Kalimantan Timur, Kalimantan: hutan bekas tebangan di sebelah kiri, hutan primer di sebelah kanan. Aidenvironment, 2005/Wikimedia Commons, CC BY-SA

Solusi ganda menangani perubahan iklim

Banyak negara, termasuk di kawasan tropis dan Australia, memaklumi pembabatan hutan demi ekspansi lahan pertanian ataupun peternakan. Padahal, seiring peningkatan suhu, pelestarian hutan terbukti lebih efektif untuk meningkatkan ketahanan pangan dan menjaga kelangsungan kehidupan petani.

Sebenarnya ada jalan keluar untuk menghindari risiko terburuk akibat penebangan hutan. Misalnya, kami menemukan bahwa upaya menjaga 10% angka tutupan hutan di suatu daerah bisa mengurangi risiko pemanasan sekitar 0,2℃.

Temperatur pun tidak terlalu naik apabila hanya sebagian kecil kawasan hutan yang hilang. Artinya, jika deforestasi terjadi di suatu area kecil-kecil (seperti terbagi dalam blok-blok tertentu), maka risiko kenaikan suhu tak terlalu parah.

Kami membuat platform pemetaan untuk memudahkan publik melihat dampak dari perbedaan pola deforestasi dan dampak kehilangan hutan terhadap temperatur lokal di kawasan Asia Tenggara. Platform ini menunjukkan mengapa upaya pelestarian hutan dapat berefek ganda terhadap perubahan iklim: menahan pelepasan CO2 sekaligus mengendalikan temperatur lokal.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.