Keagamaan

Kebingungan Memahami Gus Dur – Alif.ID

Gus Dur merupakan figur yang sangat sulit dijelaskan tentang siapakah dia. Mungkin seseorang akan mendefinisikan siapakah Gus Dur sesuai latar belakang mereka. Hal ini senada apa yang diungkapkan Greg Barton (2010) yang menyatakan kebingungan mengenai sosok Gus Dur. Menurutnya, berbagai fakta menunjukkan bahwa pada satu sisi Gus Dur dipandang dan dikenal banyak orang sebagai figur religius dan pada sisi lain, oleh kebanyakan orang yang khususnya berada di kawasan metropolitan dan intelektual kelas menengah Indonesia sebagai politisi yang sekuler atau sebagai intelektual liberal.

Dengan bersandar kepada dua alasan di atas, kesalahpahaman mengenai Gus Dur berjalan dengan kesalahpahaman kita bangsa Timur-Islam tentang bangsa Barat pada umumnya. Bagaimana seseorang yang merupakan intelektual liberal juga dapat dianggap sebagai figur religius dan bahkan bagi kalangan kyai maupun santri adalah pemimpin karismatik setingkat wali? Berikut tiga aspek yang paling bisa dipahami tentang siapakah Gus Dur.

Pertama, Gus Dur merupakan sosok pluralis. Pandangan Gus Dur mengenai tentang pluralisme adalah bahwa keimanan seseorang dalam pandangan Tuhan adalah setara. Begitu juga, status Islam dan agama lain juga setara. Lebih dari itu, Gus Dur tidak menyukai istilah kafir bagi seseorang yang tidak memeluk agama Islam dan bagi Gus Dur mereka adalah saudara kita yang non-muslim.

Menurut M. Syafi’i Anwar dalam pengantarnya di Islamku, Islam Anda, Islam Kita (2010), Gus Dur adalah seorang pluralis di mana ia berpendapat bahwa syariah dapat ditempuh dengan saling mengambil ideologi-ideologi non-agama dan bahkan bisa menempuhnya dengan pandangan-pandangan agama lain. Pemikiran Gus Dur tersebut, dilatarbelakangi ketika ia pulang dari Universitas Al-Azhar Mesir dan Universitas Baghdad Irak pada tahun 1970-an yang tentunya mempengaruhi jalan pikirannya, karena realitas dan dinamika Islam di Timur Tengah dan Indonesia sama sekali berbeda.

Kedua, Gus Dur merupakan aktivis HAM. Dalam hal ini, Gus Dur mempertentangkan kebebasan dalam beragama. Dalam konteks ini, Gus Dur memakai pemikiran Ibrahim Moosa, seorang pemikir Islam Progresif asal Afrika Selatan. Menurut Moosa, dalam pandangan fiqh klasik, seseorang yang keluar dari agama Islam dianggap murtad. Hal ini berbanding terbalik dengan Deklarasi Hak Asasi Manusia pasal 18 yang menghendaki adanya suatu kebebasan berfikir, berbuat dan beragama, termasuk di dalamnya hak untuk berpindah agama dan kepercayaannya.

 Begitu juga pembelaan Gus Dur terhadap goyang ngebor ala Inul Daratista yang menuai kritik keras oleh tokoh-tokoh agama yang dianggap melanggar kesusilaan. Terhadap polemik tersebut, Gus Dur tampil dengan pembelaannya yang berdasar kepada melindungi HAM wong cilik, yaitu Inul yang terhegemoni elit keagamaan dan klaim atas moralitas kesenian yang agak represif. Jika Gus Dur tidak melakukan pembelaan terhadap Inul, tidak menutup kemungkinan bahwa Ratu Ngebor tersebut akan kehilangan pekerjaannya.

Selain pembelaannya kepada Inul Daratista, Gus Dur tanpa ragu membela pemikiran-pemikiran Ulil Abshar Abdalla seorang intelektual muda NU dan aktivis Islam liberal. Sejumlah ulama dan tokoh NU sendiri menilai bahwa pemikiran-pemikiran Ulil sesat dan keluar dari ajaran Islam, maka pantas untuk dihukum mati. Menyikapi hal itu, Gus Dur berprinsip bahwa perbedaan pendapat haruslah dihargai dan seharusnya tidak memercikkan api konflik maupun kekerasan (Abdurrahman Wahid, 2011: xxvii).

Ketiga, Gus Dur adalah eurosentrisme. Hal ini dapat kita ketahui dalam buku karya Gus Dur, yaitu Prisma Pemikiran Gus Dur (2010). Buku tersebut adalah kumpulan tulisan-tulisan Gus Dur yang dimuat di Jurnal Prisma yang menjadi kendaraan bagi cendekiawan Indonesia untuk memobilisasi pemikirannya pada tahun 70-an hingga 80-an dan Gus Dur menjadi salah satu cendekiawan yang mewarnai kolom-kolom Jurnal Prisma.

Berangkat hal di atas, penulis merasa eurosentrisme Gus Dur merupakan sebuah hal yang sangat menarik. Mengapa demikian? Pada buku Prisma Pemikiran Gus Dur pada Bab 3 yang bertema Menjadikan Hukum Islam sebagai Penunjang Pembangunan, Gus Dur mengutip buku karya salah satu orientalis, yaitu Joseph Schacht (1902-1969) yang berjudul An Introduction to Islamic Law (Oxford, 1964). Fokus kajian Schacht adalah mengenai hukum Islam dan sanad hadis yang terpengaruh oleh Ignaz Goldziher.

Selain itu, dalam buku tersebut dalam bab yang sama, Gus Dur juga mengutip Duncan Black MacDonald (1863-1943) yang merupakan orientalis Amerika Serikat. Gus Dur dalam bab tersebut memandang bahwa hukum Islam tidak hanya berlaku pada kehidupan keagamaan saja, namun hukum Islam merangkul keseluruhan tata kehidupan dalam Islam. Berangkat dari pandangan itu lah Gus Dur mengutip pernyataan MacDonald, yaitu “the science of all things, human and divine.” (Abdurrahman Wahid, 2010: 34-35).

Juga, Cak Nun mempunyai analisis mengenai Gus Dur yang nyeleneh, gendeng, kontroversial, dan membingungkan dapat dilihat dalam asumsi berikut: pertama, secara universal Gus Dur bermaksud untuk menumbuhkan demokrasi setelanjang-telanjangnya. Kedua, dalam konstelasi keindonesiaan Gus Dur bermaksud untuk menerapkan suatu ideologi nasionalisme yang habis-habisan. Ketiga, kaitannya dengan Islam, Gus Dur berkehendak untuk melakukan pembumian nilai-nilai Islam dalam kerangka kultural (Muhammad Rafi’I, 2019: 48-49).

Begitulah Gus Dur. Pemikiran dan tingkah lakunya harus kita hormati sebagai cucu Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, ulama dan bahkan seorang wali yang sudah banyak yang mengakuinya, dan Presiden Keempat Republik Indonesia. Kita pun dapat memahami pemikiran dan tingkah lakunya melalui karya-karyanya maupun risalah-risalah mengenai Gus Dur yang begitu banyak dan penuh akan refleksi dan pembaruan. Al-Fatihah.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.