Serbaserbi

Syadad bin ‘Aad, Penguasa Dunia Pertama yang Menikahi 1.000 Perempuan dan Punya 4.000 Anak

Sedangkan Al-Kisa’i berkisah, ketika ‘Ad mau meninggal, dia mengangkat tiga anaknya untuk menjadi penggantinya, yaitu Syadad, Syadid, dan Arum.

Syadad adalah anak ‘Ad yang terbesar. Dia dituruti oleh banyak pelayan karena sesuatu yang dia miliki setelah kepergian ayahnya. Tatkala keagungannya kian bertambah, dia memerangi raja-raja yang ada di seantero bumi, membunuh mereka, menguasai tanah dan tempat tinggal mereka. Dia memegang tampuk kerajaan dunia dari timur hingga barat dalam genggaman kekuasaannya.

Wahab bin Munabbih mengatakan, belum pernah ada yang bisa menguasai dunia seluruhnya kecuali empat orang: dua Mukmin dan dua lagi kafir. Yang Mukmin adalah Sulaiman bin Daud as dan Iskandar Dzulqarnain. Sementara yang kafir adalah Syadad bin ‘Ad dan Namrudz bin Kan’an.

Menurut pendapat lain, yang satunya lagi adalah Nebukadnezzar. Allah sajalah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.

Membangun Surga di Dunia

Al-Kisa’i mengatakan bahwa Syadad bin ‘Ad dahulunya adalah orang yang sangat tertarik membaca kitab-kitab terdahulu yang telah diturunkan kepada para nabi. Setiap kali dia mendengar tentang sifat-sifat surga, dirinya merasa senang. Dalam hatinya terbersit untuk mendapatkan surga semacam itu di dunia.

Syadad bin ‘Ad memerintahkan salah seorang menterinya, dia memiliki seribu menteri, untuk mengumpulkan orang-orang pintar dan para arsitek untuknya dan menyuruh mereka untuk mencarikan tanah yang luas, udaranya baik, dan banyak sungai dan pepohonannya, untuk membangun surga yang besar untuknya.

Berangkatlah sang menteri beserta pasukannya yang pintar-pintar. Mereka berangkat menyusuri pelosok bumi. Tatkala mereka sampai ke daerah Aden yang ada di pinggiran Yaman, di sana mereka menemukan tanah yang cocok dengan kriteria yang diinginkan Syadad bin ‘Ad.

Mereka kembali kepada Syadad bin ‘Ad, melaporkan tentang tanah tersebut. Setelah mendapatkan laporan tentang tanah tersebut, Syadad bin ‘Ad mengutus tukang bangunan dan para arsitek ke sana. Mereka berkumpul di tanah itu; lalu mereka mengatur-atur dan membatasinya menjadi pola empat sisi. Lingkaran tanah itu berukuran empat farsakh. Setiap sisinya berukuran sepuluh farsakh. Ketika para pekerja itu telah menggali fondasi kota tersebut, di sana mereka telah mendirikan pagar dari batu pualam yang diberi lukisan berbintik-bintik, sisi-sisinya telah setengahnya mereka kerjakan. Hal tersebut mereka laporkan kepada Syadad bin ‘Ad.

Mendengar laporan tersebut, Syadad bin ‘Ad berkata kepada para menterinya, “Tidakkah kalian tahu bahwa aku telah menguasai dunia seluruhnya?”

Para menteri menjawab, “Tahu paduka.”

Dia berkata, “Aku ingin kalian membuat semua bangunan ini dengan emas, perak, permata, mutiara, yakut, minyak kesturi, kafur, zafaron, dan perhiasan-perhiasan indah lainnya.”

Selanjutnya, mereka pun mengumpulkan untuknya semua yang ada pada mereka dan apa yang ada di tangan orang-orang. Mereka pergi ke seantero dunia dan membawa semua yang telah dititahkan. Orang-orang mengerjakan semua itu dengan tabah. Semua pelosok mereka susuri untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh sang raja.

Setelah semuanya terkumpul, mulailah para pekerja membuat bata dari emas dan perak; kemudian bata-bata itu dipasangkan di atas batu pualam itu sehingga sisi-sisinya rampung dikerjakan.

Setelah mereka merampungkan pembuatan pagar kota itu, mulailah di tengah-tengahnya mereka bangun gedung yang bahannya hanya terbuat dari emas dan perak. Untuk bangunan itu tiang-tiangnya mereka buat dari zabarzud hijau dan yakut merah.

Gedung itu mereka percantik dengan pepohonan yang terbuat dari mutiara, yakut, permata, dan sungai yang mengalir. Di sekitar gedung ditebarkan minyak kesturi, anbar (minyak wangi dari ikan), dan kafur. Semua itu mereka bangun dengan kreasi yang menakjubkan dan sempurna yang tidak akan ditemukan bandingannya di dunia ini, bahkan setengahnya pun tidak.

Al-Kisa’i mengatakan, pembangunan kota itu memakan waktu 300 tahun. Setelah pembangunannya selesai, hal itu dilaporkan kepada sang raja.

Mendengar laporan tersebut, raja memerintahkan kepada para menteri, pembantu, dan punggawanya untuk memindahkan perabot dan wadah-wadah yang megah ke sana.

Perintah itu mereka kerjakan selama sepuluh tahun. Setelah mereka selesai, Raja Syadad, beserta seluruh wanitanya, pelayannya, menteri, pembantu beserta wanita-wanitanya, dan para punggawanya, berangka ke sana dengan menggunakan tunggangan yang berpelanakan dari emas yang sempurna hasil kreasi para arsiteknya.

Ketika mereka sampai ke pintu kota itu, dan raja ingin masuk ke sana terlebih dahulu, tiba-tiba ada seorang malaikat yang diutus oleh Allah kepada Syadad.

Malaikat itu berkata, “Hai Syadad, jika engkau mengakui keesaan Allah, maka aku mempersilahkanmu untuk masuk. Akan tetapi, jika engkau tidak mau mengakuinya, maka pada saat ini juga aku akan merenggut ruhmu.”

Mendengar ujaran malaikat itu, Syadad menolak. Ia kafir dan mendurhakainya. Oleh karenanya, malaikat itu berteriak kepada mereka dengan sekali teriakan sehingga mereka semuanya mati, tidak ada seorang pun dari mereka yang masuk ke kota itu.

Wahab bin Munabbih mengatakan, di muka bumi tidak pernah ada sebuah kota yang seperti kota itu. Allah berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,” ( QS al-Fajr [89]: 6-8).

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. As-Sadi mengatakan bahwa kota yang telah dibangun oleh Syadad bin ‘Ad hingga saat ini masih ada. Seorang laki-laki keturunan Arab yang bernama ‘Abdullah bin Qilabah pernah masuk ke sana. Kejadian itu terjadi pada masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan pada tahun 48 H.

Kota Ajaib

Suatu ketika seorang pemuda bernama Abdullah bin Qalaba tengah mencari untanya yang hilang. Ia berjalan ke sana ke sini untuk mencari untanya yang hilang hingga sampai ke wilayah Aad. Di tengah wilayah yang asing itu, ia menemukan sebuah kota yang dikelilingi parit.

Dalam buku Hayatul Qulub karya Sayyid Muhammad Baqir Al-Majlisi dijelaskan, Abdullah pun mendekat dan mengira kota itu berpenghuni sehingga ia bisa mencari informasi tentang untanya. Namun setelah mendekat, ia tidak berjumpa dengan siapapun yang hendak ke kota itu.

Kemudian, sampailah Abdullah di gerbang kota itu. Ia turun dari unta betinanya dan menambatkan hewan itu. Abdullah kemudian mengeluarkan pedang dari sarungnya dan berjalan memasuki kota. Ia melihat dua gerbang lagi yang jauh lebih tinggi dibandingkan yang pernah ditemui siapapun.

Gerbang itu tebuat dari kayu dupa dan bertatahkan batu rubi berwana kuning dan merah yang memancarkan sinar ke area sekitarnya. Melihat pemandangan ini, ia terpesona. Dibukanya pintu dan ia masuk. Ternyata ia menemukan sebuah kota lagi yang sama berkilau dan sama indahnya dengan kota pertama.

Ia melihat sejumlah istana di dalamnya yang dibangun dengan pilar-pilar bertatahkan zamrud dan rubi. Semua istana memiliki jendela, dan semuanya tersusun dari emas, perak, mutiara, rubi, dan zamrud. Gerbang istana ini pun serupa dengan gerbang di kota sebelumnya yang terbuat dari kayu dupa bertatahkan rubi.

Lantai istana bertaburkan mutiara, misik, dan safran. Ketika memandang ke dalam dan tidak menemukan satu orang pun, ia menjadi ketakutan. Istana itu dikelilingi kebun yang ditanami berbagai pohon buah-buahan. Sungai mengalir di bawah pepophonan itu. Abdullah mengira taman ini serupa dengan surga yang dijanjikan Allah bagi orang shaleh.

Abdullah pun bersyukur karena Allah memberinya kesempatan memasuki ‘surga’ di dunia. Kemudian, ia mengambil mutiara, misik, dan safran sebanyak-banyaknya. Tapi dia tidak berhasil mencabut satu pun rubi ataupun zamrud dari sana. Ia pun bergegas keluar menuju untanya, dan pulang ke Yaman.

Sesampainya di Yaman, Abdullah segera menceritakan perihal kota ‘ajaib’ yang dikunjunginya kepada teman-temannya. Dengan cepat, kisah itu tersebar dari mulut ke mulut hingga sampai ke telinga Muawiyah melalui Ka’ab bin Akhbar.

Ka’ab pun menjelaskan kepada Muawiyah bahwa kota yang didatangi Abdullah mirip dengan cerita tentang kota yang dibangun Syadad putra Aad. Itulah kota Iram yang disebut Allah di dalam Alquran dengan sebutan: tidak ada kota yang dibangun seperti kota itu.

Betapa takjubnya Muawiyah ketika diberitahu ada seorang rakyatnya dari golongan Muslim, dengan wajah merah, rambut merah, perawakan pendek, dan leher ramping dapat memasuki kota itu. Bahkan dapat masuk hanya untuk mencari untanya.

Ibnu Babawyh dalam kitab Al-Mua’amirun menjelaskan, Hisyam bin Sa’ad berkata: “Aku melihat batu di Alexandria yang berterakan tulisan. Tulisan itu berbunyi: “Aku adalah Syadad, putra Aad. Aku yang membangun kota Dzat al-Imad. Tidak ada kota yang menyerupainya.”

“Aku telah menggalang pasukan besar dan menaklukkan tanah demi tanah dengan kekuatanku. Dan kudirikan istana-istana Iram, pada masa, ketika tiada orang berusia tua atau mati. Dan batu-batu seperti bunga. Dan aku tenggelamkan ke lapisan kedua belas sehingga tak ada seorang pun yang bisa menyelamatkannya. Tetapi, umat Muhammad akan mengeluarkannya.”

Letak Kota Dzat Al-Imad

Keberadaan Dzat Al-Imad disebutkan dalam Alquran surat Al-Fajr ayat 17:

إِرَمَ ذَاتِ ٱلْعِمَادِ

Irama żātil-‘imād “(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.”

Syekh Wahbab az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz, menjelaskan Ad adalah masyarakat Ar Ramilah yang terletak di Ar Rubu’ Al Khali, antara Hadramaut dan Najran di arah timur Jazirah Arab. Nabi mereka adalah Hud.

Suatu ketika, Syekh Al-Bassam ditanya ketika mengajar di Masjidil Haram tentang apakah itu Iram yang memiliki bangunan tinggi? Syekh menjawab, ”Ia adalah negara Ad, kaumnya Hud ia terletak di Ar Rubu’ Al Khali yang dekat dengan Hadramaut dan Al Ahqaf itulah yang disebut An Nufud atau Ar Rimal yang menyerupai dengan gunung tinggi yang meliuk-liuk.”

Sedangkan SyaikhUmar Sulaiman Al Asyqar dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir menjelaskan Kaum ‘Ad penduduk kota Iram, nama lain dari kaum ‘Ad. Yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, penghuni kemah-kemah yang tinggi.

(mhy) Miftah H. Yusufpati

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.