Serbaserbi

Doa Nabi Hud agar Istri-Istri Kaum Raksasa Mandul dan Azab Allah Terhadap Kabilah Ad

Nabi yang diutus setelah Nabi Nuh adalah Nabi Hud bin ‘Abdillah bin ‘Aush, salah satu putra Sam bin Nuh. Dia termasuk bagian dari kabilah ‘Ad. Mereka orang-orang Arab yang menempati al-Ahqaf, yaitu sebuah pegunungan pasir yang terletak di daerah Yaman antara Oman dan Hadramaut yang dekat ke laut asin.

Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas dalam bukuyang telah diterjemahkan oleh Abdul Halim berjudul “Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman”menyebutkan kaum Ad adalah kaum pertama yang menyembah berhala setelah terjadinya bencana banjir. Mereka diciptakan oleh Allah dengan postur, perawakan, dan kekuatan yang lebih besar dari pada manusia lain yang hidup pada zaman itu.

Kabilah-kabilah ini dipimpin oleh seorang raja bernama Jalijan yang tingginya sekitar 100 siku. Oleh karena itu, ketika berdiri dia bisa menutupi matahari dari bumi, dan ketika dia meletakkan lengannya di atas sebuah gunung, dia bisa menghancurkannya dari semua sisinya.

Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa tinggi dari postur laki-laki kaum ‘Ad adalah 100 siku dan yang paling pendeknya seukuran 60 siku. Mereka belum mencapai dewasa kecuali setelah berumur 100 tahun.

Mereka bisa mencapai umur lebih dari 400 tahun, tidak pernah terlihat orang-orang kalangan mereka yang meninggal dan belum pernah ditemukan jenazah. Ukuran kepala mereka kira-kira sebesar kubah yang besar. Mereka adalah kaum yang kejam dan menyembah berhala.

Wahab bin Munabbih adalah salah seorang pemuka Tabi’in dan ahli dalam bidang sejarah. Ia diperkirakan berasal dari Arab Selatan dan berketurunan Persia dengan memiliki pengetahuan yang mendalam tentang kitab suci dan tradisi dari Yahudi dan Nasrani, sehingga memiliki banyak riwayat kisah Israiliyat.

Menurut dia, 60 orang laki-laki dari kaum Musa pernah berteduh di dalam tengkorak kepala seorang laki-laki dari kaum Amalaqah. Zaid bin Aslam mengatakan, “Aku pernah melihat seekor serigala beserta anak-anaknya sedang berkumpul dalam kelopak mata seorang laki-laki dari kaum Amalaqah. Dan aku pernah menimbang satu gigi gerahamnya, ternyata beratnya mencapai 10 kati.”

Doa Nabi Hud

Wahab bin Munabbih mengatakan, ketika kejahatan kaum itu kian memuncak, Allah mengutus Hud.

Jibril turun kepadanya dan berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengutusmu kepada kaum ‘Ad. Berilah mereka peringatan dan beritahukanlah mereka bahwa Aku (Allah) telah memberi mereka tempo yang lama dan mereka telah Aku beri kekuatan yang belum pernah diberikan kepada siapapun sebelum mereka.”

“Aku jadikan mereka para pembesar yang menguasai emas dan menjadikan mereka sebagai orang yang paling panjang umurnya. Datanglah kepada mereka dan serulah mereka untuk bertauhid agar mereka kembali dari menyembah berhala kepada menyembah Allah.”

Nabi Hud datang kepada mereka pada waktu hari raya mereka. Di sana, para pembesar sedang berkumpul dan Raja Jalijan duduk di atas ranjang yang terbuat dari emas. Kepalanya memakai mahkota bertatahkan permata yang megah.

Mereka tidak menyadari apapun kecuali suara Hud yang mengatakan: “Wahai orang-orang, beribadahlah kalian kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Kalian tidak memiliki tuhan kecuali Dia. Berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah ini adalah yang menyebabkan kaum Nuh, sebelum kalian, ditenggelamkan.”

Ketika Raja Jalijan melihatnya, dia berkata, “Celaka engkau wahai Hud. Apakah engkau menyangka, dengan kelompok kami, dan kukuhnya kekuatan kami ini, bisa mengalahkan kami dengan pernyataan-pernyataan tersebut? Tidak tahukah engkau bahwa setiap sehari semalam seribu anak kami terlahir?”

Tatkala Hud merasa bosan mengajak mereka untuk mengesakan Allah, tetapi mereka tidak mendengarkannya, dia memohon kepada Allah agar wanita-wanita mereka dimandulkan sehingga pada tahun itu tidak ada satupun wanita yang hamil.

Mereka mengadukan hal tersebut kepada Raja Jalijan. Mereka berkata, “Sesungguhnya Hud telah membuat istri-istri kami mandul. Kami khawatir apa yang dikatakannya itu memang benar.”

Kemudian Allah mewahyukan kepada Hud, “Kabarkanlah kepada kaummu agar mereka beriman kepada-Ku. Jika mereka tetap tidak beriman, maka akan Aku kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan.”

Ketika mereka mendengar kabar itu dari Hud, mereka melemparinya dengan batu. Hud tetap mengajak mereka selama 70 tahun dan di saat itu mereka terus-menerus melemparinya dengan batu.

Ketika Hud merasa putus asa dengan mereka, dia berkata, “Wahai Tuhanku, Engkau tahu bahwa sesungguhnya aku telah menyampaikan risalah-Mu kepada kaum ‘Ad, tetapi mereka tetap dalam kekafiran mereka karena kesesatan mereka yang nyata.”

Selanjutnya, Allah menghentikan hujan dari mereka selama tujuh tahun. Setelah tanah mereka mengering, hewan-hewan ternak mereka binasa, sementara kebutuhan mereka kian meningkat sehingga mereka banyak yang mati hingga mencapai setengahnya.

Delegasi Kaum Ad

Ibnu Katsir dalam kitabnya berjudul “Qashash Al-Anbiyaa” mengatakan kaum Ad sempat mengirim delegasi ke Baitul Haram untuk berdoa.

Menurut Ibnu Katsir, terkait doa yang mereka panjatkan, para ulama tafsir dan ulama lainnya menukilkan sebuah riwayat yang pernah disebutkan oleh Imam Muhammad bin Ishaq bin Yashar yang mengisahkan sbb:

Ketika kaum Ad terus menolak dan memilih untuk kafir kepada Allah, maka setelah itu mereka dilanda kekeringan selama tiga tahun tanpa ada hujan sedikit pun, hingga kehidupan mereka terasa semakin sulit.

Dan pada masa itu, jika masyarakat merasa sedang dalam kesulitan mereka meminta kepada Allah untuk dibebaskan dari kesulitan itu, dengan cara mendatangi rumah suci di tanah Haram, dan cara itu dikenal oleh seluruh masyarakat pada zaman itu.

Saat itu, tanah Haram ditinggali oleh Bani Amalik, yaitu keturunan dari Imlik bin Laudz bin Sam bin Nuh.

Sedangkan orang yang dituakan di sana adalah seorang laki-laki yang bernama Muawiyah bin Bakar, dan kebetulan ibunda Muawiyah yang bernama Jalhadzah binti Al-Khaibari juga berasal dari kaum Ad.

Kemudian, kaum Ad mengutus delegasinya yang kira-kira berjumlah tujuh puluh orang, mereka ditugaskan untuk berdoa di tanah Haram memohon agar kaumnya segera diturunkan hujan.

Lalu sesampainya delegasi itu di Kota Mekkah, mereka langsung menemui Muawiyah bin Bakar dan menceritakan kondisi masyarakat mereka, kemudian mereka meminta izin kepada Muawiyah untuk menetap di sana untuk sementara.

Hanya saja, di sana mereka dihidangkan dengan minuman keras dan mendengarkan senandung nyanyian dari dua orang penyanyi wanita yang memang disediakan oleh Muawiyah.

Setelah satu bulan mereka di sana dan Muawiyah merasa sudah terlalu lama menjamu mereka, ia juga tidak enak hati dengan para penduduk Haram lainnya, maka ia berkeinginan agar para delegasi itu segera pulang. Tapi tentu saja ia juga tidak sanggup untuk mengusir para delegasi itu secara langsung. Maka ia pun membuat syair yang menyinggung mereka agar segera pergi, dan menyuruh dua orang penyanyi wanitanya untuk melantunkan syair itu di hadapan mereka.

Isi syair tersebut antara lain,

Hei orang-orang yang meminta jawaban, sadarlah dan bangunlah,

Berdoalah kalian, semoga Allah mengirimkan mendung esok pagi.

Hingga bumi Ad dapat terkucurkan dengan hujan,

Kaum Ad sudah tidak mampu berkata-kata lagi akibat kehausan.

Kita tidak ingin kehilangan para orang tua,

Begitu juga anak-anak kecil dan kaum wanita.

Kemarin mereka masih dalam keadaan baik-baik saja,

Namun sekarang para wanita harus menjadi janda tanpa harta.

Kekejaman itu telah datang kepada mereka terang-terangan,

Tidak takut dengan panah-panah kaum Ad yang terhunus.

Dan kalian di sini hendak mengubah keadaan itu,

Namun siang dan malam silih berganti kondisi tetap sama.

Karena delegasi yang diutus tidak mampu menyelesaikannya,

Hingga tidak mendapatkan penghargaan dan ucapan selamat.

Setelah mendengar senandung itu, para delegasi tersadar dengan tujuan utama mereka datang ke tanah Haram. Maka mereka segera bangkit dan berangkat menuju rumah suci untuk mendoakan kaum mereka.

Sesampainya mereka di sana, pemimpin delegasi yang bernama Qail bin Atir segera memanjatkan doa. Setelah doa itu dipanjatkan, Allah menyiapkan tiga awan bagi mereka, awan putih, awan merah, dan awan hitam.

Kemudian suara dari langit berseru kepada pemimpin delegasi itu, ”Pilihlah salah satu dari awan ini untukmu atau untuk kaummu.”

Pemimpin delegasi itu segera menjawab, “Aku memilih awan hitam, karena awan hitam adalah awan yang paling banyak menyimpan air.”

Maka dikatakan lagi kepadanya, “Kamu telah memilih awan yang penuh dengan debu dan menghanguskan, awan yang membuat seorang ayah lari ketakutan dan tidak lagi memperhatikan anaknya, awan yang akan membuat semua kaum Ad binasa, kecuali mereka yang berada di kediaman Bani Laudzah. Yakni, sekelompok orang dari kaum Ad yang tinggal sementara di Kota Mekkah, mereka tidak merasakan azab yang ditimpakan kepada kaum mereka di kampung halaman, dan mereka itulah beserta keturunannya yang menjadi kaum Ad generasi kedua.”

Azab Allah terhadap Kaum Ad

Muhammad bin Ishaq melanjutkan: Setelah dipilih oleh Qail bin Atir, awan yang berisikan azab itu bertiup menuju pemukiman kaum Ad. Melihat awan itu kaum Ad terlihat bergembira.

Mereka berkata, “Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita. Namun kegembiraan itu sirna dalam sekejap, karena difirmankan oleh Allah “(Bukan!) Tetapi itulah azab yang kamu minta agar disegerakan datangnya, (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya” yakni, membinasakan apapun yang diperintahkan kepadanya.”

Orang pertama yang melihat dan mengetahui bahwa awan itu adalah azab dari Allah adalah seorang wanita dari kaum Ad, seperti diriwayatkan bahwa ia bernama Mahdu.

Setelah jelas terlihat olehnya, maka ia pun menjerit dan terjatuh pingsan. Ketika dibawa oleh penduduk lain dan tersadar dari pingsannya, para penduduk bertanya, “Apakah yang baru saja kamu lihat wahai Mahdu?”

Ia menjawab, “Aku melihat ada angin menggulung-gulung dan berkobar seperti api, di bagian depan angin itu ada beberapa orang (malaikat) yang mengendalikannya.”

Allah SWT berfirman, “Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus.” (QS Al-Haqqah: 7).

Sementara itu, Nabi Hud dan orang-orang beriman (seperti diriwayatkan kepadaku) mereka telah bersembunyi terlebih dahulu di sebuah tempat tersembunyi, mereka sama sekali tidak merasakan adanya azab tersebut, mereka hanya merasakan kenyamanan dan ketenangan. Tidak seperti kaum Ad lain pada umumnya, mereka beterbangan di antara langit dan bumi, serta dihantam oleh batu-batu yang juga beterbangan bersama mereka.”

Azab Kaum dalam Al-Quran

Di dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan tentang kisah pembinasaan kaum Ad tidak hanya pada satu ayat saja dan tidak hanya satu bentuk saja, karena kisah pembinasaan itu ada yang disebutkan secara global dan ada juga yang disebutkan secara terperinci.

Ibnu Katsir menyampaikan contoh ayat-ayat yang menerangkan secara global, antara lain firman Allah, “Maka Kami selamatkan dia (Hud) dan orang-orang yang bersamanya dengan rahmat Kami dan Kami musnahkan sampai ke akar-akarnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Mereka bukanlah orang-orang beriman.” (QS Al-A’raf: 72),

Juga firman Allah:

“Dan ketika azab Kami datang. Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat Kami. Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat. Dan itulah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda (kekuasaan) Tuhan. Mereka mendurhakai Rasul-rasul-Nya dan menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi durhaka. Dan mereka selalu diikuti dengan laknat di dunia ini dan (begitu pula) di Hari Kiamat. Ingatlah. kaum ‘Ad itu ingkar kepada Tuhan mereka. Sungguh, binasalah kaum “Ad, umat Hud itu.” (QS Hud: 58-60).

Selanjutnya firman Allah Taala:

“Lalu mereka benar-benar dimusnahkan oleh suara yang mengguntur, dan Kami jadikan mereka (seperti) sampah yang dibawa banjir. Maka binasalah bagi orang-orang yang zhalim.” (QS Al-Mukminun: 41).

Allah Taala juga berfriman: “Maka mereka mendustakannya (Hud), lalu Kami binasakan mereka. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sungguh, Tuhanmu, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS Asy-Syu’araa’: 139-140).

Adapun ayat Al-Qur’an yang menerangkan pembinasaan itu secara terperinci contohnya adalah firman Allah, “Maka ketika mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.” (Bukan!) Tetapi itulah azab yang kamu minta agar disegerakan datangnya (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih.” (QS Al-Ahqaf: 24).

(mhy) Miftah H. Yusufpati

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.