Serbaserbi

Mengapa Abu Bakar Berani Sedekahkan 100% Hartanya

Mengapa Abu Bakar berani sedekahkan 100% hartanya? Pertanyaan ini boleh jadi mengusik sebagian umat Islam. Tatkala menjelang perang Tabuk, Rasulullah SAW mengimbau agar umat Islam membantu dalam bentuk harta dan tenaga. Abu Bakar Ash-Shiddiq lantas mengumpulkan harta yang ia miliki. Semua harta itu diberikan kepada Rasulullah SAW.

“Wahai Abu Bakar, apa yang engkau tinggalkan di rumahmu?” tanya Rasulullah SAW.

Abu Bakar menjawab, “Allah SWT dan Rasul-Nya.” Maksudnya adalah perbekalan berupa keridhaan-Nya dan Rasul-Nya.

Dalam Kitab Fadhilah Amal yang ditulis oleh Maulana Zakariyya Al Khandahlawi para ulama sepakat bahwa turunnya wahyu surat Al-Lail ayat 17-21 berkenaan dengan Abu Bakar Shiddiq. Allah Taala berfirman:

وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى

الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ

وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَىٰ

إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ

وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ

Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu. Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya. Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” ( QS Al-Lail : 17-21).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang yang akan dijauhkan Allah dari neraka hanyalah orang yang benar-benar bertakwa dan orang yang paling baik dalam menjaga diri, terutama dalam masalah membelanjakan harta kekayaannya yang ditujukan hanya demi mengharap balasan dari Allah SWT semata.

Apabila hal tersebut dimiliki oleh seorang Muslim, pasti kelak Allah akan memberikan keridhaan-Nya kepada seorang hamba yang benar-benar menyifati dirinya dengan sifat-sifat mulia, seperti yang telah dicontohkan oleh Abu Bakar.

Kemudian, Ibnu Katsir meriwayatkan kisah yang berbeda tentang Abu Bakar. Jadi, suatu ketika Rasulullah bersabda, “Barang siapa menginfakkan sepasang harta di jalan Allah, maka malaikat penjaga surga akan memanggilnya, ‘Wahai hamba Allah, yang demikian itu sangatlah baik.'”

Kemudian Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang dipanggil darinya dalam keadaan darurat, apakah akan dipanggil seseorang darinya secara keseluruhan?” Beliau menjawab, “Ya, dan aku berharap engkau termasuk salah seorang di antara mereka.” (HR Bukhari Muslim).

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Harta seseorang tidak memberikan manfaat bagiku sebanyak harta Abu Bakar.”

Setelah mendengar sabda Rasulullah tersebut, Abu Bakar Shiddiq menangis dan berkata, “Wahai Rasulullah, apakah diri saya dan harta saya menjadi milik selain engkau?” Sabda Nabi SAW ini banyak diriwayatkan dari beberapa sahabat dalam beberapa riwayat.

Memerdekakan Budak

Urwah RA berkata, ketika Abu Bakar masuk Islam, ia mempunyai uang sebanyak 40.000 dirham, semuanya dibelanjakan untuk Rasulullah SAW (yakni dalam keridhaan Rasululullah).

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ketika ia masuk Islam, ia mempunyai uang sebanyak 40.000 dirham. Dan pada waktu hijrah, yang tersisa hanya 5000 dirham. Harta itu digunakan untuk memerdekakan hamba-hamba sahaya (yang disiksa karena masuk Islam) dan untuk keperluan agama.

Abdullah bin Zubair berkata bahwa Abu Bakar Shiddiq selalu membeli hamba sahaya yang lemah lalu memerdekakannya.

Ayahnya, Abu Quhafah RA berkata, “Jika kamu ingin memerdekakan hamba sahaya, merdekakanlah hamba sahaya yang kuat-kuat, karena dia akan bisa membantumu dan bisa berguna bagi kita.

Abu Bakar Shiddiq menjawab, “Saya tidak memerdekakan budak untuk diri saya, tetapi saya memerdekakannya untuk mencari keridhaan Allah.”

Suatu hari Abu Bakar melihat Bilal yang negro itu oleh tuannya dicampakkan ke ladang yang sedang membara oleh panas matahari, dengan menindihkan batu di dadanya lalu dibiarkannya agar ia mati dengan begitu, karena ia masuk Islam.

Dalam keadaan semacam itu tidak lebih Bilal hanya mengulang-ulang kata-kata: “Ahad, Ahad”. Ketika itulah ia dibeli oleh Abu Bakar kemudian dibebaskan!

Begitu juga Amir bin Fuhairah oleh Abu Bakar ditebus dan ditugaskan menggembalakan kambingnya. Tidak sedikit budak-budak itu yang disiksa, laki-laki dan perempuan, oleh Abu Bakar dibeli lalu dibebaskan.

Dalam menjalankan dakwah, Abu Bakar tidak hanya berbicara saja dengan kawan-kawannya dan meyakinkan mereka. Abu Bakar juga menghibur kaum dhuafa dan orang-orang miskin yang disiksa dan dianiaya oleh musuh-musuh Islam.

Tidak hanya dengan kedamaian jiwanya, dengan sifatnya yang lemah lembut, tetapi ia menyantuni mereka dengan hartanya.

Abu Bakar menggunakan hartanya untuk membela golongan lemah dan orang-orang tak punya. Orang-orang yang telah mendapat petunjuk Allah ke jalan yang benar, lalu dianiaya oleh musuh-musuh kebenaran itu.

(mhyMiftah H. Yusufpati

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.