Keagamaan

Zubaidah binti Ja’far Al-Mansur: Perempuan di Balik Zaman Keemasan Islam – Alif.ID

Nama Khalifah Harun Ar-Rasyid merupakan nama yang masyhur kita sebut-sebut ketika membahas dan mengulik zaman keemasan islam. Sebuah zaman yang masyarakatnya sibuk terhadap dunia keilmuan baik sains maupun agama pada Dinasti Abbasiyah. Namun, suatu hal yang mengejutkan ketika saya menemukan ada nama lain. Seorang wanita yang menjadi latar belakang terwujudnya zaman keemasan atau dalam bahasa lain disebut the golden age, beliau ialah Zubaidah binti Ja’far Al-Mansur.

Zubaidah merupakan putri dari khalifah Ja’far Al-Mansur, khalifah kedua Dinasti Abbasiyah. ibunya yang bernama Salsabil melahirkannya di Mosul, Irak pada 766 M. Dikemudian hari Ia menjadi istri dari khalifah Harun Ar-Rasyid pada 781 M dan mendorong sang khalifah untuk melakukan gebrakan-gebrakan untuk memajukan peradaban.

Pribadi Zubaidah merupakan seorang yang cerdas, cemerlang, dan cinta ilmu. Salah satu ilmu yang sangat ia gemari ialah sastra, sebuah ilmu yang berkutat dalam keindahan-keindahan bahasa. Konon, saking cintanya terhadap ilmu ini Ia sering mengundang para cendekia dan sastrawan. Diantara para sastrawan tersebut ada Husein bin Ad-Dahak, Al-Jahiz (sastrawan, filsuf, dan ilmuwan), bahkan Abu Nuwas, seorang penyair jenaka yang sering kita dengar dan baca namanya dalam kisah-kisah 1001 malam.

Tak hanya mahir dan tertarik pada sastra, Ia merupakan penghafal Al-Quran, ahli fikih, dan tentunya ahli ibadah serta berakhlak baik. Lebih hebatnya lagi, Zubaidah memiliki seratus pelayan yang hafal Al-Quran dan tiap hari melakukan semaan di istana. Maka tak ayal lagi kalau gelar ulama melekat pada dirinya. Saking cemerlangnya beliau, di majalah Asy-Syarq dengan judul “Perempuan Ulama Islam Pada Abad Pertengahan” Dr. Muhammad Ahmad Abdul Hadi menulis:

وهذه زبيدة زوج هارون الرشيد، كانت حافظة عالمة قارئة نشأت مولعة بالشعر محبة للأدب حتى إنها تزين حيطان غرفتها بالستائر الموشاة بالأبيات الجميلة من الشعر البديع.

“Lihatlah! Zubaidah istri/permaisuri Harun ar-Rasyid adalah perempuan ulama yang hafal al-Qur’an, aktiif dalam dunia sastra dan seni. Dinding kamar-kamarnya dihiasi dengan kaligrafi berisi puisi-puisi indah” (Perempuan Ulama Di Atas Panggung Sejarah, hal 125)

Mungkin kecermelangan akal dan hati inilah yang membuatnya memiliki inovasi di berbagai bidang sebagai ibu negara. Dalam hal kenegaraan, sebagai ibu negara Ia cakap dalam membantu tugas suaminya tak terkecuali ketika khalifah pergi ke luar kota. Selain itu, Ia juga mengusulkan pada suaminya untuk membangun fasilitas-fasilitas pendidikan, gedung kesenian, serta perpustakaan yang kelak dikenal dengan nama “Baitul Hikmah” atau rumah kebijaksanaan dalam bahasa kita.

Pada buku Perempuan ulama Di Atas Panggung Sejarah, KH. Husein Muhammad menjelaskan bahwa Baitul hikmah berfungsi sebagai tempat menghimpun buku-buku dan karya-karya ilmu pengetahuan dari penjuru dunia, juga sebagai Lembaga penelitian dan penerjemahan. (Hal. 124). Tak hanya itu, ia meminta suaminya untuk mendirikan majelis mudzakarah sebagai Lembaga pengkajian masalah-masalah agama di banyak tempat.

Kebijakan lain yang cukup revolusioner pada zamannya ialah dengan membangun megaproyek saluran air sepanjang sepuluh kilometer dari Makkah hingga Hunain. Kebijakan yang menghabiskan 1.500.000 dinar, bahkan ada yang mengatakan 1.700.000 dinar tersebut ialah akibat dari bentuk keprihatinannya terhadap para jamaah haji yang kesulitan mendapat air minum ketika perjalanan haji. Megaproyek yang bernama “Ain Zubaidah” ini konon tidak ada yang menandinginya bahkan laki-laki sekalipun, hal ini pulalah yang menunjukkan betapa humanisnya gagasan-gagasan yang diberikan oleh Zubaidah untuk rakyatnya dan menjadikan masa kepemimpinan Khalifah Harun Ar-Rasyid menjadi zaman keemaasan Islam.

Mungkin itu pula yang membuat Bung Karno mengatakan pada acara ramah tamah dengan Korps Wanita Angkatan Bersenjata di Istana Negara Jakarta, pada 28 Desember 1965. Ia mengatakan, Perempuan selalu ikut dalam setiap revolusi besar sepanjang sejarah manusia, seperti Zubaidah yang pernah membangun saluran air hingga Makkah. (republika.co.id/zubaidah binti jafar putri istana yang dermawan)

Zubaidah wafat di Baghdad pada tahun 831 M. dan di makamkan di pemakaman Quraisy. Bergitulah Ia menjadi potret pemimpin yang bijaksana, keteladanan yang Ia tinggalkan seharusnya dihidupkan Kembali pada setiap diri perempuan agar mampu aktif menjadi pemimpin yang membawa rakyat Makmur, baik tingkat regional maupun nasional.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.