Keagamaan

Sisi Manusiawi Rasulullah Saw (1): Ketika Nabi Dilanda Cemburu – Alif.ID

Nabi Muhammad Saw pernah memendam rasa cemburu kepada para sahabatnya. Hal ini berawal dari posisinya yang sentral di tengah masyarakat Madinah, baik sebagai pemimpin agama ataupun kepala negara. Kala itu rumah Nabi menjadi poros utama bagi seluruh penduduk Madinah, bahkan rumah Nabi menjadi tempat perlindungan bagi kaum muslim yang tidak memiliki keluarga dan tempat tinggal sehingga untuk sekedar makan mereka sering pergi ke rumah Nabi. (Bukhari, Shahih Bukhari: 55/8).

Dalam situasi seperti itu, sebagai seorang suami, rasa cemburu dalam hati Kanjeng Nabi mulai tumbuh. Setiap hari rasa cemburu itu hinggap dalam hatinya hingga terkadang membuat Nabi merasa galau, marah dan perasaan tidak enak lainnya. Pasalnya, para sahabat yang awalnya hanya ingin belajar, malah meminta suguhan makan. Mereka seringkali keluar masuk dari bilik Nabi.

Para sahabat pun melihat dan memandang (baik sengaja atau tidak) Ummul Mukminin. Tidak hanya itu, bahkan beberapa orang di antara mereka mulai berani ngobrol, berbincang-bincang ngalor-ngidul dengan para istri Nabi Muhammad. [Syeh Nawawi Al-Bantani, Murrahu Labid: 259/2]

Namun, Kanjeng Nabi lebih memilih untuk memendam kecemburuan itu dalam hatinya. Sayang, usaha beliau itu tidak berhasil. Kecemburuan yang dicoba dipendam ternyata terus memuncak. Apa lagi setelah salah seorang sahabat menyentuh tangan Siti Aisyah. Peristiwa itu terjadi saat Nabi Muhammad sedang makan bersama dengan para sahabatnya. Sungguh, kejadian itu membuat Nabi Muhammad hampir tidak kuasa menanggung rasa cemburu.

Sementara saat kecemburuan memuncak, wahyu seolah teputus. Jibril seakan berpaling dan Nabi tidak mendapatkan informasi apa pun untuk mengatasi kecemburuan tersebut. Hingga pada akhirnya, Allah SWT menurunkan aturan-aturan untuk mengajarkan sopan-santun kepada umat Islam. Aturan itu sebagaimana tertuang dalam surah Al-Ahzab ayat 53.

Allah menurunkan Al-Qur’an yang berisi tentang sopan-santun lantaran ada sahabat nabi yang sudah berani memiliki pikiran-pikiran “keji” kepada para Ummul Mukminin khususnya Siti Aisyah. Dikatakan, sahabat itu adalah Thalhah bin Ubaidillah. Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Murrahu Labid [259/2], meriwayatkan, bahwa sahabat Thalhah ini pernah menyukai istri Nabi yang cerdas dan cantik, yaitu Siti Aisyah. Ia mengatakan dalam hatinya;

إذا قبض رسول الله صلّى الله عليه وسلّم نكحت عائشة

Jika Rasulullah nanti sudah wafat, aku akan menikahi siti Aisyah.”

Peristiwa lain yang mencerminkan sifat kemanusiaan Nabi Muhammad adalah tragedi yang terjadi saat menjelang perang melawan Bani Mushthaliq. Tragedi ini tidak hanya menyakiti hati Nabi namun secara khusus membuat hancur hatinya Siti Aisyah dan secara umum membuat gaduh Umat Islam karena istri Nabi yang suci tercoreng dengan berkembangnya fitnah bahwa Siti Aisyah telah melakukan perbuatan tidak senonoh (selingkuh) dengan Shafwan.

Kecemburuan yang diperkeruh oleh gosip yang terjadi di seluruh seantero Madinah, mempengaruhi Nabi. Beliau merasa perlu untuk memberikan pelajaran lebih. Karena keadaan semakin genting akhirnya Nabi dipengaruhi fitnah dan dilumat kecemburuan buta kepada Shafwan dan Siti Aisyah. Beliau mengatakan kata-kata yang meruntuhkan semua kekuatan fisik dan psikisnya Siti Aisyah. Syekh Nawawi Al-Bantani [Mirahu Labid, juz 2/1], menukil suatu riwayat yang mengambarkan situasi itu;

Beliau mengatakan, “Wahai Aisyah, telah sampai gonjang-ganjing tentangmu kepadaku. Jika kau memang tidak melakukan,  semoga Allah akan membebaskanmu. Namun, jika kau memang terjerumus dengan suatu dosa (selingkuh), maka minta ampunlah kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya.”

Tersentaklah Siti Aisyah mendengar ucapan Nabi. Tumpah air matanya tak dapat dibendung setelah semalam suntuk menangis. Ucapan Nabi bak belati yang dihujam keras ke dalam hatinya. Dalam kondisi paling lemah, Aisyah masih berusaha dengan sisa-sisa kekuatannya untuk membela diri.

Beliau mengatakan, “Demi Allah aku tidak akan pernah bertobat dari apa kauucapkan barusan. Demi Allah jika aku mengakui hal itu niscaya kau akan membenarkannya. Dan jika aku mengingkarinya kau pasti tidak akan percaya. Aku hanya bisa berkata sebagaimana Nabi Yusuf dulu pernah berkata [Surah Yusuf: 18].”

Di saat yang sama Jibril datang membawa wahyu. Nabi Muhammad terlihat berbeda ketika dikuasai oleh Malaikat. Sementara itu, kedua orang tua Aisyah cemas ketakutan, khawatir wahyu ini akan menelanjangi putri mereka dari kebohongan yang coba dipendam.

Akan tetapi, setelah proses transfer wahyu selesai, wajah Nabi tampak berbinar. Segala beban pikiran dan kecemburuan buta yang dipikul seolah lepas terurai dari pundaknya. Beliau lalu bersabda: “Berbahagialah… Kau Aisyah, sungguh Allah telah membebeaskanmu (dari fitnah yang ditujukan padamu melalui Jibril  yang datang padaku)!”

Akhirnya, Siti Aisyah dibebaskan langsung oleh Allah melalui pesan yang diturunkan malaikat Jibril yang diabadikan dalam Al-Qur’an  Surah An-Nur ayat 11-17. Senang semua keluarganya mendengar berita itu. Lalu Siti Aisyah dengan mantap tanpa ragu sedikit pun di hatinya, dengan kepercayaan tinggi setelah mendapat dukungan Tuhan langsung, merespon perkataan Nabi:

فقلت بحمد الله لا بحمدك، ولا بحمد أصحابك

Siti Aisyah menjawab, Dengan segala puji hanya kepada Allah (yang telah membebaskanku dari fitnah yang keji), bukan pujian kepadamu (Nabi Muhammad) dan (apa lagi) pujian untuk para Sahabtmu.

Dari beberapa peristiwa-peristiwa itu, kecemburuan yang secara naluriah kemanusiaan tumbuh dan berkembang di dalam diri Rasulullah dan sempat mengganggu pikiran beliau membawa hikmah tersendiri. Puncaknya, Al-Qur’an turun untuk mengajarkan sahabat-sahabat Nabi dan umat Islam secara umum. Al-Qur’an memerintahkan beberapa jalan preventif agar tidak menyakiti Nabi Muhammad. Di antaranya, masuk bilik beliau harus izin, kalau ada keperluan dengan istri-istri Nabi melalui tabir dan terakhir selamanya diharamkan untuk menikahi Ummul Mukminin.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.