Keagamaan

Sisi Manusiawi Rasulullah Saw (4): Humor dan Tawa Nabi – Alif.ID

Salah satu sifat manusia adalah ingin bahagia dan suka bercanda (guyon kata orang Jawa). Selain sifat marah, kecewa, dan lainnya, Nabi Muhammad pun suka bercanda. Banyak sekali sejarah mencatat bahwa beliau orangnya humoris. Salah satunya, dua cerita ini, pertama cerita beliau dengan salah seorang sahabat dari kampung yang bernama Zahir bin Haram sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik (Ibnu Hibban, Sahih Ibnu Hibban, 107/13). Kedua, kisah dengan nenek yang sudah tua.

Setiap kali Zahir mengunjungi Madinah, ia tidak pernah lupa membawa oleh-oleh untuk dihadiahkan kepada  Nabi Muhammad, dan Rasul pun suka dengan hadiah yang diberikan. Saat hendak keluar rumah Nabi selalu menyiapkan oleh-oleh itu sebagai bekal. Beliau sangat antusias menyambut Zahir meski penampilannya agak dekil lagi miskin. Nabi sering bercanda ria dengannya. Nabi bersabda, “Zahir itu orang kampung kita, sementara kita ingin membuatnya berperadaban sebagaimana kita.”

Suatu ketika, disela-sela kesibukan Nabi, beliau sempat balik mengunjungi Zahir di pasar karena kebetulan dia sedang di pasar menjual barang-barang dagangannya. Lalu secara tiba-tiba Nabi ingin nge-prank Zahir dengan mendekapnya dari belakang hingga membuat kaget. Zahir tidak tahu siapa yag sedang mendekapnya dari belakang. Dengan kencang Zahir berteriak, “Lepaskan aku! Siapa ini?”

Nabi tak bersuara sehingga membuat Zahir meronta dalam dekapannya. Ia pun berusaha menoleh ke belakang mencari-cari tahu sosok yang mendekapnya. setelah melihatnya Zahir langsung tenang karena yang mendekap adalah Rasulullah. Ketika Zahir melihat Rasulullah bertingkah seperti itu, Ia juga ingin membalas candaan Nabi Muhammad dengan menyandarkan punggungnya ke dada beliau. Nabi yang dibuat begitu, tidak mau kalah, Beliau ingin membalas lagi seraya bersorak, “Siapa yang mau beli budak? Siapa yang mau beli budak?”

Lantas orang-orang pasar mendongak kesuara lantag Nabi. Sementara orang kampung itu baper karena ia sadar diri bahwa dirinya dekil dan miskin penampilannya mirip budak. Ia tersinggung dengan guyonan Nabi lalu memprotes, “Aku di matamu begitu hinanya ya Rasulullah? Seolah aku barang yang tidak laku?”

Mendengar itu Nabi sadar bahwa guyonan itu telah menyinggung sahabatnya. Cepat-cepat Nabi menghiburnya seraya bersabda, “Ya memang! Namun engkau disisi Allah bukanlah layaknya barang dagangan yang tidak laku, melainkan sangat bernilai.” Barulah Zahir ceria kembali sebagaimana semula.

Sungguh, betapa manusiawinya Nabi Muhammad. Suka bercanda dan terkadang juga berlebihan layaknya manusia biasa yang bercanda suka berlebihan. Sebagai manusia biasa yang menerima wahyu, Nabi Muhammad juga merasakan kebahagian hingga tertatawa terbahak-bahak ketika mengalami momen lucu.

Sudah menjadi fitrah kemanusiaan saat  melihat kejadian lucu akan tertawa. Tertawa bagi Rasulullah tidak membuat integritas kenabiannya menjadi runtuh. Sama sekali tidak menurunkan martabat beliau sebagai pemimpin Agama dan Negara. Nabi Muhammad mengalami hal lucu yang membuat beliau tertawa pada saat bulan Ramadan. Hitung-hitung sebagai hiburan di siang yang panas menyengat daerah Hijaz tatkala bulan puasa tiba.

Berawal dari seorang Badui, namanya Sulaiman bin Shakher al-Bayaadi, ada yang mengatakan Salamah. Ia rela pergi menemui Nabi demi menanyakan status hukum dari perbuatannya. Karena pada siang bolong di bulan Ramadan ia telah berhubungan intim dengan istrinya. Setelah sampai, ia mengadukan. “Mampus aku! Ya Rasulullah.”

“Apa yang membuatmu mampus, Sulaiman?” sergah Nabi kebingungan.

Lalu Sulaiman matur agak takut dimarahi oleh Nabi, “Wahai Nabi, aku telah melakukan hubungan intim dengan istriku di bulan Ramadan ini.”

Mengetahui asal-muasalnya, Nabi langsung menyuruh untuk memerdekakan budak kepada Sulaiman sebagai tebusan dosa tidak puasanya. Akan tetapi, Sulaiman tidak memiliki budak untuk dimerdekakan. Lantas Nabi menyuruh untuk berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Mendengar kafarat yang kedua ini, Badui ini agak kesal.

Ia menimpali, “Ya… Rasulullah, jangankan puasa dua bulan berturut-turut, puasa satu bulan penuh saja saya sudah tidak kuat untuk melakukan hubungan intim apa lagi dua bulan? Sungguh aku tidak akan mampu melaksanakan itu, wahai Nabi!”

Ternyata alasan yang diajukan oleh Badui masuk akal, sehingga Nabi Muhammad mentoleransi dan mencari solusi kafarat apa yang cocok untuk Badui ini. Kemudian Nabi memerintahkan kepada Sulaiman untuk memberi makan orang miskin. Lagi-lagi Badui ngeles bahwa ia tidak memiliki makanan untuk dikasihkan kepada orang miskin karena dia sendiri juga miskin. Nabi pun kebingungan, semua hal-hal yang diperintahkan tidak ada yang mampu untuk dilaksanakan. Sementara kalau tidak diberi sangsi khawatir akan mengentengkan puasa, namun ia juga tidak ingin memberatkan umatnya.

Di tengah kebingungannya, Nabi mempersilahkan Badui itu duduk dulu. Sementara Nabi sendiri sedang mencari solusi, akhirnya secara “terpaksa” Nabi Muhammad mengambil wadah yang berisi kurma kering (makanan pokok di Madinah tempo dulu) miliknya beliau yang berada di dalam rumah untuk dikasih kepada Badui guna disedekahkan kepada orang-orang miskin sebagai sangsi dari perbuatannya.

Sambil lalu membawa kurma pada Sulaiman, Nabi memerintahkan kepadanya untuk bersedekah dengan kurma yang telah diberikan itu kepada orang-orang miskin yang sedesa. Akan tetapi, lagi-lagi Sulaiman membuat tingkah. Ia mengadukan nasibnya pada Nabi seraya berkata, “Siapakah orang yang mau diberi sedekah sementara aku sendiri adalah orang termiskin, ya Rasulullah.” Mendengar ucapan Bbadui, pecah gelak-tawa Nabi, beliau tertawa lepas melihat kondisi orang di hadapannya itu, lalu beliau menyuruh, “Ya… sudah, bawa dan berikan ini kepada keluargamu.”

Entah apa yang terlintas dalam pikiran Nabi, mungkin beliau membayangkan betapa lucunya Sulaiman ini. Di kala perut lapar dan cuaca panas sempat-sempatnya berhubungan badan. Setelah melakukan kesalahan itu, jangankan mendapatkan sangsi, ia malah mendapatkan rezeki. Sungguh Allah mengatur rezeki makhlunya dengan unik. Disarikan dari kitab (Shahih Bukhori: 145/8).

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.