Keagamaan

Imam Abu Ali ats-Tsaqafi: Ulama Tasawuf yang Belajar di Usia Tua | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Abdul Ahad Abu Ali ats-Tsaqafi an-Naisaburi asy-Syafi’i. Dalam catatan Imam Ibnu Mulqan, Abu Ali ats-Tsaqafi dilahirkan pada tahun 244 Hijriah di Naisabur, Khurasan, dan meninggal pada Malam Jumat, bulan Jumadil Ula, tahun 328 H.

Menurut Imam Muhammad bin Husain Abu Abdurrahman as-Sulami, dalam salah satu karya agungnya, yang berjudul, Thabqatu ash-Shufiyah wa Yalihi Zikru an-Niswati Muta’abbidati ash-Shufiyah, Imam Abu Ali ats-Tsaqafi menjadi pionir dalam banyak cabang ilmu syariat, akan tetapi yang paling terlihat darinya adalah ilmu tasawuf.

Begitulah sekelumit gambaran Imam Abu Ali ats-Tsaqafi. Namanya tidak begitu masyhur sebagaimana nama Imam Ibnu Athaillah, Imam al-Ghazali, dan beberapa ulama tasawuf lainnya, bahkan namanya cenderung hilang ditelan zaman setelah kelahiran nama-nama ulama tasawuf setelahnya.

Akan tetapi, sumbangsih dan perannya dalam perkembangan ilmu tasawuf sangat besar. Sebelum nama para pembesar tasawuf (kibaru at-tasawuf) dikenal seantero dunia, ia sudah mendahului mereka semua dalam bidang ilmu tersebut.

Kendati pun demikian, Imam Abu Ali ats-Tsaqafi merupakan salah satu ulama yang baru belajar di usianya yang sudah mendekati senja, tepatnya di sepertiga umurnya sebelum mendekati maut. Akan tetapi, ia tidak menyia-nyiakan sisa umurnya, hingga namanya sangat mentereng dan menjadi rujukan para ulama, khususnya dalam bidang tasawuf.

Hal ini sebagaimana catatan Imam Tajuddin bin Ali bin Abdul Kafi as-Subki, dalam salah satu kitabnya ia mengatakan,

طَلَبَ الْعِلْمَ عَلَى كِبَرِ السِّنِّ فَإِنَّ ابْتِدَاءَهُ كَانَ التَّصَوُّفُ وَالزُّهْدُ وَالْوَرَعُ

Artinya, “(Abu Ali ats-Tsaqafi) belajar ilmu di usia tua, dan sungguh permulaannya (dalam belajar) adalah ilmu tasawuf, zuhud, dan wara’ (tidak senang dunia).” (Imam as-Subki, Tabqatu asy-Syafi’iyah al-Kubra, [Shamela lit Thaba’ah wan Nasyr, cetakan kedua: 1413], juz III, halaman 192).

Demikian rihlah intelektualitas Imam Abu Ali ats-Tsaqafi. Ia menyadari pentingnya ilmu di usianya yang sudah tua, namun tidak ada istilah menyerah dalam catatan hidupnya. Ia terus belajar dengan semangat dan tekun.

Pada mulanya, ia mempelajari ilmu tasawuf di Naisabur kepada Imam Muhammad, kepada Musa bin Nashar di Ray, kepada Ahmad bin Hayyan dan Muhammad as-Samri di Baghdad, dan beberapa ulama tasawuf lainnya.

Semua itu ia lakukan dengan berjalan kaki, dari desa menuju desa lainnya, dari satu kota menuju kota yang lain di usianya yang sudah tidak muda. Akan tetapi, justru di usia itu semangatnya menyamai semangat ketika masih muda.

Setelah belajar ilmu tasawuf, kemudian menekuni dan mengamalkan semua ilmu yang diterima olehnya. Keberkahan tasawuf ini akhirnya membekas dalam dirinya, hingga ia menjadi sosok ulama yang sangat zuhud dan tidak menghiraukan dunia sedikit pun.

Dalam beberapa riwayat para ulama ahli sejarah mengatakan, Imam Abu Ali ats-Tsaqafi sebenarnya merupakan ulama yang tidak hanya menekuni ilmu tasawuf, akan tetapi semua cabang-cabang ilmu syariat ia pahami dengan sangat dalam.

Dalam ilmu fiqih, ia berguru kepada Imam Ali Muhammad bin Nashar al-Maruzi, Imam Abu Ja’far, dan Imam Hamdun al-Qasshar, mereka semua merupakan fuqaha (ahli fiqih) ada masa Imam Abu Ali ats-Tsaqafi.

Kendati pun demikian, namun pada akhirnya ia lebih memilih jalur tasawuf sebagai satu-satunya ilmu yang ia tekuni. Semua ilmu yang ada dalam dirinya cenderung ia hiraukan dan lebih mementingkan ilmu tasawuf.

Di akhir-akhir hidupnya sebelum wafat, ia mendedikasikan hidupnya hanya untuk ilmu. Kegiatan apa pun jika bertentangan dengan ilmu akan ia tinggalkan. Semua waktunya hanya untuk ilmu dan menyebarkannya.

Demikian Imam Abu Ali ats-Tsaqafi, ia menjadi ulama tersohor di usianya yang sudah tua. Lambat belajar tidak berarti tidak akan bisa untuk memiliki ilmu yang luas.

Imam ats-Tsaqafi dan Jenazah Waria

Alkisah, suatu hari Imam Abu Ali ats-Tsaqafi pernah melihat rombongan mengiringi jenazah yang dipanggul oleh tiga orang laki-laki dan satu orang perempuan. Melihat peristiwa itu, ia lantas berinisiatif untuk mengambil alih tempat memanggul perempuan tersebut.

Setelah itu, ia beserta rombongan yang mengiringi jenazah berjalan bersama-sama menuju makam untuk melaksanakan shalat jenazah dan selanjutnya menguburkannya.

Sebelum menguburkan, ia bertanya kepada perempuan itu,”Siapa jenazah ini?” Mendengar pertanyaan tersebut, lantas satu-satunya perempuan dalam rombongan itu menjawab,”Dia adalah puteraku.”

“Apakah kalian tidak mempunyai tetangga? Kenapa hanya kalian saja yang mengantarkan jenazah ini?” tanya Imam ats-Tsaqafi lagi. “Punya. Namun mereka meremehkan puteraku.” jawab perempuan yang juga ibu jenazah itu.

Imam Ali ats-Tsaqafi bertanya kembali, ”Apa alasannya?”

“Dia adalah seorang waria.” Jawab ibu dari jenazah itu

Mendengar cerita dari ibu jenazah itu, Abu Ali ats-Tsaqafi merasa iba dan kasihan kepadanya. Setelah proses pemakaman selesai, ia pulang meninggalkan makamnya.

Malam harinya, ketika sudah terlelap tidur, ia bermimpi melihat waria itu, ia datang kepadanya dengan kondisi bercahaya bagaikan bulan purnama dan memakai pakaian yang bagus sekali di malam hari.

Ia berpakaian serba putih dan lalu tersenyum kepada Imam Abu Ali ats-Tsaqafi, kemudian mengucapkan terima kasih kepadanya. Dalam mimpi itu ats-Tsaqafi bertanya, “Siapa kamu?”

Lalu ia menjawab, “Aku adalah waria yang telah kamu antar ke pemakaman, lalu kamu menshalatkan ku, dan lantas menguburkan ku di waktu siang hari itu, Allah telah melimpahkan rahmat kepadaku karena banyak orang yang telah merendahkanku.”

Imam Abu ats-Tsaqafi terbangun dari tidurnya dan tertegun dengan apa yang terjadi dalam mimpinya. Subhanallah.

Kata Hikmah Imam Abu Ali ats-Tsaqafi

Selain dikenal sebagai ulama yang keilmuannya, khususnya dalam studi ilmu tasawuf tidak diragukan, Imam Abu Ali ats-Tsaqafi juga merupakan seorang ulama pendakwah, yang setiap harinya mengajak masyarakat Naisabur untuk selalu meningkatkan ketaatan dan kebaikan, serta meninggalkan maksiat dan kejelekan.

Sebagai pendakwah, banyak kata-kata mutiara inspiratif yang pernah ia sampaikan pada masa hidupnya, di antaranya sebagaimana yang ditulis oleh Imam Tajuddin as-Subki, Imam Abu ats-Tsaqafi mengatakan:

مَنْ صَحِبَ الْأَكَابِرَ عَلَى غَيْرِ طَرِيْقِ الْحُرْمَةِ حَرُمَ فَوَائِدُهُمْ وَبَرَكَاتُ نَظَرِهِمْ وَلَا يَظْهَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْوَارِهِمْ شَيْئٌ

Artinya, “Barang siapa berteman dengan para ulama dengan tanpa hurmat (kepada mereka), maka ia terhalangi dari faedah-faedah dan keberkahan bersama mereka, dan juga tidak akan tampak kepadanya dari cahaya-cahaya mereka sedikit pun.” 

أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ لَابُدَّ لِلْعَاقِلِ مِنْ حِفْظِهِنَّ: الأَمَانَةُ وَالصِّدْقُ وَالْأَخُ الصَّالِحُ وَالسَّرِيْرَةُ

Artinya, “Empat hal yang harus bagi orang yang mempunyai akal untuk menjaganya, yaitu: amanah (menepati janji), jujur, teman yang saleh, kepribadian yang baik.” (as-Subki, Tabqatu asy-Syafi’iyah al-Kubra, III/194).

Demikian jejak dan perjalanan Imam Abu Ali ats-Tsaqafi. Dengan mengetahuinya, semoga menjadi teladan bagi generasi setelahnya, bahwa dalam mencari ilmu tidak ada istilah batas usia, namun tentang semangat dan ketekunannya.

(Baca: Ada juga Ulama yang Lambat Belajar, Tapi Jadi Sangat Alim di Usia Senja)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.