Serbaserbi

Kisah Ketakutan Kaum Quraisy Menyaksikan Kakbah yang Rapuh dan Nyaris Runtuh

Kakbah sudah beberapa kali direnovasi. Renovasi pertama dilakukan pada era Qushay bin Kilab. Renovasi total ini dilakukan oleh leluhur Nabi pada 200 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW . Renovasi kedua dan sangat bersejarah adalah masa ketika Rasulullah berusia 35 tahun. Kala itu Kakbah rapuh dan nyaris runtuh karena terendam banjir.

Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury dalam bukunya”Sirah Nabawiyah” menjelaskan sebelum kita mengenal Kakbah dalam bentuknya yang sekarang, bangunan itu hanya berupa susunan batu-batu yang tingginya sekitar dua kali badan manusia, tepatnya sekitar sembilan hasta, atau sekitar empat meter.

Kakbah telah dibangun sejak masa Nabi Ismail AS, tanpa atap, sehingga banyak pencuri yang suka mengambil barang-barang berharga yang tersimpan di dalamnya. Karena usianya yang sudah sangat tua, bangunan itu telah menjadi rapuh dan dindingnya pun sudah pecah-pecah.

Sementara O. Hashem dalam bukunya berjudul “Muhammad Sang Nabi: Penelusuran Sejarah Nabi Muhammad Secara Detail” menyebutkan terakhir kali Kakbah direnovasi, adalah pada masa Qushay bin Kilab, nenek moyang Nabi Muhammad sekitar 200 tahun sebelum kelahirannya.

Qushay bin Kilab meruntuhkan bangunan itu dan membangunnya kembali dengan fondasi yang kukuh dan untuk pertama kalinya membuat atap dengan batang dan pelepah kurma.

Ketika Rasulullah berusia 35 tahun, Mekkah dilanda banjir besar hingga meluap ke Baitul-Haram. Akibatnya, Kakbah menjadi rapuh dan sangat rentan untuk runtuh. Sebelumnya, Kakbah juga pernah terbakar akibat ulah seorang wanita yang sengaja membakarnya.

Memperhatikan kondisi Kakbah ini, orang-orang Quraisy berkeinginan untuk merenovasinya. Akan tetapi mereka merasa takut, karena Kakbah memiliki tempat tersendiri di dalam hati mereka.

Di samping itu, mereka juga merasa khawatir terkena bala` atau musibah, jika seandainya berani mengubah-ubah Kakbah. Akhirnya, mereka pun membiarkannya saja.

Walid bin Mughirah

Dalam keadaan serba bimbang ini, muncullah salah seorang dari mereka seorang laki-laki yang bernama al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi. Dia berkata, ”Apa tujuan kalian menghancurkan Kakbah? Untuk merenovasi atau merusaknya?”

Mereka menjawab, ”Untuk memperbaiki.”

Maka, al Walid pun berkata: “Allah tidak akan membinasakan orang-orang yang melakukan perbaikan.”

Kemudian dia mengambil alat dan mulai menghancurkan Kakbah.

Sementara itu, yang lain masih merasa takut. Mereka menunggu hingga keesokan harinya sambil melihat keadaan al Walid. Jika al Walid tertimpa musibah, mereka bertekad tidak akan merenovasinya. Namun, jika tidak, mereka akan ikut andil dalam perbaikan Kakbah ini.

Ternyata, pada keesokan harinya, mereka melihat al Walid masih dalam keadaan sehat dan kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa tertimpa apapun.

Melihat hal ini, orang-orang Quraisy pun lantas ikut melibatkan diri untuk memperbaiki Kakbah.

Pada saat merenovasi, orang-orang Quraisy sepakat membagi wilayah yang direnovasi menjadi beberapa bagian dan direnovasi oleh suku-suku tertentu.

Selain itu, mereka juga sepakat untuk melakukan perbaikan Kakbah, dengan syarat menggunakan bahan-bahan bangunan dari sumber yang baik-baik saja. Mereka sepakat untuk tidak menerima sumbangan dari maskawin para pelacur, dari hasil jual beli secara riba, dan dari harta rampasan.

Saat renovasi Kakbah ini, Nabi Muhammad SAW ikut andil bersama paman-pamannya. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Imam al Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka, dari Jabir Radhiyallahu anhu:

لَمَّا بُنِيَتْ الْكَعْبَةُ ذَهَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَبَّاسٌ يَنْقُلَانِ الْحِجَارَةَ فَقَالَ عَبَّاسٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْعَلْ إِزَارَكَ عَلَى رَقَبَتِكَ يَقِيكَ مِنْ الْحِجَارَةِ فَخَرَّ إِلَى الْأَرْضِ وَطَمَحَتْ عَيْنَاهُ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ إِزَارِي إِزَارِي فَشَدَّ عَلَيْهِ إِزَارَهُ

Ketika Kakbah dibangun (kembali), Rasulullah SAW dan pamannya, al ‘Abbas ikut serta mengangkat batu. Al ‘Abbas berkata kepada Nabi: “Taruhlah sarungmu di atas pundakmu, agar ia menjagamu dari (goresan) batu.” Maka Rasulullah melakukannya. (Namun tiba-tiba) Beliau tersungkur ke tanah (pingsan). Mata Beliau memandang ke langit.

Saat tersadar, beliau berkata : “Sarungku, sarungku!” Maka al Abbas menutupkan sarungnya lagi. [HR Imam Bukhari dalam al Manaqib; dan Imam Muslim, al Haidh, bab al I’tina’ bi Hifzhil Aurat, no. 769].

Hadits ini juga dijadikan sebagai pijakan para ulama untuk membuktikan, bahwa Rasulullah SAW terpelihara dari perbuatan-perbuatan dosa besar sejak sebelum kenabian. Dalilnya adalah hadits di atas. Padahal saat itu, telanjang bukanlah suatu tindakan yang dibenci masyarakat jahiliyah.Bahkan mereka melakukan ibadah thawaf pun dalam keadaan telanjang.

Peletakan Hajar Aswad

Masing-masing suku Quraisy merenovasi bagian yang menjadi kewajibannya dengan baik, dan tidak timbul permasalahan. Hingga sampai pada taraf peletakan kembali Hajar Aswad ke tempatnya, masing-masing kabilah berebut dan merasa berhak untuk meletakkannya.

Perdebatan tak bisa dihindari, hampir saja menimbulkan pertikaian dan berkobarnya api peperangan di antara mereka. Bahkan mereka bertekad mempertahankan masalah yang dianggap hak mereka ini sampai titik darah penghabisan.

Dalam keadaan genting ini, Allah Ta’ala mengilhamkan solusi terbaik kepada salah seorang di antara mereka, yaitu Abu Umayyah bin al Mughirah al Makhzumi, ayah Ummu Salamah . Yang akhirnya mereka bersepakat, perlunya seseorang menjadi penengah dalam perselisihan ini.

Siapakah orang yang ditunjuk? Mereka membuat kesepakatan, yang menjadi penengah dalam perselisihan yang sedang mereka hadapi adalah, seseorang yang pertama kali masuk melalui pintu Bani Syaibah (yang sekarang disebut Babussalam). Orang inilah yang nantinya memutuskan perkara mereka.

Kemudian Rasulullah masuk melalui pintu Bani Syaibah. Dalam riwayat Imam Ahmad, mereka mengatakan : “Al Amin, (orang yang terpercaya, maksudnya Muhammad) telah datang kepada kalian,” lalu mereka menceritakan permasalahan yang sedang diperselisihkan.

Setelah itu, Rasulullah meminta kain. Beliau pun mengangkat Hajar Aswad dan diletakkan di bagian tengah kain. Beliau memerintahkan kepada kelompok (yang berselisih) untuk mengangkat ujung-ujung kain. Mereka pun mengangkatnya.

Setelah sampai pada tempatnya Rasulullah mengangkat Hajar Aswad dan meletakkannya di tempatnya. Dengan cara ini Rasulullah telah memberikan solusi terbaik.

Sebuah solusi yang adil, melegakan masing-masing kabilah dan menghindarkan mereka dari perang saudara. Tentang hal ini, Akram Dhiya` al Umari dalam “As Siratun Nabawiyatus Shahihah” mengatakan, bahwa peristiwa renovasi Kakbah telah menyingkap kedudukan Nabi di hadapan Quraisy. Mereka telah menjadikannya sebagai hakim, dan menyebutnya dengan gelar al Amin (orang yang terpercaya).

Dalam merenovasi Kakbah, kaum Quraisy tidak mampu mengembalikan sesuai dengan aslinya sebagaimana yang dibangun oleh Nabi Ibrahim Alaihissallam. Mereka tidak memasukkan al Hijr (Hijr Ismail) dalam lingkup Kakbah, padahal sebelumnya Hijr Ismail masuk dalam bagiannya.

Oleh karena itu, ketika thawaf, harus melewati bagian luar Hijr Ismail. Di samping tidak memasukkan Hijr Ismail, kaum Quraisy juga hanya membuat satu pintu bagi Kakbah, yaitu di sebelah timur. Pintu itu dibuat agak tinggi, sehingga tidak sembarang orang bisa masuk. Yang menjadi penyebab ketidakmampuan orang-orang Quraisy merenovasi Kakbah, karena mereka tertimpa krisis ekonomi.

Hingga pada saatnya, pada masa kenabian, Kakbah direnovasi kembali. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah Ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

لَوْلَا حِدْثَانُ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ لَنَقَضْتُ الْكَعْبَةَ وَجَعَلْتُ لَهَا بَابًا شَرْقِيًّا وَبَابًا غَرْبِيًّا وَأَدْخَلْتُ فِيْهَا الْحِجْرَ …

kalau seandainya kaummu tidak baru lepas dari kekufuran, maka sungguh aku telah mengubah Kakbah, dan aku akan membuat pintu timur dan barat, dan aku akan memasukkan al Hijr ke dalam lingkup Kakbah.

Berdasarkan hadits ini, Ibnu Zubair Ra merenovasi Kakbah sebagaimana petunjuk Rasulullah SAW. Dia membuatnya indah dan ukurannya sama persis dengan yang dibuat Nabi Ibrahim Alaihissallam .

Pintunya dibuat dua, sebelah timur dan barat, sehingga orang bisa masuk dari satu pintu dan keluar dari pintu lainnya.

Saat Ibnu Zubair Ra terbunuh, dan kekuasaan dipegang oleh al Hajjaj, dia mengembalikannya sebagaimana kondisinya pada masa jahiliyah dahulu dan masih tetap dalam keadaan seperti itu sampai sekarang. Al Hajjaj berkeyakinan, bahwa apa yang dilakukan oleh Ibnu Zubair adalah hasil ijtihadnya sendiri. Wallahu a’lam.

(mhy) Miftah H. Yusufpati

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.