Keagamaan

Cerpen Robohnya Surau Kami dan Pentingnya Ibadah Ghairu Mahdhah | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– “Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.” Ini adalah penggalan dialog dalam cerita pendek berjudul Robohnya Surau Kami karya A. A. Navis.

Dalam cerpen ini, dikisahkan seorang penjaga surau bernama Saleh. Dia dikenal sebagai orang tua yang taat beribadah kepada Tuhan. Sepenuh waktunya ia dedikasikan untuk menyembah dan mengingat Tuhan.

Namun, ketika meninggal dan memasuki akhirat, Saleh justru dimasukkan ke dalam neraka. Bukan karena ia kurang ibadah, bukan karena ia menganiaya orang lain, tetapi karena ia memilih hidup egois.

Saleh memilih untuk terus hidup melarat, membiarkan keluarganya, anak cucunya melarat. Padahal Saleh hidup di negeri yang kaya raya. Saleh biarkan negerinya dikelola oleh kelompok lain yang justru menindas.

Sementara dia hanya tenggelam dalam ibadahnya. Saleh meninggalkan berbagai urusan dunia. Dia berpikir bahwa dengan begitu Tuhan akan menghadiahkannya surga. Sayangnya yang didapat justru sebaliknya.

Cerpen ini menampar kita semua yang seringkali hanya terpaku pada ibadah mahdhah, ibadah ritual. Kita hanya fokus mengejar surga kita sendiri. Tidak peduli bahwa ada begitu banyak masalah di luar sana yang membutuhkan tangan-tangan kita untuk memperbaiki.

Dalam Islam, ibadah terbagi menjadi dua jenis, yaitu ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah merupakan ritual yang pelaksanaannya diatur secara khusus oleh syariat seperti shalat atau haji. Sedangkan ibadah ghairu mahdhah yaitu pekerjaan atau perilaku yang berkaitan dengan hubungan antar manusia.

Jika ibadah mahdhah menitikberatkan hamba dengan Tuhannya, maka ibadah ghairu mahdhah mengedepankan aspek hubungan antara manusia dengan sesama makhluk ciptaan Allah. Dan kesalihan, tidak diukur berdasarkan kesalehan ritual semata.

Menurut Gus Mus sebagaimana yang tertuang dalam bukunya Agama Anugerah Agama Manusia, takwa adalah gabungan dari keduanya, yaitu kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Karenanya, ibadah ghairu mahdhah juga tidak kalah pentingnya dalam Islam.

Selain memerintahkan hambanya untuk beribadah yang bersifat ritual, Allah juga memerintahkan umatnya untuk beramal shalih, untuk bekerja. Dalam Q.S. at-Taubah ayat 105 disebutkan;

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Dalam ayat yang lain, Q.S. al-Bayyinah ayat 7, Allah berfirman;

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِۗ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka adalah sebaik-baik makhluk.”

Ayat-ayat dan cerpen di atas telah menggambarkan bahwa Allah Swt. bukanlah sosok yang harus disembah. Dia tidak memerintahkan makhluknya untuk terpaku mengejar surga sehingga tenggelam dalam keegoisan. Dia memerintahkan umatNya untuk senantiasa berbuat kebaikan, beramal saleh. (Baca juga: Hikmah Puasa: Kesalehan Sosial)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.