Serbaserbi

Bantahan Al-Qur'an Tatkala Malaikat Dibilang Anak Perempuan Allah Taala

Bangsa Arab jahiliyah percaya bahwa malaikat adalah perempuan, putri-putri kesayangan Allah. Ketika risalah agama Islam turun, anggapan ini dibantah dengan berbagai cara. Al-Qur’an punya cara-cara unik dalam menjelaskan bahwa malaikat adalah makhluk Allah yang benar-benar berbeda dengan manusia.

Prof Dr Umar Sulaiman al-Asyqar dalam bukunya berjudul “Rahasia Alam Malaikat, Jin, dan Setan” menyatakan salah satu hal yang membuat manusia tersesat ketika membicarakan alam gaib adalah bahwa mereka berusaha menyamakan alam gaib berdasarkan parameter manusiawi dan duniawi.

Tatkala diceritakan bahwa Jibril mendatangi Rasulullah SAW beberapa detik begitu Rasulullah membutuhkan jawaban dari Allah, kaum musyrik Arab beranggapan itu mustahil. “Bagaimana Jibril bisa datang sedemikan cepat, sedangkan cahaya saja memerlukan jutaan tahun kecepatan cahaya untuk mencapai salah satu bintang di langit?” ujar Syaikh Umar Sulaiman menyampaikan ketidakpercayaan kaum musyrik itu.

Syaikh Umar Sulaiman menjelaskan mereka tidak menyadari bahwa perumpamaan dirinya adalah laksana nyamuk yang berusaha mengukur kecepatan burung dengan parameternya sendiri. “Andai mereka mau berpikir lebih kritis, pastilah tahu bahwa alam malaikat itu memiliki parameter berbeda dengan parameter kita sebagai manusia,” katanya.

Anak-Anak Allah

Dalam hal ini, ujar Syaikh Umar Sulaiman, orang-orang musyrik Arab telah terjebak dalam kesesatan. Mereka meyakini bahwa para malaikat itu berjenis kelamin perempuan. Ungkapan itu menyimpang dan mengandung khurafat yang lebih besar dan lebih parah karena mereka meyakini bahwa para malaikat perempuan itu adalah anak-anak (perempuan) Allah.

Dalam dua persoalan ini, al-Qur’an telah membantah mereka. Al-Qur’an menjelaskan bahwa—dalam pendapat yang mereka ungkapkan —mereka tidak berpijak pada dalil yang benar. Pendapat di atas adalah keliru. Akan tetapi, yang mengherankan adalah mereka menasabkan anak-anak perempuan kepada Allah, padahal mereka sendiri tidak menyukai anak perempuan.

Ketika salah seorang dari mereka mendapat kabar dikarunia seorang anak perempuan, wajahnya merah padam dan sangat marah. Bahkan, ia tidak berani bertemu dengan orang karena malu atas buruknya kabar yang ia terima.

Aib ini, bahkan terkadang membuatnya hilang kendali hingga mereka mengubur bayi perempuannya yang baru lahir. Meski demikian, mereka mengalamatkan anak kepada Allah dan meyakini bahwa anak-anak Allah itu berjenis kelamin perempuan.

Demikianlah khurafat ini lahir dan tersebar dalam pikiran mereka yang jauh dari cahaya ilahiyah. Nah, sekarang marilah kita simak ayat-ayat yang menceritakan tentang khurafat di atas dan membantah para penganutnya:

فَاسۡتَفۡتِهِمۡ اَلِرَبِّكَ الۡبَنَاتُ وَلَهُمُ الۡبَنُوۡنَۙ‏

اَمۡ خَلَقۡنَا الۡمَلٰٓٮِٕكَةَ اِنَاثًا وَّهُمۡ شٰهِدُوۡنَ

اَلَاۤ اِنَّهُمۡ مِّنۡ اِفۡكِهِمۡ لَيَقُوۡلُوۡنَۙ

وَلَدَ اللّٰهُۙ وَاِنَّهُمۡ لَـكٰذِبُوۡنَ

اَصۡطَفَى الۡبَنَاتِ عَلَى الۡبَنِيۡنَؕ‏

مَا لَـكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُوۡنَ

اَفَلَا تَذَكَّرُوۡنَ‌ۚ

اَمۡ لَـكُمۡ سُلۡطٰنٌ مُّبِيۡنٌۙ

Tanyakanlah (wahai Muhammad) kepada mereka (orang orang kafir Mekkah): apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki: atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: “Allah beranak.” Dan sesungguhnya mereka benar benar orang yang berdusta.

Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki? Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak memikirkan? Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata?” ( QS Ash-Shaffat : 149-156)

Allah telah menjadikan ucapan mereka ini sebagai kesaksian yang akan dihisab pada hari Kiamat nanti. Pasalnya, salah satu dosa yang paling besar adalah mengatakan tentang Allah tanpa didasari ilmu. Allah SWT berfirman:

وَجَعَلُوا الۡمَلٰٓٮِٕكَةَ الَّذِيۡنَ هُمۡ عِبَادُ الرَّحۡمٰنِ اِنَاثًا‌ ؕ اَشَهِدُوۡا خَلۡقَهُمۡ‌ ؕ سَتُكۡتَبُ شَهَادَتُهُمۡ وَيُسۡـَٔــلُوۡنَ

Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung jawaban.” ( QS Az-Zukhruf : 19)

Ayat-Ayat Malaikat

Perihal malaikat banyak disampaikan dalam Al-Qur’an. Misalnya, malaikat selalu taat kepada Allah dan tidak pernah membantah ( QS at-Tahrim : 6), memiliki sayap 2, 3 dan 4 ( QS Fathir : 1), bisa terbang menembus langit dalam kecepatan yang sehari bagi mereka setara 50.000 tahun bagi manusia ( QS al-Ma’arij : 1-4), dsb.

Dalam kitab Qabasat min Nuril Qur’anil Karim karya Syekh ‘Ali ash-Shabuni disebutkan bahwa secara khusus, untuk membantah anggapan keliru bangsa Arab, ada ungkapan eksplisit dan implisit. Yang secara eksplisit menyatakan bahwa malaikat bukan perempuan dan tidak berjenis kelamin misalnya QS al-Isra : 40, surat ash-Shaffat: 150, dan surat az-Zukhruf: 19.

Adapun yang implisit, tampak dari cara Al-Qur’an memperlakukan kata “malak” dan “malaikah”.

Dalam bentuk mufrod, kata malak diperlakukan sebagai mudzakkar, misalnya dalam QS Yusuf : 31 disebut “malakun kariim” (ملك كريم), artinya malaikat yang mulia.

Bentuk na’at-man’ut (kata benda yang diiringi kata sifat) ini mudzakkar-mudzakkar.

Tapi ketika jamak, kadang kata malaikah diperlakukan sebagai mudzakkar (laki-laki) dan kadang mu’annats (perempuan).

Dalam QS al-Baqarah : 30-34, dalam kisah Adam, seluruh dhomir (kata ganti) yang merujuk kepada malaikah adalah dhomir jama’ mudzakkar. Misalnya pada kata qaaluu (قالوا) dan dhomir hum (هم) yang berulang-ulang muncul di sana. Ciri serupa muncul di banyak tempat lainnya dalam Al-Qur’an.

Uniknya, ketika kata malaikah didahului oleh fi’il (kata kerja), tiba-tiba dhomir yang dipakai berubah menjadi mu’annats. Misalnya:

فَنَادَتْهُ المَلَائِكَةُ…. — آل عمران : ٣٩

هَلْ يَنْظُرُوْنَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ المَلَائِكَةُ … — الأنعام : ١٥٨

Tapi perlakuan begini ternyata tidak selalu demikian, sebab kadang dhomir pada fi’il-nya juga mudzakkar, misalnya:

فَسَجَدَ المَلَائِكَةُ …. — الحجر : ٣٠

…وَنُزِّلَ المَلَائِكَةُ تَنْزِيْلًا — الفرقان : ٢٥

Kata malak (ملك) sendiri adalah mudzakkar, namun ketika diubah ke bentuk jamak malah menjadi muannats, mala’ikah (ملائكة).

Tampaknya, Al-Qur’an hendak menunjukkan bahwa malaikat tidak bisa disebut laki-laki atau perempuan sebagai lazimnya makhluk dalam persepsi dan nalar manusiawi, sehingga dhomir (kata ganti) yang dipakai pun bisa mudzakkar atau mu’annats.

Mereka diciptakan dalam satu jenis saja, tidak berpasang-padangan, dan jelasnya istilah “jenis kelamin” tidak ada dalam dunia mereka.

(mhy) Miftah H. Yusufpati

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.