Keagamaan

Heboh Soal Gelar Habib, Begini Kata Abi Quraish Shihab  | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com Sedang ramai dibincangkan warganet, serba-serbi takrif gelar habib, memunculkan kontra dimana-mana. Lantas siapa sebenarnya habib itu? Mari kita telisik gelar habib menurut Profesor Quraish Shihab 

Dinukil dari kanal YouTube Najwa Shihab berjudul “Gaduh soal Gelar Habib, Ini Kata Abi Quraish Shihab”. Najwa mengawali definisi habib dengan menjelaskan bahwa habib adalah orang yang memiliki garis keturunan dengan Rasulullah.

Abi Quraish menjawab bahwa hal serupa sudah pernah diungkap oleh Buya Hamka, dan itu memang ada di Indonesia. Sebagaimana ratu Inggris memiliki garis keturunan, Nabi Muhammad juga memiliki garis keturunan. Meskipun ada beberapa istilah yang digunakan untuk menyebut garis keturunan Nabi SAW.

Ada istilah Ahlu Bait (keluarga), al-Qurba, kerabat atau istilah lainnya. Namun disebut garis keturunan Nabi SAW secara umum adalah anak cucu beliau melalui Sayyidah Fathimah dan Ali bin Abi Thalib. 

Tentu ada yang menyoal, seharusnya garis keturunan itu dari laki-laki bukan dari Sayyidah Fathimah? Abi Quraish pun menjawab bahwa Nabi menjadikan itu dari Fathimah, karena Nabi Isa pun dinamai Putra Maryam. Orang-orang Yahudi pun banyak yang tidak mengakui orang Yahudi kecuali kalau memiliki garis keturunan wanita bukan laki-laki. 

Menurut Abi bahwa garis keturunan Nabi Muhammad SAW benar adanya, dan itu terpelihara. Maka jika orang menyoal tentang apa yang menjadi buktinya garis keturunan Nabi SAW? Bukti yang paling kongkret  tersebut adalah sejarah. 

Dimana-mana bisa ditemui. Misalkan saja di Iran, garis keturunan Nabi atau bukan dapat dilihat dari pakaiannya bersorban hitam. Namun bukan itu yang diinginkan oleh para penyandang gelar habib.

Abi Quraish melanjutkan bahwa mereka yang bergelar habib itu tidak ingin menjadikan adanya garis keturunan ini sebagai wujud keistimewaan yang melebihi batas kewajaran. Dalil yang berkaitan yaitu Q.S An-Nisa [4] ayat 32;

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ 

yang berarti “Dan janganlah saling iri menghendaki apa keistimewaan orang itu anda miliki pula” 

Banyak yang tidak tahu bahwa keistimewaan itu punya konsekuensi serta kewajiban. Kalau kewajiban itu tidak terpenuhi maka garis keturunan yang dimilikinya maka tidak ada artinya. Contoh Nabi Nuh, bergaris keturunan dari Nabi Adam. Nabi Nuh mengatakan bahwa anakku (Kanan) termasuk keluargaku. Q.S Hud [11] ayat 46 yang berbunyi:

فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي

Artinya: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku”

Tapi apa jawab Allah? Seperti dalam Q.S Hud [11] ayat 46 yang berbunyi:

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ 

yang artinya “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik“

Dari kejadian ini kemudian garis keturunan itu terpelihara dan ikut terpelihara pula sifat-sifat baik didalamnya. Karena adanya pengaruh fisik dan psikis orang tua kepada anaknya. Menurut Abi ada buku yang menjudul Child Beetwen Heredity and Education yang menjelaskan bahwa ada pengaruh dari ayah, kakek dan sebagainya. Sehingga ini ada keistimewaannya. 

Abi Quraish melanjutkan bahwa di Indonesia ini ada orang-orang khusus yang memiliki garis keturunan Nabi Muhammad SAW, dan sampai saat ini masih terpelihara, ada sebuah kantor khusus yang mengurus hal ini. Memang agama sudah memerintahkan untuk memelihara keturunan itu tapi apakah memenuhi sifat-sifat yang sesuai dengan itu?

Para keturunan Nabi yang datang ke Indonesia mayoritas dari Hadramaut, yang sebelumnya dibawa oleh kakek-kakeknya dari Irak dan berhijrah kesana. Mengapa berhijrah? Apakah untuk mencari nafkah? Tentu saja tidak, Abi Quraish menjelaskan bahwa asal mereka adalah kaya raya, sedang kondisi Hadramaut sendiri gersang. Tapi alasan kedatangannya adalah untuk mengajarkan agama dan mempersatukan masyarakat. 

Dari beberapa putranya yang melanjutkan misi dakwah ini berlanjut sampai kepada sosok yang di kenal dengan nama al-Faqih al-Muqaddam. Dimana dia dianggap sebagai sosok pembeda, orang-orang mengistilahkannya sebagai sosok yang mematahkan pedang. Al-Faqih al-Muqaddam mengatakan ”kami tidak akan melakukan kekerasan apapun dan kami berdakwah dengan akhlaq yang baik”.

Dari keturunan Al-Faqih al-Muqaddam inilah yang sebagian lainnya datang ke Indonesia bukan dengan maksud untuk mencari nafkah, tapi justru menyebarkan islam tanpa menggunakan pedang maupun kekerasan. Dimana mereka tidak bisa berbahasa daerah (bahasa Jawa, Sunda, bahkan bahasa Indonesia). Tapi bagaimana bisa mempengaruhi masyarakat melalui akhlaq? 

Inilah yang akhirnya berlanjut, mereka berdakwah di Indonesia tanpa mengenal kekerasan, bahkan sampai meninggalkan keluarganya. Mereka menganggap orang Indonesia sebagai ahwal (saudara ibu) dan dari sinilah mereka melanjutkan garis keturunan dengan menikahi pribumi dan akhirnya lahir garis keturunan Nabi Muhammad SAW sampai sekarang. 

Abi Quraish menegaskan bahwa seharusnya yang memiliki garis keturunan inilah yang harusnya menyebarkan islam, berdakwah, mengikuti jalur kakek-kakeknya yaitu yang menyebarkan toleransi, yang menyebarkan akhlaq. Namun yang terjadi saat ini itu hanya sebagian kecil yang memberikan noda sehingga menjadi citra negatif. Dan disambut oleh yang lainnya sehingga menjadi suatu keributan. 

Beliau melanjutkan bahwa boleh saja bersyukur dan berbangga memiliki garis keturunan Nabi Muhammad SAW tapi tidak usah ditonjolkan, melainkan yang boleh ditonjolkan adalah akhlaq dan kebaikan serta keramahtamahan. Sehingga jika ada yang saling tuduh, saling bertengkar dan saling memaki satu sama lain ini bukannya tidak menggambarkan ajaran para leluhur, juga tidak mencerminkan ajaran Islam. 

Hendaknya gelar habib itu bukan kita yang menyebarkannya kepada orang lain, atau gelar apapun itu, seperti “saya habib, saya professor, saya doktor”. Cukup dari kegiatanmu orang mengatakan “oh wajar jadi professor, ini wajar jadi doktor, ini wajar jadi habib”. Abi juga mengutip dari Sayyid Abdullah al-Haddad “Jangan kenakan pakaian kebesaran habib kalau akhlaqmu tidak mencerminkan, karena ini akan berdampak negatif buruk”

Najwa kemudian bertanya kembali apakah habib memiliki tugas? Abi pun menjawab, tentu saja habib punya tugas yaitu menampakan akhlaq yang luruh, sebab Nabi tidak diurus kecuali menyempurnakan akhlaq. Sedang fungsi habib adalah, pertama teladan. kedua, menyelesaikan problem bukan penyebab masalah. 

Habib artinya mencintai dan dicintai. Kalau hanya mau di cintai tapi tidak mau mencintai itu bukan habib tegas Abi Quraish. Habib harus mencintai masyarakat, mencintai tempat dia tinggal, dan itu tercermin dari perlakuan yang baik. Jika menegur dengan teguran yang baik, bukan memaki atau menyerang. Inilah yang di gambarkan para leluhur habib. 

Alahkah banyaknya keturunan Nabi yang tidak dikenal sebagai habib, lebih dikenal raden, raja dan sebagaimanya, seperti Imam Bonjol itu namanya Abdullah Shahab. Begitu pula walisongo. Mereka membuktikan kecintaannya kepada masyarakat, kepada tempat dia tinggal. 

Demikian yang Abi Quraish Shihab mengenai gelar habib. Meskipun singkat semoga bermanfaat. Wallahu a’lamu. (Baca: Cara Membentuk Akhlak Mulia Menurut Profesor Quraish Shihab)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.