Serbaserbi

Nasihat Imam al-Ghazali

ILUSTRASI Salah satu nasihat Imam al-Ghazali ialah agar kita ingat, kematian begitu dekat. | DOK REP PANCA

HASANUL RIZQA 

Dalam sejarah peradaban Islam, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali merupakan seorang cendekiawan yang terkemuka. Imam al-Ghazali berkebangsaan Persia. Julukannya adalah Hujjatul Islam atau Sang Pembela Akidah Islam.

Ulama yang lahir pada tahun 1058 M itu mencapai puncak kariernya saat memimpin Madrasah Nizhamiyah Baghdad. Namun, pengikut mazhab fikih Syafii itu kemudian mengalami krisis identitas. Pada akhirnya, ia memilih jalan sufi untuk mencapai kebahagiaan.

Santri al-Juwaini ini menulis banyak karya. Beberapa di antaranya bertahan hingga abad modern. Kepakarannya meliputi banyak bidang, seperti logika, fikih, dan tasawuf. Pada 14 Jumadil Akhir 505 Hijriyah atau sekitar tahun 1111 M, al-Ghazali berpulang ke rahmatullah.

Kepada murid-muridnya, sang Hujjatul Islam sering menyampaikan sejumlah nasihat. Berikut ini adalah beberapa pesan yang penuh hikmah darinya.

Ingat Kematian

Pada suatu hari, al-Ghazali bertanya kepada para santrinya, “Apakah sesuatu yang paling dekat dengan diri kita?” Pertanyaan itu tampaknya biasa saja. Murid-muridnya pun mengajukan jawaban yang juga datar.

Mereka mengatakan, orang-orang yang terdekat adalah kedua orang tua, guru, sahabat, dan kerabat. Namun, jawaban itu semuanya keliru menurut al-Ghazali. Guru besar Madrasah Nizhamiyah itu menjelaskan, “Yang paling dekat adalah kematian. Sebab, setiap yang bernyawa pasti akan mati.”

Dalam Alquran surah Yunus ayat 49, Allah SWT berfirman, yang artinya, “Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”

Kendalikan Nafsu

Selanjutnya, sang Hujjatul Islam menanyakan perkara terbesar di dunia ini. Ada yang menjawab, matahari, bumi, dan lain-lain. Akan tetapi, semua itu dipandangnya keliru. Al-Ghazali mengatakan, “Yang paling besar adalah hawa nafsu.”

Begitu besar dorongan nafsu sehingga mampu mengubah seorang manusia menjadi lebih buas daripada binatang. Bahkan, diri insan dapat lebih hina karena memperturutkan syahwatnya. Karena itu, ulama besar itu mengingatkan murid-muridnya untuk senantiasa mengendalikan hawa nafsu.

Dalam hal ini, al-Ghazali menawarkan konsep riyadhah atau latihan menempa watak diri. Adapun tahapannya dimulai dari pengendalian konsumsi makanan, pengurangan jam tidur, pembatasan hasrat untuk berbicara yang tidak bermanfaat, hingga bersabar terhadap perlakuan kasar orang lain.

Jagalah Shalat

Sang guru besar bertanya lagi, “Apakah sesuatu yang paling ringan di dunia ini?” Santri-santrinya menjawab beragam. Ada yang menyahut, kapas. Ada pula yang berpendapat daun-daun kering merupakan benda teringan. Semua itu dibantah al-Ghazali.

“Yang paling ringan adalah meninggalkan shalat,” katanya.

Nabi SAW bersabda, shalat adalah tiang agama. Barangsiapa yang mendirikannya berarti menegakkan agama. Siapapun Muslim yang meninggalkannya berarti sedang meruntuhkan agama. Mudah sekali untuk melalaikan shalat, apalagi yang terbiasa melakukannya. Bagi mereka yang lalai, disiplin menjaga rukun Islam kedua itu sangatlah berat.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.