Keagamaan

Pabrik dan Pesta Tulisan – Alif.ID

Sampul belakang terbebas dari gambar. Di tengah, terbaca Pabrik Tulisan. Alamat penerbit di Panembahan PB I/K 25, Yogyakarta.

Buku diterbitkan pada 1977.

Sampul depan tanpa gambar. Pembaca cuma melihat judul: Pesta Tulisan. Di atas judul, huruf-huruf berukuran besar berlatar hitam.

Buku milik masa lalu.

Pada abad XXI, penikmat sastra membaca lagi nama: Pabrik Tulisan. Nama dicantumkan dalam buku-buku lama dicetak ulang atau buku-buku baru. Penampilan berubah, tak lagi lugu dan wagu seperti masa lalu.

Di buku-buku terbitan Pabrik Tulisan, terbaca nama: Emha Ainun Nadjib dan Seno Gumira Ajidarma. Terbaca pula nama Sapardi Djoko Damono tampil bukan dengan puisi atau novel. Buku itu mengenai sastra dan pendidikan. Buku-buku terbitan Pabrik Tulisan ditawarkan para pedagang di media sosial. Orang-orang mungkin menduga Pabrik Tulisan itu penerbit baru. Kita mengingat masalah lama saja.

Pesta Tulisan berisi tulisan macam-macam. Penanggung jawab untuk penerbitan adalah Mira Sato. Nama lain dari Seno Gumira Ajidarma. Pesta Tulisan  dijelaskan sebagai produksi ke-7.

Suci Basuki menerangkan: “Adapun yang dimuat di sini memang tanpa pengarahan, kecuali minat untjuk mengumpulkan bermacam tulisan dan menerbitkannya dalam satu buku, terutama bagian esai, kecampur adukan itu sangat terasa.”

Buku memuat beragam tulisan dari para penulis sedang “muncul” dan kondang: hadir bersama. Keterangan mengagetkan: “Dalam buku ini banyak tulisan yang merupakan hasil ‘bajakan’, untuk itu penerbit mohon maaf pada penulisnya.” Kita penasaran saja. Buku direncanakan terbit pada 1976. Telat setahun.

Di buku, kita membaca tulisan Arswendo Atmowiloto. Ia memberi omelan untuk sastra Jawa, dari masa 1950-an sampai 1960-an. Orang-orang mengenali Arswendo Atmowiloto dalam sastra (berbahasa) Indonesia tapi mengaku mengerti dan bertanggung jawab untuk sastra Jawa. Ia berpendapat: “Mereka yang terdaftar sebagai pengarang sastra Jawa hingga kini juga masih redaktur, wartawan atau pembantu setia dari majalah dan mingguan berbahasa Jawa. Kenyataan ini menunjukkan bahwa perkembangan sastra Jawa sepenuhnya adalah perkembangan majalah umum dengan segala ketimpangannya.” Dulu, pendapat atau omelan itu bikin onar. Berkepanjangan!

Di halaman-halaman puisi, orang menemukan nama Sitoresmi Rendra. Pembaca mau bikin masalah mungkin menginginkan penulisan cukup Sitoresmi. Di sastra Indonesia, Rendra itu nama terlalu besar. Sitoresmi menjadi istri Rendra menjadikan kebiasaan usang dimunculkan melalui penulisan nama Sitoresmi Rendra.

Kita mengutip puisi gubahan Sitoresmi Rendra: Anak manis bersepatu putih/ Mengejar kunang-kunang dikegelapan/ Anak manis bersepatu putih/ Kehilangan arah kunang-kunang/ ditengah hutan. Kita tak mengetahui puisi itu teringat oleh umat sastra di Indonesia.

Di halaman berbeda, pembaca menikmati kritik dan lelucon Remy Sylado. Ia mengamati sastra Indonesia, terutama puisi. Kalimat-kalimat ganas terbaca: “Intelekgensia seorang gadis terletak di kecantikannya, sedang kecantikan seorang penyair terletak di intelekgensinya. Menolak masalah intelektualitas di sastra sekaligus berpanjang-panjang mengumumkan kebodohan. Kasihan. Celakanya lagi, penyair muda yang belakangan ini ingin kembang, banyak pula yang terdiri dari para bebal dan bajingan bodoh. Dari pada mengotor-ngotori, lebih baik bantai saja.” Dulu, ocehan itu pasti mencipta gegeran. Orang-orang sastra tak sungkan menggunakan kata-kata kasar, tak harus lembut, sopan, dan merdu seperti dalam puisi-puisi picisan silam.

Pada 2022, kita mengingat Pesta Tulisan terbitan Pabrik Tulisan. Pesta Tulisan nostalgia saja, belum perlu disajikan sebagai cetak ulang berkemasan baru di hadapan umat sastra abad XXI. Begitu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.