Keagamaan

Belajar Filsafat bagi Pemula – Alif.ID

Sebelumnya, saya ingin mengatakan perihal tulisan ini dimaksudkan bukan untuk mengurui, tapi sekedar berbagi. Saya bukan jebolan Program studi filsafat. Memang sepanjang tahun 2014 hingga awal 2015 pernah mengampu mata kuliah “Pengantar filsafat” di STAI al-Yasini, Kabupaten Pasuruan.  Sampai kemudian pertengahan 2015 mendalami lagi dengan menyimak “Kuliah filsafat dan tasawuf dengan Prof.Mulyadhi”. Filsafat termasuk ilmu yang berat, tidak bisa dipelajari secara otodidak tanpa bimbingan dosen.

Tulisan singkat ini pun tidak murni mengucur seratus persen dari pemikiran saya, sedikit banyak mengambil dari puluhan buku-buku bertema filsafat yang saya miliki. Ya, di dalam bahasa Inggris, istilah filsafat dikenal dengan Philosophy. Istilah ini diadopsi dari bahasa Yunani, yaitu PhilosophiaPhilosophia secara harfiah dimaknai mencintai kebijaksanaan. Orang yang sedang berfilsafat biasanya disebut filosof.

Istilah Philosophia digunakan oleh Phytagoras (sekitar abad ke-6 SM). Makin populer ketika zaman Socrates dan Platon. Untuk memahami definisi filsafat memang tidak cukup dengan mengatahui dua kata asal Philosophia itu: philo dan shopia. Karena definisi filsafat cukup banyak sekali, bahkan bisa jadi sebanyak jumlah filosof itu sendiri.

Sepintas jika dilihat dari akar katanya, bisa ditebak kalau filsafat berasal dari peradaban Yunani. Namun sejatinya bukan hanya orang Yunani yang merintis ilmu filsafat di dunia. Ternyata di negeri-negeri lain, seperti Cina dan India sudah lama mempunyai tradisi filsafat semasa atau sebelum orang Yunani kuno. Walaupun–seperti yang Endang Saefuddin Anshari terangkan–mereka tidak mempergunakan kata Philosophia untuk maksud yang sama.

Filsafat Cina seperti ulasan laman worldhistory.org sangat didasari beragam ide yang digagas tokoh-tokoh seperti Lao-Tzu, Confucius, Mencius, and Mo Ti, yang semuanya hidup pada masa paruh kedua dari Dinasti Zhou (abad ke-8 hingga ke-3 SM). Bisa dikatakan bahwa keseluruhan budaya Cina juga turut terbentuk berdasarkan pengaruh dari para intelektual ini. Di bangsa Cina diketahui ada 5 aliran filsafat utama, diantaranya : aliran Naturalis, aliran cendekia (Konfusianisme), aliran Mohis (Mo Ti), aliran legalis (Fa Jia), hingga aliran Taoisme (Lao Tzu).

Selanjutnya jika menyinggung filsafat India, ia berpangkal pada dua wilayah, yakni wilayah Hindu (weda) dan wilayah Buddha. “Dari dua wilayah ini muncul padangan bahwa filsafat India dinilai begitu sangat luas sehingga sangat sulit untuk menemukan sumber asli yang pernah dibuat. Selain itu memang dikatakan bahwa catatan historiografi dan biografi dalam filsafat India yang kurang lengkap dan sehingga menyulitkan untuk menuliskan pemikiran-pemikiran seperti pemikiran filsafat yang sudah berkembang seperti sekarang” tulis Sudarto dalam Jurnal Artefak edisi Agustus 2015.

Beralih kepada khazanah intelektual Islam, ditemukan tiga istilah umum untuk filsafat. Pertama, hikmah. Istilah ini dipakai boleh jadi supaya kesannya filsafat bukan barang asing, akan tetapi berasal dari Al-Quran. Al-’Amiri mengatakan bahwa hikmah berasal dari Allah dan manusia yang pertama dikaruniai hikmah oleh Allah Swt. adalah Lukman al-Hakim. Sudah barang tentu tidak semua orang setuju dengan istilah ini, Imam al-Ghazali termasuk yang menentangnya. Menurut beliau–sebagaimana Dr. Adian Husaini katakan–istilah hikmah dalam Al-Quran “dikorupsi” untuk kepentingan filosof, karena makna hikmah dalam Al-Quran itu bukan filsafat, melainkan Syariat Islam yang diturunkan Allah kepada para Nabi dan Rasul.

Istilah yang kedua yaitu falsafah. Berbeda dengan kata “ilmu” yang sering disebut dalam Al-Quran, tidak demikian dengan filsafat. Istilah falsafah sejatinya merupakan pinjaman atau serapan kata ke dalam kosakata bahasa Arab melalui terjemahan karya-karya Yunani kuno. Namun demikian kata tersebut menunjukkan makna berpikir filosofis yang banyak ditemukan dalam Al-Quran seperti kata afala ta’qilunafala tubsirunafala yanzurun dan sebagainya. Istilah ketiga, ‘ulum al-awa’il yang artinya “ilmu-ilmu orang zaman dulu”.

Saya cermati pula di buku-buku sejarah peradaban Islam, pembaca akan paham betapa besarnya jasa ilmuwan Muslim dalam penerjemahan buku-buku Yunani kuno khususnya dalam ranah filsafat. Tanpa jerih payah para pendahulu kita, Barat tidak akan mengenal filsafat yang telah lama terkubur karena kebijakan kaisar Justinianus. Selain menerjemahkan buku-buku filsafat, ilmuwan Muslim mengembangkannya, tidak meniru melainkan memodifikasinya dengan berbagai cara yang sejalan dengan semangat Islam.

Para ilmuwan Muslim menjinakkan filsafat Yunani sehingga mudah dicerna oleh umat manusia. Di tangan ilmuwan Muslim, filsafat lebih “membumi”. Ilmuwan Muslim tidak seperti para filosof Yunani yang dalam pernyataan Sir James Jeans–seperti yang dikutip Dosen UIN Malang, Dr. Syamsul Hady–“memabukkan diri dengan berspekulasi”, akan tetapi mereka melakukan penyelidikan empiris, melanjutkan spekulasi-spekulasi filosofis yang mereka terima dan kembangkan.

Sebagai tambahan, kalau ada yang bertanya siapakah filosof Muslim pertama di dalam sejarah peradaban Islam? Jawablah Abu Yusuf Yaqub Ibn Ishaq al-Kindi. Beliau ditahbiskan sebagai filosof Muslim pertama. Pada masanya, al-Kindi terlibat secara langsung dalam konflik ideologi yang muncul, antara Muktazilah yang mempresentasikan ideologi negara, dengan penganut gnostis (irfani) dan pihak Sunni pada sisi lain. Al-Kindi dalam analisis Abid al-Jabiri berjuang di dua hal: melawan kaum gnostik dan menentang kekakuan para ahli hukum Islam. Kekakuan yang dimaksud ialah kebencian pada pemikiran filsafat. Begitulah kiranya yang dapat saya tulis. Semoga bisa dipahami pembaca setia laman alif.id. Wallahu’allam bishowwab

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.