Serbaserbi

Bungkus Rokok Sebagai Wadah Menyimpan Narkoba

Untuk kesekian kalinya terjadi penangkapan pengguna narkoba yang menyimpan barang haram tersebut di dalam bungkus rokok. Lantas, apa yang salah dengan fenomena itu?

Sebagai contoh, seorang pria yang berdomisili di Sidoarjo belum lama ini ditangkap dan digelandang ke Mapolres Grobogan karena kedapatan membawa satu plastik klip kecil berisi serbuk kristal putih seberat 58,53 gram. Barang haram jenis sabu tersebut ditemukan dilapisi tisu dan disimpan di dalam bungkus rokok.

Pada berbagai kasus, bungkus rokok kerap dijadikan sebagai wadah menyimpan atau menyembunyikan ganja dan beragam narkoba jenis lainnya. Sialnya, fenomena tersebut telah dikemas sedemikian rupa hingga muncul asumsi yang mengaitkan rokok dengan narkoba.

Sebelumnya kita mendengar bahwa rokok seringkali dinarasikan sebagai gerbang masuk menuju narkoba. Maksudnya, kerap muncul narasi yang menyebut bahwa orang-orang yang terjebak menjadi pengguna narkoba diawali dengan coba-coba merokok.

Apalagi jika mengaitkan dengan beberapa kasus penangkapan pengguna narkoba yang menyembunyikan barang haram tersebut di dalam bungkus rokok. Padahal, tentu tidak terjadi pada semua kasus. Karena ada juga kejadian di mana seorang pengguna narkoba menyembunyikan barang haram tersebut di dalam kitab suci. Ngeri, bukan?

Coba kita telisik, kira-kira apa alasan para pengguna narkoba menjadikan bungkus rokok sebagai tempat penyimpanan narkoba? Jawaban yang paling mendekati ideal ya agar tak terdeteksi oleh otoritas keamanan. Konsumen rokok di Indonesia ini sangat banyak jumlahnya, maka membawa rokok adalah hal yang lumrah dan biasa saja. Dengan anggapan demikian bungkus rokok otomatis jadi barang yang tidak mencurigakan.

Ruang merokok

Pengguna narkoba yang menyimpan di bungkus rokok sering ditangkap di bandara

Sialnya, kini tren tersebut jadi cukup sering terjadi. Ada banyak kasus serupa (menyimpan ganja dan barang haram lain dalam bungkus rokok). Alhasil, bungkus rokok pun menyita perhatian khusus para otoritas di berbagai tempat yang memberlakukan pemeriksaan barang, misalnya bandara, gedung perkantoran, atau bahkan saat razia kendaraan bermotor.

Kalau kondisi demikian terus berlangsung, para perokok jelas semakin terusik. Pada titik paling mengkhawatirkan, sesiapa yang membawa rokok akan cenderung merasa was-was dan tidak nyaman. Bisa jadi, kan?

Sebenarnya sih cukup dengan bersikap tenang saja, kalau memang tidak membawa barang haram. Tapi narasi yang mengaitkan rokok dengan narkoba tetap perlu diluruskan. Apalagi soal rokok gerbang masuk menuju narkoba. Ngawur itu.

Fakta bahwa banyak pengguna narkoba yang juga perokok memang tak bisa dipungkiri. Sebagian besar memang begitu. Hanya saja pasti tetap ada yang non perokok menjadi pengguna atau bahkan gembong narkoba.

Kalau semua mata hanya tertuju pada perokok, maka para pemadat yang non perokok akan semakin leluasa bergerak. Kondisi semacam itu jelas kontraproduktif.

Satu lagi, ada banyak pemuka agama, orang besar, olahragawan, dan para tokoh lain yang merupakan perokok. Artinya, pandangan miring terhadap perokok harusnya bisa perlahan terkikis. Menjadikan status perokok atau bukan sebagai indikator moralitas adalah bentuk ketidakadilan dalam berfikir.

Kembali ke soal penangkapan pengguna narkoba. Fakta bahwa banyak yang menjadikan bungkus rokok sebagai medium penyimpanan narkoba memang tidak bisa dibantah. Tapi, kita perlu meluruskan, anggapan bahwa perokok adalah calon pengguna narkoba itu jauh dari kebenaran.

Bagaimana dengan oknum yang menyembunyikan narkoba dalam kitab suci, apakah boleh mencurigai setiap orang yang bawa kitab suci? Tentu tidak begitu. Kenyataannya hanya bungkus rokok yang ‘layak’ dicurigai.

Setelah ini semoga tidak ada lagi orang-orang yang secara prematur mencurigai perokok di ruang-ruang publik. Semoga tidak ada lagi orang-orang yang menjadikan penangkapan pengguna narkoba sebagai alasan untuk menebar kebencian pada perokok. Semoga peredaran dan penggunaan narkoba di Indonesia bisa ditekan agar tidak ada lagi fenomena penyimpanan narkoba di bungkus rokok atau medium lain, sehingga perokok bisa mengakses ruang publik dengan tenang tanpa dicurigai dan didiskriminasi. Semoga.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.