Keagamaan

Hukum Menarik Biaya Parkir di Halaman Masjid | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com – Akhir-akhir ini, halaman masjid dijadikan sebagai lahan parkir oleh takmir masjid. Orang yang datang dengan kendaraan, maka baliknya harus bayar parkir. Bahkan di sebagian masjid, ada yang sampai menarif harga untuk jamaah yang kendaraannya parkir di halaman masjid. Bagaimana hukum menarik biaya parkir di halaman masjid?

Sebelum menjawab ini, rasanya perlu kita ketahui, bahwa masjid yang diwakafkan biasanya dibangun juga fasilitas tertentu. Meski tidak disebutkan oleh wakif (orang yang mewakafkan tanahnya guna dijadikan masjid), yang demikian adalah diperbolehkan.

Memandang tradisi yang berlaku, bahwa pembangunan masjid itu juga butuh pada fasilitas tertentu semisal kamar mandi, dan lahan parkir. Dijelaskan: 

حَيْثُ أَجْمَلَ الْوَاقِفُ شَرْطَهُ اُتُّبِعَ فِيهِ الْعُرْفُ الْمُطَّرَدُ فِي زَمَنِهِ؛ لِأَنَّهُ بِمَنْزِلَةِ شَرْطِهِ ثُمَّ مَا كَانَ أَقْرَبَ إلَى مَقَاصِدِ الْوَاقِفِينَ.

Ketika Waqif mengglobalkan tanah wakafnya(untuk dikelola), maka akan berlaku adat yang berlaku di zamannya, sebab ini sudah seperti include terhadapnya. Kemudian juga, pada apa-apa yang menunjang terhadap tujuan waqif. (Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfat Al-Muhtaj fi syarh Al-Minhaj, jilid  VI/260

Jadi, meskipun wakif tidak menyebutkan dalam sighat untuk membangun kamar mandi atau lahan parkir juga ketika pembangunan masjid, yang demikian tetap diperbolehkan bagi Nadzir (pengelola wakaf) untuk membangun kamar mandi dan lahan parkir, sebab keduanya menunjang pada masjid, agar jamaah mudah dalam beribadah. 

Lantas bagaimana hukumnya, jika nadzir atau takmir masjid memasang tarif pada jamaah yang hendak memakai kamar mandi atau lahan parkir? Dijelaskan:

قَوْلُهُ: (مَنْفَعَةُ الشَّارِعِ) وَمِثْلُهُ حَرِيمُ الدُّورِ وَأَفْنِيَتُهَا وَأَعْتَابُهَا، فَيَجُوزُ الْمُرُورُ مِنْهَا، وَالْجُلُوسُ فِيهَا وَعَلَيْهَا، وَلَوْ لِنَحْوِ بَيْعٍ وَلَا يَجُوزُ أَخْذُ عِوَضٍ مِنْهُمْ عَلَى ذَلِكَ. كَمَا مَرَّ وَإِنْ قُلْنَا بِالْمُعْتَمَدِ إنَّ الْحَرِيمَ مَمْلُوكٌ …. إلى أن قال…. قَالَ السُّبْكِيُّ: كَابْنِ الرِّفْعَةِ وَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ مِنْ الْوُلَاةِ أَوْ غَيْرِهِمْ أَخْذُ عِوَضٍ عَلَى ذَلِكَ، وَلَا أَدْرِي بِأَيِّ وَجْهٍ يَلْقَى اللَّهَ مَنْ فَعَلَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ. قَالَ الْأَذْرَعِيُّ وَيُقَالُ بِمِثْلِهِ فِي الْحَرِيمِ وَنَحْوِهِ مِمَّا تَقَدَّمَ وَمِنْهُ حَرِيمُ الْمَسْجِدِ لَا رَحْبَتُهُ وَلَيْسَ لِأَحَدٍ إزْعَاجُ جَالِسٍ فِي شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ حَيْثُ لَا ضَرَرَ.

Manfaat suatu jalan itu sifatnya umum, sama halnya dengan manfaat, halaman, pekarangan dan tangga rumah, maka jalan dan duduk di sana diperbolehkan, meski dalam rangka jual beli. Maka tidak Diperbolehkan untuk mengambil upah dari mereka, meskipun halaman tadi statusnya dimiliki oleh pribadi. 

Al-subki mengatakan bahwa tidak boleh bagi pemerintah atau yang lainnya untuk mengambil upah dari penggunaan inventaris umum. Imam Al-adzrai menambahkan, bahwasanya halaman masjid (dikecualikan dari ini, yaitu Serambi masjid) juga disamakan dengan yang tadi. Yakni tidak boleh memasang tarif, bagi orang yang memanfaatkannya. 

Maka tidak boleh  mengganggu (mengusir) orang yang duduk di tempat tadi, ketika tidak ada dampak negatif yang terjadi, semisal menganggu jalan umum. (Hasyiyata Qulyubi Wa Umairah, jilid lII/94)

Lain halnya dengan ketika memasang tarif harga guna membayar manfaat penjagaan kendaraan dari satpam, maka diperbolehkan. Permasalahan ini bisa diarahkan pada akad Ijarah Fi al-dzimmah.

Memang lahan parkirnya itu tidak disewakan atau dikomersilkan, namun mengingat akhir-akhir ini ada kepentingan tersendiri, yakni penjagaan kendaraan yang parkir di masjid. Maka boleh ada satpam yang menjaga, dengan memasang tarif penjagaan parkir. Dijelaskan:

أَمَّا الإِْجَارَةُ الْوَارِدَةُ عَلَى الذِّمَّةِ: فَيَكُونُ الْحَقُّ فِي الْمَنْفَعَةِ الْمَعْقُودِ عَلَيْهَا مُتَعَلِّقًا بِذِمَّةِ الْمُؤَجِّرِ، كَمَا إذَا اسْتَأْجَرَ دَابَّةً مَوْصُوفَةً لِلرُّكُوبِ أَوِ الْحَمْل بِأَنْ قَال: اسْتَأْجَرْتُ مِنْكَ دَابَّةً صِفَتُهَا كَذَا لِتَحْمِلَنِي إلَى مَوْضِعِ كَذَا، أَوْ قَال: أَلْزَمْتُ ذِمَّتَكَ خِيَاطَةَ هَذَا الثَّوْبِ أَوْ بِنَاءَ جِدَارٍ صِفَتُهُ كَذَا، فَقَبِل الْمُؤَجَّرُ.

Ijarah fi al-dzimmah adalah ijarah dengan obyek berupa jasa orang atau manafaat barang yang berada dalam tanggungan pihak mu’jir (yang menyewakan jasa atau manafaat). Seperti menyewakan hewan untuk mengantarkan barang atau menyewa jasa orang untuk menjahitkan baju atau membangun gedung. (Mausu’ah al-fiqhiyyah al-kuwaitiyyah, Jilid  XXXII/286

Dalam hal ini, kita menyewa satpam atau tukang parkir di masjid untuk menjaga menjaga kendaraan kita, adapun lahan parkir yang disediakan masjid, tidaklah berbayar, alias gratis. Keduanya harus dibedakan, agar tidak terjadi simpang siur. Demikianlah penjelasan mengenai hukum memasang tarif parkir di lahan masjid. Wallahu A’lam Bi Al-shawab.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.