Keagamaan

Hukum Menyiram Kuburan dengan Air | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com- Salah satu adat yang berkembang di masyarakat adalah menyiram kuburan dengan air. Biasanya hal tersebut dilakukan tepat setelah prosesi pemakaman selesai. Namun, ada juga sebagian orang yang menyiram kuburan dengan air pada saat berziarah di hari raya. Bahkan ada yang melakukannya setiap kali berziarah pada hari-hari biasa. Sebenarnya bagaimana hukum menyiram kuburan dengan air?

Menyiram kuburan dengan air hukumnya sunnah karena Rasulullah Saw pernah melakukannya pada saat putranya, Ibrahim wafat. Selain itu, Tindakan tersebut merupakan sebuah pengharapan –tafaul– agar kondisi mayyit yang berada di dalam kuburan tetap dingin dan mendapat rahmat.

Hal ini sebagaimana keterangan Syekh Khatib al-Syarbini dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj Juz II halaman 55;

وَيُنْدَبُ أَنْ يُرَشَّ الْقَبْرُ بِمَاءٍ؛ لِأَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَعَلَهُ بِقَبْرِ وَلَدِهِ إبْرَاهِيمَ رَوَاهُ أَبُو دَاوُد فِي مَرَاسِيلِهِ وَتَفَاؤُلًا بِالرَّحْمَةِ وَتَبْرِيدًا لِمَضْجَعِ الْمَيِّتِ؛ وَلِأَنَّ فِيهِ حِفْظًا لِلتُّرَابِ أَنْ يَتَنَاثَرَ

“Disunnahkan menyiram kuburan dengan air karena Rasulullah Saw sendiri melakukannya kepada kuburan putranya; Ibrahim. Selain itu, tindakan ini merupakan pengharapan agar kondisi mayyit tetap dingin dan mendapat limpahan rahmat. Serta untuk menjaga tanah agar tidak bertaburan.”

“dan yang paling utama menggunakan air yang dingin lagi suci” terang  Imam al-Romli dalam kitabnya Nihayatu al-Muhtaj Juz III halaman 35.

Hal serupa juga disampaikan Imam al-Mahalli dalam kitab Kanzu al-Gharibin Syarhu al-Mahalli ‘ala al-Minhaj Juz II halaman 31;

وَيُنْدَبُ أَنْ يُرَشَّ الْقَبْرُ بِمَاءٍ لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَ ذَلِكَ بِقَبْرِ سَعْدٍ، رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَأَمَرَ بِهِ فِي قَبْرِ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ، رَوَاهُ الْبَزَّارُ وَسَعْدٌ الْمَذْكُورُ هُوَ ابْنُ مُعَاذٍ

“Dan disunnahkan menyiram kuburan dengan air karena Rasulullah Saw melakukan hal tersebut terhadap kuburannya Sa’d bin Mu’adz (hadis riwayat Ibnu Majah) dan Beliau memerintahkan untuk melakukan hal sama terhadap kuburannya Utsman bin Madz’un (riwayat al-Bazzar).”

Adapun penyiraman air yang dilakukan nabi terhadap kuburan putranya terekam dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi berikut ini;

وعن جعفر بن محمد، عن أبيه مرسلاً (أن النبي – صلى الله عليه وسلم – حثى على الميت ثلاث حثيات بيديه جميعاً وأنه رش على قبر ابنه إبراهيم، ووضع عليه حصباء) رواه في شرح السنة

Dari Ja’far bin Muhammad r.a dari ayahnya, beliau berkata bahwasanya Nabi Muhammad Saw  menaburi mayyit dengan debu sebanyak 3 kali dan beliau menyirami kuburan anaknya; Ibrahim dengan air, serta memasangi batu di atasnya.

Sebagai penutup sekaligus penguat, Bilal bin Rabah juga melakukan hal sama terhadap kuburan nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi;

وعنه، قال: (رُش قبر النبي – صلى الله عليه وسلم -، وكان الذي رش الماء على قبره بلال بن رباح بقربة، بدأ من قبل رأسه حتى انتهى إلى رجليه). رواه البيهقي

Dari sahabat Jabir r.a, beliau berkata: “Kuburan Nabi Muhammad Saw disiram dengan air yang dimulai dari arah kepala sampai kedua kakinya nabi dan orang yang melakukannya adalah Bilal bin Raabah”.

Demikianlah penjelasan terkait hukum menyiram kuburan dengan air, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi al-Shawab. (Baca: Hukum Bersih-bersih Kuburan Saat Hari Raya Lebaran)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.