Keagamaan

Imam Fakhruddin ar-Razi; Ulama Pakar Tafsir yang Alim di Usia Balita | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Siapa yang tidak mengenal Imam Fakhruddin ar-Razi? Salah satu ulama kondang dan sangat produktif yang hidup pada abad kelima hijriah. Keilmuan dan intelektualitasnya sangat luas dan karyanya sangat banyak. Ia lahir laksana pemompa hilangnya semangat dalam ilmu pengetahuan.

Selain dikenal sebagai ulama kondang dan produktif, namanya juga masyhur dengan sebutan ulama multidipliner ilmu. Semua pokok-pokok dan cabang-cabang ilmu syariat mampu ia tekuni dan ia pahami dengan sempurna, tidak ada satu ilmu pun yang ia tinggalkan tanpa dipelajari.

Dalam diskursus ilmu tafsir, ia dikenal sebagai ahli tafsir (mufassir) ulung yang sangat telaten dalam mengurai makna dan maksud di balik firman Allah SWT, bahkan ia telah menulis sebuah masterpiece kitab monumental yang sangat besar, yang diberi judul Tafsir Mafatih al-Ghaib atau juga masyhur dengan nama Tafsir al-Kabir li ar-Razi.

Selain itu, Imam Fakhruddin ar-Razi juga dikenal sebagai ulama yang sangat giat dan istiqamah dalam membela dan menanamkan ajaran-ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Bahkan, pada masanya menjadi satu-satunya imam yang sangat getol dalam memborbardir pemahaman sesat dari orang-orang yang menganggap dirinya sangat Islam dan sangat berpedoman pada hadits nabi.

Kelahirannya mampu memberi warna cerah ketika semangat keilmuan dan intelektualitas mulai punah. Ia tidak hanya mampu membuat dirinya sebagai ahli ilmu, jauh dari itu juga berhasil dalam mencetak orang lain sebagai ahli ilmu.

Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Umar bin Ridha bin Muhammad Raghib bin Abdul Ghani ad-Dimisyqi (wafat 1408 H) dalam kitab Mu’jamu al-Muallifain, nama lengkapnya adalah Muhammad bin Umar bin Hasan bin Husain bin Ali at-Taimi at-Thabaristani ar-Razi asy-Syafi’i.

Imam Fakhruddin ar-Razi memiliki gelar yang sangat banyak, di antaranya Fakhruddin (kebanggaan Islam), Abdullah (Hamba Allah, karena kedekatannya dengan Allah melebihi yang lainnya). Gelar yang lain di antaranya adalah Abul Ma’ali (bapak kemuliaan) dan Khatibu ar-Ray (tukang khutbah di kora Ray.

Tidak ada catatan pasti dari para ulama sejarah yang berhasil penulis temukan perihal tahun kelahirannya. Kendati pun ada, misalnya menurut Syekh Umar ad-Dimisyqi yang mengatakan bahwa kelahirannya bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun 544 hijriah, namun pendapat ini tidak bisa dinyatakan dengan tegas, sebab para ulama sejarah lainnya masih banyak yang tidak sepakat dengannya.

Akan tetapi, yang pasti bahwa Imam Fakhruddin ar-Razi memiliki asal turunan dengan kebangsaan Thabaristan, sebagaimana yang disematkan pada namanya, at-Thabaristani, yaitu salah satu wilayah kuno yang saat ini berada dalam wilayah Iran, dan dilahirkan di kota Ray, Iran.

Rihlah Intelektualitas Imam ar-Razi

Imam Fakhruddin ar-Razi atau juga masyhur dengan panggilan ar-Razi memiliki pendidikan secara langsung dari ayahnya. Ia oleh Allah ditakdir lahir dari orang tua yang rajin ibadah dan sangat taat, bahkan bisa juga dikatakan ahli ilmu.

Ar-Razi tumbuh sebagai anak yang sejak kecil sudah mendapatkan asupan ilmu. Oleh karenanya, ia tidak terlalu menghiraukan dunia dan isinya dalam masa-masa pertumbuhan itu, termasuk juga tidak menghiraukan segala bentuk permainan yang pada umumnya disenangi oleh anak-anak.

Di bawah bimbingan ayahnya, ia tumbuh sebagai anak yang taat dan selalu mematuhi apa yang diperintahkan oleh ayahnya. Jika ada perintah untuk belajar, ia langsung mengambil pelajaran untuk membaca dan menghafalnya. Tidak pernah satu kali pun melanggarnya apa yang diperintahkan oleh ayahnya.

Dengan ketaatan itu, ar-Razi tumbuh sebagai anak yang sejak masa kanak-kanak sudah mengenal bagaimana rumusan para ulama, setidaknya ia mampu memahami beberapa konsep-konsep fiqih dan tafsir, khususnya dalam mazhab Syafi’iyah sekali pun tidak secara utuh dan mendalam mehami konsep itu.

Selain taat dan semangat, ada faktor lain yang sangat mendukung rihlah intelektualitas ar-Razi, yaitu ketangkasan dan kecerdasan yang ada dalam dirinya. Terbukti, apa saja yang diajarkan oleh ayahnya mampu ia paham bahkan ia hafal.

Hal itu terjadi dalam dirinya di usia yang masih sangat bocah, waktu yang seharusnya digunakan untuk bermain, namun baginya, tidak ada waktu yang lebih baik untuk digunakan selain untuk belajar.

Melihat kecerdasan dan ketangkasan anaknya, sang ayah tentu tidak ingin menyia-nyiakan semua itu. Ia tidak lantas mengajari semua ilmu kepada anaknya, namun juga menempatkan dan menitipkan anaknya kepada ulama tersohor lainnya. Hal ini sebagaimana ungkapan Imam asy-Syafi’i, sebagaimana yang telah ditulis dalam judul “Imam asy-Syafi’i: Anak Yatim Piatu yang Mulai Berfatwa Sejak Usia 15 Tahun”, beliau mengatakan,

“Berdiam diri saja di tempat mukim (rumah) sejatinya bukanlah peristirahatan bagi mereka pemilik akal dan etika, maka tinggalkan negerimu dan merantaulah (untuk mencari ilmu).”

“Berkelanalah (untuk mencari ilmu), niscaya akan engkau temukan pengganti orang-orang yang kau tinggalkan. Bersungguh-sungguhlah (dalam usaha), karena kenyamanan hidup itu ada pada kesungguhan.”

Berguru Pada Ulama Tersohor dan Awal Prestasinya

Di usianya yang masih sangat bocah, sang ayah harus dengan ikhlas membiarkan putra semata wayangnya untuk pergi meninggalkannya guna mengembara sebagai pelajar. Saat itu, ia menitipkan ar-Razi kepada Imam Dliya’uddin Umar, salah satu murid Imam al-Baghawi yang sangat masyhur keilmuannya.

Tidak hanya kepada Imam Dliya’uddin, ia juga belajar kepada ulama-ulama tersohor lainnya, misalnya Imam al-Kamal as-Samnani, Imam Majdu al-Jaili, Imam Muhammad bin Yahya dan beberapa ulama lainnya yang memiliki ilmu pengetahuan sangat luas.

Di bawah bimbingan para ulama tersohor, ar-Razi tidak pernah menyia-nyiakan guru-gurunya. Ia benar-benar belajar dengan semangatnya yang tinggi sebagaimana semangatnya saat bersama ayahnya. Ilmu apa pun tidak pernah ia tinggalkan dan tidak ada satu pelajaran pun yang ia biarkan. Semuanya ia pelajari tanpa terkecuali.

Dan benar saja, tidak berselang beberapa tahun, ar-Razi benar-benar tumbuh menjadi sosok yang sangat alim dan menguasai beragam cabang ilmu syariat. Perjuangannya yang tidak mengenal lelah dan pasrah pada akhirnya mampu mengantarkan dirinya sebagai sosok yang sangat luas keilmuan dan intelektualitasnya, dan yang paling aneh, semua itu ia dapati di usianya yang masih sangat muda.

Imam Ibnu Qadhi Abu Syuhbah dalam salah satu kitabnya mengatakan, bahwa ar-Razi sudah mampu mendalami beragam ilmu syariat di bawah bimbingan ulama-ulama tersohor itu,

أَتْقَنَ عُلُوْمًا كَثِيْرَةً وَبَرَزَ فِيْهَا

Artinya, “(Ar-Razi) telah menguasai ilmu-ilmu yang sangat banyak, ia juga sangat piawai di dalamnya.” (Ibnu Qadhi, Thabqatu asy-Syafi’iyah, [Beirut, Alimul Kutub: 1407], juz II, halaman 65).

Selain itu, di usia Imam Fakhruddin ar-Razi yang masih sangat bocah, sudah banyak orang-orang yang berdatangan untuk belajar ilmu pengetahuan kepada dan meminta nasihat padanya. Oleh karenanya, ia tumbuh menjadi salah satu ulama kondang dan juga sangat produktif.

Karya Imam Fakhruddin ar-Razi

Untuk membuktikan bahwa Imam ar-Razi sangat luas keilmuannya, ia telah memiliki banyak karya agung yang tidak henti-hentinya selalu dikaji oleh ulam pada masanya hingga saat ini. Dalam ilmu tafsir, ia memiliki salah satu karya monumental yang dikenal dengan Tafsir Mafatih al-Ghaib atau Tafsir al-Kabir li ar-Razi.

Selain dalam ilmu tafsir, ia juga sangat piawai dalam akidah, hingga kemudian muncul sebuah karya dengan judul Lawami’ul Bayyinat fi Syarhi Asmaillah was Shifat. Dengan kitab ini, tidak sedikit orang-orang di luar pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah yang bertobat.

Dalam ilmu ushuluddin (pokok-pokok agama), ia juga memiliki karya agung yang dikenal dengan kitab Ma’alimu Ushuliddin. Ia juga memiliki kitab khusus yang menjelaskan pola pikir ulama salaf (klasik) dan ulama khalaf (kontemporer) yang kemudian diberi judul Muhasshilu Afkari al-Mutaqaddimina wa al-Mutaakhkhirina min al-Ulama wa al-Hukama wa al-Mutakallimin. Dan masih banyak lagi karya agungnya.

Demikian biografi singkat Imam Fakhruddin ar-Razi. Dengan mengetahuinya, semoga bisa menambah semangat dan istiqamah dalam belajar.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.