Keagamaan

Makna Reinterpretasi Al- Islam Dalam Perspektif Al Qur’an – Arrahim.ID

Views 19

Interpretasi ulang atas term al Islam dalam Al- Qur’an masih sangat relevan hingga saat ini. Khususnya jika dikaitkan dengan semakin meningkatnya pergerakan keagamaan ekstrim, yang lebih mengedepabkan wajah islam marah, daripada islam ramah. Seringkali interpretasi al Islam selalu dikaitkan dengan segala bentuk ibadah formal, dan hanya dikaitkan dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.

Oleh sebab itu, sebagai agama wahyu, Islam memiliki seperangkat ajaran yang terkandung di dalamnya berupa ajaran tauhid atau keesaan Tuhan, Allah SWT menyatakan bahwa Islam merupakan agama yang diridhainya, orang-orang yang meyakininya akan mendapatkan keselamatan di akhirat kelak begitupun sebaliknya. Sebagaimana dalam firmannya:

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ ۗوَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) diantara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabnya”.

Al-Islam secara Etimologi berarti الانقياد (tunduk). Kata ini merupakan ثلاثى مزيد dari kata السلم / السلامة yang berarti من الافات الظاهرة والباطنة التعرى (terbebas dari wabah/ cela baik secara lahir maupun secara batin). Kata “Islam” berasal dari salima yang artinya selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh. Sebagaimana firman Allah SWT:

بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗٓ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Bahkan barangsiapa menyerahkan diri (aslama) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala disisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati”. (Qs. Al Baqarah: 112).

Dari kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknya disebut Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada ajarannya.

Sedangkan secara terminologis dapat diartikan Islam adalah agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai utusannya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, dimanapun kapanpun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.

Wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulnya untuk disampaikan kepada segenap umat manusia sepanjang masa dan setiap persada. Suatu sistem keyakinan dan tata-ketentuan yang mengatur segala perikehidupan dan penghidupan asasi manusia dalam berbagai hubungan; dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan alam lainnya.

Terminologi Islam secara bahasa memiliki beberapa makna. Makna-makna tersebut ada kaitannya dengan sumber kata “Islam” itu sendiri. Islam terdiri dari huruf dasar (dalam bahasa Arab) “Sin”, “Lam”, dan “Mim”. Beberapa kata dalam bahasa Arab yang memiliki huruf dasar yang sama dengan “Islam”, memiliki kaitan makna dengan Islam. Dari situlah kita bisa mengetahui makna Islam secara bahasa.

Jadi, makna-makna Islam secara bahasa antara lain: Al-istislam (berserah diri), Al-salamah (suci bersih), As-salam (selamat dan sejahtera), As-silmu (perdamaian), dan Sullam (tangga, bertahap atau taddaruj).

Al-istislam (berserah diri), juga memiliki huruf dasar yang sama dengan “Islam”, yaitu Sin, Lam, dan Mim. Sehingga Al-istislam merupakan makna lain dari Islam secara bahasa. Allah SWT berfirman:

اَفَغَيْرَ دِيْنِ اللّٰهِ يَبْغُوْنَ وَلَهٗ ٓ اَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepadanyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan”. (Qs. Ali Imran: 83).

Saliim (suci bersih), di dalam Al- Qur’an dijelaskan bahwa penganut dinul islam memiliki hati yang bersih (qalbun salim) saat menghadap kepada Allah yang Maha Suci.

اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

“…. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih….”. (Qs. As- syuara’: 89).

Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang suci dan bersih. Islam membawa ajaran kesucian dan kebersihan. Suci bersih disini adalah dalam segala hal, baik dari segi fisik, akhlak, pikiran dan sebagainya. Dalam hal fisik misalnya Islam mengajarkan penganutnya agar bersih pakaian dan tempat. Sebelum shalat, kita pun diwajibkan untuh bersuci dengan berwudhu. Kalaupun tidak ada air, bersuci tetap diwajibkan, yaitu dengan cara tayamum.

Salaam (selamat / sejahtera), sebagaimana yang di firmankan dalam Al- Qur’an:

وَاِذَا جَاۤءَكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِنَا فَقُلْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَۙ اَنَّهٗ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوْۤءًاۢ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَصْلَحَ فَاَنَّهٗ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“ Apabila orang-orang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salamun alaikum”. Tuhanmu telah menetapkan atas dirinya kasih saying, (yaitu) bahwasannya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al- an’am: 54).

As-silmu, bermakna perdamaian. Lafadz As-silmu ini tersirat dalam Al- Qur’an pada surah Muhammad (47) ayat 35 yang berbunyi:

فَلَا تَهِنُوْا وَتَدْعُوْٓا اِلَى السَّلْمِۖ وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَۗ وَاللّٰهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَّتِرَكُمْ اَعْمَالَكُمْ

“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu”.

Sullam, sullam memiliki huruf dasar yang sama dengan Islam, yaitu Sin Lam dan Mim. Sullam artinya tangga. Istilah sullam digunakan dibeberapa ayat di Al- Qur’an. Contohnya pada surah At- Tur ayat: 38.

امْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَّسْتَمِعُوْنَ فِيْهِۚ فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُمْ بِسُلْطٰنٍ مُّبِيْنٍۗ

“Ataukah mereka mempunyai tangga/ sullam (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan diantara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata”.

Pada hakikatnya, Al-Islam dalam perspektif Al- Qur’an masih banyak, namun konsep inilah yang utama yang terdapat pada nash Al- Qur’an. Kiranya bisa melengkapi dari tulisan ini, Wallahu a’lam. (mmsm)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.