Keagamaan

Muncul Fenomena Crazy Rich, Ini Peringatan Al-Qur’an | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Belakangan ini kita cukup sering mendengar istilah crazy rich, julukan yang biasanya mengacu kepada orang yang memiliki harta melimpah. Seorang konglomerat, kaya raya, tajir melintir. Tidak ada yang melarang seseorang untuk menjadi kaya, apalagi jika kekayaan tersebut mendatangkan manfaat yang luas.

Sayangnya, di era sekarang, kita begitu mudah melihat parade harta dan kekayaan tersebut. Di tengah banyaknya orang dengan himpitan ekonomi, kita disuguhkan harga-harga fantastis sebuah barang yang tidak masuk akal.

Misalnya satu tas yang menghiasi tangan seorang crazy rich , harganya cukup untuk membiayai iuran kesehatan orang sekampung. Atau satu jam tangannya yang bisa digunakan untuk membangun sekolah-sekolah di pelosok sana.

Hadirnya yang kuat dan yang lemah, si miskin dan si kaya, bukanlah hal yang baru. Namun, ketika akses untuk menyaksikannya terbuka lebar, jurang itu benar-benar nyata.

Pada masa Jahiliyah, sebelum Islam hadir, masyarakat terbagi atas suku-suku. Ada yang kuat, ada yang lemah. Jahiliyah atau “masa kebodohan” sendiri tidak mengacu pada kebodohan intelektual, melainkan lebih kepada perilaku yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang kita pahami. Mereka biasa membunuh bayi-bayi perempuan, merampok, melakukan riba, menuhankan berhala-berhala. Ketimpangan antara si miskin dan si kaya pun hidup di sana.

Antarsuku juga biasa melakukan peperangan. Mereka mempersengketakan air, hewan ternak, padang rumput, dan berbagai sumber daya lain. Dari peperangan-peperangan inilah kemudian lahir ketimpangan-ketimpangan. Tanah dan berbagai sumber daya lain akhirnya dimiliki oleh kabilah-kabilah tertentu saja. Orang-orang terhormat seperti kepala suku mendapatkan keuntungan lebih, menguasai, menjadi bangsawan di antara yang lainnya.

Si kaya hidup bermewah-mewahan, si miskin menjadi kelompok yang rentan, lemah dan dilemahkan (mustadh’afin). Budak dipekerjakan terus menerus tanpa upah, perempuan tidak dianggap kemanusiaannya. Ketidakadilan menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari hingga Islam datang mendobrak fenomena-fenomena tersebut.

Rasulullah berpihak kepada kelompok mustadh’afin. Dia menolak segala bentuk penindasan. Ketika mulai menyebarkannya, pesan kesetaraan Nabi itu tidak langsung diterima bahkan ditolak keras. Ketidakadilan adalah kenikmatan bagi para penguasa. Menerima kesetaraan berarti meninggalkan keistimewaan-keistimewaan tersebut.

Al-Qur’an banyak memberi peringatan perihal harta dan kekayaan. Dalam Surat Al-Humazah, Allah Swt mengingatkan kepada orang-orang yang menumpuk harta dan menghitung-hitungnya. Balasan untuk mereka adalah neraka hutamah.

Dalam QS. At-Taubah [9]: 34, orang yang hartanya tidak dibelanjakan di jalan Allah akan memperoleh siksaan yang pedih. Dalam surat Al-Maun, mereka digolongkan sebagai orang yang mendustakan agama.

Dengan semangat keadilan, Al-Qur’an juga menegaskan bahwa kekayaan tidak boleh berputar pada orang orang-orang kaya saja. Sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al-Hasyr [59]: 7,

مَآ اَفَاۤءَ اللّٰهُ عَلٰى رَسُوْلِهٖ مِنْ اَهْلِ الْقُرٰى فَلِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْۗ وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِۘ

Harta rampasan perang (fai’) dari mereka yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (yang berasal) dari penduduk beberapa negeri, adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan untuk orang-orang yang berada dalam perjalanan, agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.”

Harta juga merupakan tanggung jawab. Bagaimana ia didapatkan dan ke mana dibelanjakan akan menerima ganjarannya. Seperti yang tertuang dalam QS. An- Nisa [4]: 2;

وَاٰتُوا الْيَتٰمٰىٓ اَمْوَالَهُمْ وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيْثَ بِالطَّيِّبِ ۖ وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَهُمْ اِلٰٓى اَمْوَالِكُمْ ۗ اِنَّهٗ كَانَ حُوْبًا كَبِيْرًا

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah dewasa) harta mereka, janganlah kamu menukar yang baik dengan yang buruk, dan janganlah kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sungguh, (tindakan memakan dan menukar) itu adalah dosa yang besar.

Selain peringatan-peringatan yang tercantum dalam Al-Qur’an, Rasulullah juga pernah bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Zaid, “Barang siapa mengambil satu jengkal tanah yang bukan haknya, ia akan dikalungi tanah seberat tujuh lapis bumi di hari kiamat,” (HR. Muslim).

Jika kita melihat ayat-ayat dan Hadis di atas, begitu jelas bahwa Islam sangat tegas kepada orang yang menumpuk harta, tidak membagikannya ke jalan Allah, dan berasal dari yang bukan haknya. Nampak jelas pula ancaman bagi mereka, dari siksa yang pedih sampai neraka hutamah.

Kita memang tidak tahu persis bagaimana harta seorang crazy rich dibelanjakan, pun tak berhak menghakiminya. Tetapi bukankah tetap saja tidak elok jika memamerkannya di tengah jeratan kemiskinan? Apalagi dengan semangat Islam yang membebaskan, melepaskan manusia dari jurang kemiskinan dan kehinaan. Wallahu a’lam.

(Baca: Flexing Ramai Dipergunjingkan Nitizen, Begini Penjelasannya Menurut Islam)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.