Keagamaan

Viral Pendeta Minta 300 Ayat Al-Qur’an Dihapus, Pertanda Penceramah Agama Pemecah Belah Umat | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Belakangan viral di media sosial dan maenstream seorang pendeta minta 300 Ayat Al-Qur’an dihapus. Fenomena ini merupakan pertanda penceramah agama pemecah belah umat.

Pendakwah selain memiliki tujuan agung dan luhur, yaitu menciptakan sebuah kenyamanan, ketentraman dan keadilan dalam bersosial dan berbangsa, mereka juga memiliki tugas yang serius untuk mendidik dan mengajarkan manusia agar terus berada dalam nilai-nilai kebaikan.

Kendati pun demikian, masih saja ada pendakwah yang meninggalkan tujuan itu, dan membelokkan pada sebuah permusuhan dan ketidaknyamanan antar manusia. Kita bisa menyaksikan, banyaknya pendakwah di Indonesia tentu memiliki nilai yang sangat mulia dan layak untuk dibanggakan, andaikan mereka memiliki visi dan misi kedamaian. Namun, kita juga bisa menyaksikan bahwa banyaknya pendakwah itu justru menjadi penyebab terpecahnya umat, baik yang seagama hingga lintas agama.

Pemecah belah agama saat ini tidak hanya muncul dari pendakwah Islam, dari pihak non-muslim pun juga sering menjadi bagian dari semua itu. Misalnya, salah satu pendeta meminta Menteri Agama Gus Yaqut Cholil Qoumas untuk menghapus 300 ayat Al-Qur’an, karena ayat itu mengajarkan paham radikalisme.

Tentu, permohonan itu menjadi salah satu penyebab tidak adanya harmonis antar umat beragama. Sebab, jika pemeluk agama lain mencoba untuk ikut campur dalam aturan-aturan Islam, sama halnya dengan mengajak umat beragama untuk tidak saling harmonis.

Sebelum kejadian ini terjadi, sebenarnya Al-Qur’an sudah membaca perjalanan antarumat beragama. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمْ وَكَانُواْ شِيَعاً لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَآ أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’am [6]: 159).

Syekh Ali asy-Syaukani, salah satu ulama ahli fiqih sekaligus pakar dalam bidang ilmu tafsir berasal dari mazhab Hanafiyah, mengutip pendapat mayoritas para ulama tafsir. Dalam kitabnya ia menyebutkan, bahwa ayat ini memiliki makna dan cakupan yang umum.

Dengan kata lain, pemecah belah agama tidak hanya berasal dari orang Islam saja, pemeluk agama lain juga demikian, seperti Yahudi, Nasrani, dan semua pemeluk agama non-muslim. Begitu juga dengan orang Islam, misalnya kelompok-kelompok ekstrimisme yang memahami ayat Al-Qur’an sebatas tekstual saja. (Syekh asy-Syaukani, Fathu al-Qadir, juz II, halaman 231).

Senada dengan pendapat di atas, Imam Ibnu Katsir ad-Dimisyqi juga mengatakan demikian. Menurutnya, ayat ini menegaskan bahwa eksistensi ayat ini mencakup semua orang yang meninggalkan agama Allah kemudian menyalahinya. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anil Azim, [Dar ath-Thayyibah: 1999], juz III, halaman 376).

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pemecah belah agama akhir-akhir ini bisa disimpulkan menjadi dua bagian; (1) orang Islam yang memahami ayat atau hadits secara tekstual namun tidak memahaminya secara kontekstual.

Selain itu, mereka juga hanya membaca ayat dengan pemikiran yang jumud dan dangkal, akibatnya semua yang tidak sepaham dengannya akan dianggap salah dan bahkan dianggap kafir;

Dan (2) pemecah belah agama yang muncul dari non-muslim, yaitu orang-orang yang mencoba menggugat atau bahkan mencoba mempermasalahkan kesakralan Al-Qur’an, teks hadits dan beberapa dalil-dalil lainnya. Misalnya, pendeta yang telah disebutkan di atas.

Dua kelompok di atas tentu perlu dijauhi. Sebab, dengan kehadiran mereka, konteks keberagaman di Indonesia yang sangat plural akan ternodai dan tidak tercipta lagi sebuah keharmonisan dan kedekatan antarumat beragama.

Allah SWT dalam Al-Qur’an melarang umat Islam untuk mencoba mengganggu cara berkeyakinan dan cara berpikir pemeluk agama lain. Di antaranya,

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya, “Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik setiap pekerjaan mereka. Kemudian kepada Rabb mereka kembalinya mereka, lalu Dai memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am [6]: 108).

Dari ayat ini, bisa disimpulkan bahwa sudah seharusnya umat Islam menjadi umat terdepan dalam menjaga keharmonisan dan tidak pernah mengganggu cara beribadah atau sesembahan pemeluk agama lain.

Jika demikian, tentu harus ada keselarasan untuk menjaga keharmonisan itu. Sebagai umat Islam menghargai penuh cara beribadah non-muslim, maka juga sudah seharusnya non-muslim juga menghargai cara beribadah dan berpikir umat Islam. 

Demikian penjelasan terkait pendeta minta 300 Ayat Al-Qur’an dihapus. Yang menunjukkan fenomena ini merupakan pertanda penceramah agama pemecah belah umat. (Baca: Mufti Zimbabwe Sebut Penceramah Agama Tak Seharusnya Menyebut Covid-19 Hoaks)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.