Keagamaan

Membantah Argumen Ustadz Khalid Basalamah Terkait Pawang Hujan Haram dalam Islam | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Pawang hujan tengah ramai didialogkan di tanah air. Tindakan tersebut dianggap syirik. Lebih jauh lagi, pawang hujan dihukumi haram. Yang di larang dalam Islam.

Untuk pembenaran tersebut, dikutipkan pendapat para ustadz kondang. Salah satunya Ustadz Khalid Basalamah. Dalam video yang beredar di Twitter, seorang jemaah bertanya terkait pawang hujan.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Ustadz Khalid berkata, pawang hujan adalah dukun, tidak boleh sama sekali. Haram dalam Islam. Kendatipun, pawang itu memakai ayat Al-Qur’an. 

Simak transkip ceramah dari video pendek tersebut; “Menanggapi pawang hujan, ini dukun, penyihir, jangan dipanggil, tarok telur di belakang rumah, tarok keris, tarok segala sesuatu, jin yang jaga rumah itu.

Untuk apa? ada acara hujan, biarin hujan akhi, itu rahmat dari Allah. Pasang tenda, masuk dalam ruangan. Undangannya ditunda. Pawang hujan ini dukun, tidak boleh sama sekali. Haram dalam Islam. Walaupun mereka pakai baca-bacaan Al-Qur’an ya. Jangan diperceya. Khurafat semua itu.    

Lantas benarkah tuduhan tersebut? Betulkah pawang hujan haram? Yang dilarang dalam Islam. Atau benarkah narasi yang berkembang bahwa pawang hujan syirik dan menolak takdir?

Membantah Tuduhan Pawang Hujan Syirik 

Sungguh tuduhan yang sangat tak berdasar, jika berdoa diredakan hujan dianggap sebagai syirik. Jangan hanya ketika berdoa memakai perantara sesuatu atau memakai suatu aksesoris, lantas divonis syirik. Selagi ia tidak meminta ke barang tersebut atau jin, maka yang demikian diperbolehkan. 

Sayyid Muhammad Alawi dalam Mafahim Yajib An Tusahhah juga menegaskan, bahwa bertwassul itu boleh, selagi ia tidak meyakini bahwa yang dibuat tawassul lah yang mengabulkan, memberikan manfaat atau bahaya adalah yang dibuat tawassul. (Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, Mafahim Yajib An Tusahhah, halaman  119)

Seharusnya yang menuduh seperti ini, mengetahui bahwa berdoa bukanlah syirik, apalagi ini memintanya kepada Allah swt. Bukankah tempat kita berdoa memang kepada Allah Swt? Kalau tidak berdoa kepada Allah, lantas kepada siapa lagi? Agaknya ini sudah jelasa duduk perkaranya.

Perlu diketahui air hujan memang berkah, bahkan ini dinash oleh al-quran. Allah berfirman dalam surat Qaf ayat 9:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً مُّبٰرَكًا فَاَنْۢبَتْنَا بِهٖ جَنّٰتٍ وَّحَبَّ الْحَصِيْدِۙ – ٩

“Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen”.

Pasal air hujan membawa berkah memang benar, hanya saja kalau kebanyakan bisa menjadi musibah. Pawang hujan bukan yang mengendalikan hujan, hanya saja ia berdoa kepada Allah, agar hujannya tidak “mengganggu”. 

Baik mengganggu yang sampai menyebabkan banjir, atau mengganggu jalannya sebuah acara. Kebiasaan masyarakat, ketika melangsungkan acara atau hajatan, banyak yang memakai jasa pawang hujan untuk berdoa, agar tidak menganggu khidmatnya acara. 

Lantas, apakah demikian diperbolehkan? Jawabannya; boleh, bahkan sunnah. Dijelaskan:

(وَإِنْ تَضَرَّرُوا بِكَثْرَةِ الْمَطَرِ) بِتَثْلِيثِ الْكَافِ أَوْ دَامَ الْغَيْمُ عَلَيْهِمْ بِلَا مَطَرٍ وَانْقَطَعَتْ الشَّمْسُ عَنْهُمْ وَتَضَرَّرُوا بِهِ (سَأَلُوا اللَّهَ) تَعَالَى نَدْبًا (رَفْعَهُ فَيَقُولُوا) مَا «قَالَهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَمَّا شُكِيَ إلَيْهِ ذَلِكَ اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ» رَوَاهُ الشَّيْخَانِ.

“Jika datangnya hujan dirasa kebanyakan (yang berimplikasi pada musibah, yakni mengganggu) atau malahan awan selalu ditutupi mendung, dan tidak ada sinaran matahari, lalu mereka mengalami kerugian sebab hal tersebut, maka disunahkan untuk berdoa kepada Allah Swt agar menghilangkannya. 

Lalu berdo’a sebagaimana do’a rasul saat keberatan akan hal tersebut “Allahumma Hawalaina Wa la ’alaina, Allahumma ‘alal Akami Wadz dzirobi Wabuthunil Audiyati Wamanabitisy-syajari.

Ya Allah jadikanlah hujan ini menjadi berkah bagi kami, bukan malah menjadi musibah. Ya Allah berilah hujan ke dataran tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan”. Seperti yang diriwayatkan oleh Syaikhan dalam kitab shahih-nya. (Asna Al-Mathalib fi syarh raud al-talib,  I/293

Benarkah Pawang Hujan Menolak Takdir?

Lantas apakah berdoa meredakan hujan dianggap menolak takdir? Terkait persoalan ini, simak penjelasan berikut:

وَعِبَارَةُ شَرْحِ م ر أَفَادَتْ الْوَاوُ أَنَّ طَلَبَ الْمَطَرِ حَوَالَيْنَا الْقَصْدُ مِنْهُ بِالذَّاتِ وِقَايَةُ أَذَاهُ فَفِيهَا مَعْنَى التَّعْلِيلِ أَيْ اجْعَلْهُ حَوَالَيْنَا لِئَلَّا يَكُونَ عَلَيْنَا وَفِيهِ تَعْلِيمُنَا أَدَبَ الدُّعَاءِ حَيْثُ لَمْ يَدْعُ بِرَفْعِهِ مُطْلَقًا لِأَنَّهُ قَدْ يَحْتَاجُ لِاسْتِمْرَارِهِ بِالنِّسْبَةِ لِبَعْضِ الْأَوْدِيَةِ وَالْمَزَارِعِ، فَطَلَبُ مَنْعِ ضَرَرِهِ وَبَقَاءُ نَفْعِهِ وَإِعْلَامُنَا بِأَنَّهُ يَنْبَغِي لِمَنْ وَصَلَتْ إلَيْهِ نِعْمَةٌ مِنْ رَبِّهِ أَنْ لَا يَسْخَطَ لِعَارِضٍ قَارَنَهَا بَلْ يَسْأَلُ اللَّهَ رَفْعَهُ وَإِبْقَاءَهَا وَبِأَنَّ الدُّعَاءَ بِرَفْعِ الْمَطَرِ لَا يُنَافِي التَّوَكُّلَ وَالتَّفْوِيضَ انْتَهَتْ

Dari keterangan anotasinya Imam Al-Ramli menjelaskan bahwasanya berdoa dengan redaksi di atas bermakna meminta hujan yang tidak menyebabkan gangguan atau marah bahaya, melainkan menjadi sebuah rahmat dan berkah. 

Dan dalam doa tersebut ada sebuah pengajaran penting mengenai adab berdoa, yakni tidak meminta diangkatnya hujan secara totalitas, sebab bisa jadi tempat lain membutuhkannya, maka dari itu Rasulullah tetap meminta hujan, namun juga meminta agar hujan tersebut tidak menjadi bahaya. 

Pada hadis tersebut, Rasuluullah Saw juga mengajarkan bahwa siapa yang diberi nikmat itu janganlah merasa terganggu, akan tetapi memintalah yang sedang-sedang saja, agar menjadi berkah, bukan musibah. 

Dan doa untuk meredakan hujan itu tidaklah dihukumi sebagai orang yang tidak tawakkal dan tafwid, yakni pasrah terhadap ketentuan dan takdir yang diberikan Allah ). (Futuhat Al-Wahhab bi Taudih Syarh Manhaj al-Thullab, biasa dikenal dengan Hasyiyat Al-Jamal,  II/128)

Kisah Rasulullah SAW meminta hujan untuk diberhentikan ini termaktub dalam kitab hadis yang paling otoritatif, yaitu Sahih Bukhari. Berikut redaksinya:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: أَصَابَ أَهْلَ المَدِينَةِ قَحْطٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَيْنَا هُوَ يَخْطُبُ يَوْمَ جُمُعَةٍ، إِذْ قَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتِ الكُرَاعُ، هَلَكَتِ الشَّاءُ، فَادْعُ اللَّهَ يَسْقِينَا، «فَمَدَّ يَدَيْهِ وَدَعَا»، قَالَ أَنَسٌ: وَإِنَّ السَّمَاءَ لَمِثْلُ الزُّجَاجَةِ، فَهَاجَتْ رِيحٌ أَنْشَأَتْ سَحَابًا، ثُمَّ اجْتَمَعَ ثُمَّ أَرْسَلَتِ السَّمَاءُ عَزَالِيَهَا، فَخَرَجْنَا نَخُوضُ المَاءَ حَتَّى أَتَيْنَا مَنَازِلَنَا، فَلَمْ نَزَلْ نُمْطَرُ إِلَى الجُمُعَةِ الأُخْرَى، فَقَامَ إِلَيْهِ ذَلِكَ الرَّجُلُ أَوْ غَيْرُهُ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ: تَهَدَّمَتِ البُيُوتُ فَادْعُ اللَّهَ يَحْبِسْهُ، فَتَبَسَّمَ، ثُمَّ قَالَ: «حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا» فَنَظَرْتُ إِلَى السَّحَابِ تَصَدَّعَ حَوْلَ المَدِينَةِ كَأَنَّهُ إِكْلِيلٌ.

Diriwayatkan dari Anas bahwa ia bercerita: “Di masa Rasulullah, penduduk Madinah pernah mengalami kesulitan air. Lalu suatu ketika saat Rasulullah SAW berkhutbah di hari jum’at, seorang lelaki berdiri lalu berucap: 

‘Wahai Rasulullah hewan-hewan sama kelaparan, kambing-kambing sama mati. Berdoalah pada Allah agar menurunkan hujan. Lalu Nabi menengadahkan tangan beliau dan berdoa”. 

Anas melanjutkan: “Langit bagai kaca. Angin berhembus kencang. Kemudian mendung muncul, bergumpal, langit mengutus tempat keluarnya hujan. Kami kemudian keluar mengambil air sampai kami pulang ke rumah. Hujan terus turun sampai Jum’at berikutnya. 

Lalu lelaki itu berdiri (atau yang lain) kemudian berkata: ‘Wahai Rasulullah, rumah-rumah sama roboh. Berdoalah pada Allah agar menahannya’ lalu Rasulullah SAW tersenyum. 

Kemudian berdoa ‘Pada sekitar kami, jangan pada kami’. Lalu aku melihat mendung terpisah-pisah di sekitar Madinah bak tali ikat kepala. (HR. Bukhari No. 3582. IV/195)

Hukum Pawang Hujan 

Jadi berdoa untuk meredakan hujan melalui pawang hujan, itu sunnah, bukan haram, seperti yang dituduhkan oleh sebagian kalangan. Sebab pada dasarnya hujan memang suatu keberkahan, namun jika sampai mengganggu, tentunya ini akan berbanding terbalik, ketika justru datangnya hujan menjadi sebuah “pengganggu”. 

Amat jauh sekali, jika hanya dengan meminta pawang hujan divonis syirik, khurafat atau bahkan menolak keberkahan dan takdir. (Baca juga: Hukum Pawang Hujan)

Semuanya ada konteksnya, jika Rasulullah Saw saja pernah melakukan, maka apakah etis seorang yang juga melakukan demikian dianggap syirik atau menolak berkah? Mari selektif dan berhati-hati dalam melontarkan vonis, sebab bisa jadi vonis tersebut menjadi boomerang bagi kita. Wa al-iyadz billah.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.