Serbaserbi

Raziyya Al-Din dan Shajarat al-Durr: Muslimah Pemimpin Dinasti yang Berakhir Tragis

Cukup banyak sosok perempuan hebat di dunia Islam yang mampu naik hingga ke puncak kekuasaan. Hanya saja, para sultan perempuan ini harus melalui serangkaian turbulensi politik yang berat dan rongrongan yang sengit dari berbagai pihak. Dua di antara perempuan perkasa itu adalah Raziyya Al-Din dan Shajarat al-Durr.

Dalam sejarah Islam , Raziyya adalah perempuan pertama yang berkuasa. Perempuan kedua adalah Sajarah al-Dur (1249 M), pendiri Dinasti Mamluk 1249-1517 M di Mesir.

Raziyya adalah Sultan Delhi (India) keempat pada Dinasti Ghuriyah yang berkuasa antara 1236 hingga 1240.

Raziyya lahir di Budaun tahun 1205. Terlahir sebagai putri dari Shamsuddin Iltutmish dan Qutub Begum, keluarga Raziyya sebenarnya bukanlah bangsawan. Bahkan, leluhur mereka berasal dari budak Seljuk Turki. Sang ayah datang ke Delhi sebagai budak di bawah kekuasaan Sultan Qutb al-Din Aibak, yang mendirikan fondasi dinasti Mamluk atau dinasti Budak.

Sebelum wafat, Sultan Shamsuddin Iltutmish menunjuk Raziyya sebagai pengantinya. Para pembesar istana pun keberatan. Mereka menganggap dengan menundukkan kepala di hadapan seorang perempuan merupakan penghinaan. Mereka mengabaikan wasiat sultan dan mengangkat saudaranya Rukunuddin Firuz sebagai sultan.

Pilihan ini ternyata sangat ceroboh. Rukunuddin Fairuz tidak cakap. Ia terlalu memperturutkan hatinya dalam perbuatan yang hina. Ia mengabaikan urusan negara dan menghambur-hamburkan kekayaannya.

Pengelolaan urusan negara diserahkan kepada ibunya, Syah Turkan yang juga tidak bermoral. Tak ayal, seluruh kerajaan menjadi kacau, sehingga pemerintahan pusat kehilangan kekuasaannya di provinsi-provinsi.

Para gubernur memberontak kemudian Rukunuddin dan ibundanya ditangkat dan dimasukan ke penjara hingga wafatnya.

Raziyya akhirnya diangkat kembali sebagai penguasa di Delhi.

Dalam pemerintahannya, Sultan Raziyya tidak menganggap tahta Delhi itu sebagai Taman Bunga Mawar yang indah.

Nizamul Muluk Muhammad Zunaidi, yaitu wazir Rukunuddin dan beberapa bangsawan lainnya tetap tidak mengakui pengangkatannya dan mengorganisasikan untuk memberontak. Karena itu Raziyya tidak tinggal diam. Ia menumpas musuh-musuhnya dan memulihkan ketertiban seluruh kerajaan.

Hanya saja, Raziyya tidak ditakdirkan untuk menikmati pemerintahan yang damai. Raziyya tampaknya menentang pendapat ulama dengan menolak pakaian wanita yang sudah lazim digunakan pada masa itu. Dia juga menolak pemisahan laki-laki dan perempuan dalam pertemuan-pertemuan.

Dia terjun sendiri melawan musuh-musunya dan menyelenggarakan urusan-urusan pemerintah dengan kemampuannya yang hebat.

pada tahun 1240 M, terjadi pemberontakan di mana-mana secara terbuka untuk menolak sultan perempuan, di samping itu tidak memperoleh restu dari khalifah Abbasiyah di Baghdad.

Pemberontakan pertama dilakukan oleh Ikhtiyaruddin Al-Tuniya, Gubernur Sarhind. Raziyya memimpin suatu pasukan besar untuk menindas pemberontakan tersebut, tetapi dikalahkan dan dijadikan tawanan Al-Tuniya. Tahta kerajaan diambil Bahram Shah, putera dari Iltutmish yang lain.

Kemudian pada tahun 1240, Altunia menikahi Raziyya. Ada sejarawan yang berpendapat Raziyya menikahinya agar tak dihukum mati, tetapi ada pula yang berpendapat Altunia memenjarakan Raziyya lantaran cemburu karena kedekatannya dengan Jamaluddin Yaqut, seorang budak Ethiopia.

Mereka berdua pun memutuskan merebut kembali takhta dari saudaranya. Namun, Bahram mampu mengalahkan pasangan itu. Raziyya bersama Altunia pun segera melarikan diri dari Delhi dan sampai di Kaithal keesokan harinya. Sayangnya, di sanalah mereka dirampok oleh Hindu Jat dan dibunuh pada 14 Oktober 1240. Sultan perempuan pertama pun wafat di usia 35 tahun.

Shajarat al-Durr

Perempuan perkasa kedua adalah Shajarat al-Durr, Dia adalah pendiri Dinasti Mamluk, setelah sukses mengakhiri Dinasti Ayyubiyah di Mesir. Shajarat al-Durr, adalah julukan yang berarti “pohon mutiara”. Ia memang dikenal akan kesukaannya pada permata laut tersebut. Shajarat al-Durr lahir pada sekitar abad ke 13 di Armenia, dari keluarga besar Kipchak, Turki yang nomaden.

Pada masa kelahiran Shajarat al-Durr, dunia sedang dikejutkan oleh ekspedisi raksasa pasukan Mongol yang menyapu hampir seluruh daratan Asia, termasuk Armenia. Pada saat yang sama, di Mesir, tampuk kekuasaan sudah beralih dari Dinasti Fatimiyyah ke Dinasti Ayyubiyah.

Shajarat al-Durr dipersunting oleh Sultan Al-Malik al-Salih, penguasa Mesir waktu itu. Di samping Shajarat al-Durr, dia juga yang membawa sejumlah besar orang-orang Kipchaks ke Kairo untuk dijadikan sebagai tentara, yang kemudian dikenal dengan Mamluk.

Al-Makrisi, sejarawan dan penyair abad ke-14 dan ke-15, menulis bahwa Sultan sangat mencintai Shajarat al-Durr, sampai-sampai Sultan selalu membawa dia bersamanya ke medan perang, dan wanita inipun tidak pernah mengundurkan diri dari pertempuran.

Shajarat al-Durr menjadi penasihat militer yang paling berpangaruh bagi Sultan. Pendapat-pendapatnya yang brilian, kerap menjadi strategi yang menjadi penentu kemenangan.

Hal ini menjadikan Sultan sangat bergantung pada Shajarat al-Durr, baik di medan perang, bahkan dalam hal mengurus negara. Melalui Shajarat al-Durr-lah orang-orang Mamluk menjadi salah satu pasukan elit yang cukup disegani di Mesir pada masa itu.

Tom Verde dalam tulisannya berjudul “Malika III: Shajarat Al-Durr” menyebut ketajaman strategi Shajarat al-Durr mulai menjadi legenda ketika pada musim semi tahun 1249, Sultan Al Salih sedang melakukan pertempuran di Syiria. Tiba-tiba terdengar kabar bahwa tentara Perang Salib Ketujuh, yang dipimpin oleh Louis IX dari Prancis, sedang berlayar ke Mesir, yang bertujuan untuk mendaratkan 1.800 kapal dan 50.000 orang di kota Delta Sungai Nil, Damietta.

Shajarat al-Durr yang saat itu dipercaya memegang kendali negara, mengisi kekosongan komando dan memerintahkan Fakhruddin, salah satu komandan pasukannya untuk ke Damietta dan memimpin pasukan Mamluk menghalau laju Louis IX.

Masalahnya, pasukan inti Ayyubiyah dibawa pergi oleh Sultan dalam ekspedisinya ke Syiria, dan Fakhruddin hanya bisa mengandalkan pasukan yang tersisa untuk menghadapi pasukan Louis IX.

Tapi berita mengejutkan datang dari pertempuran di Syiria, Sultan terluka parah, dan harus pulang dengan cara ditandu.

Di sisi lain, pasukan yang dipimpin oleh Fahkruddin sudah mulai kewalahan di Damietta, dan akhirnya memilih mundur, sambil menunggu kedatangan sang Sultan bersama bala tentara intinya.

Sultan yang terluka itu akhirnya tiba di al-Mansoura (kota yang berjarak sekitar 100 Km dari laut Kairo) bersama pasukannya.

Kedatangannya segera menaikkan moral pasukan yang baru saja dipukul mundur oleh Tentara Salib. Selama sakitnya, Shajarat al-Durr tidak pernah berpisah dengan Sultan. Hingga pada Agustus 1249, Sultan Al Saleh meninggal dunia.

Kecerdasan Shajarat al-Durr berhasil membawanya pada analisis strategis yang rumit tentang apa yang akan terjadi bila berita ini terdengar luas keluar. Moral pasukan bisa tiba-tiba jatuh, dan pasukan Louis IX akan dengan sangat mudah merebut Kairo.

Akhirnya ia memutuskan untuk sementara waktu menyembunyikan kabar duka ini, sambil ia memanggil Turan Shah, putra tertua Al Saleh dari istri pertamanya, untuk datang ke Kairo dan mengambil alih kepemimpinan ayahnya. Tapi rentang waktu antara kematian Al Saleh dan kedatangan Turan Shah bukan sebentar. Di sinilah kemudian kepiawaian Shajarat al-Durr terlihat nyata.

Ia memanggil semua orang kepercayaan dan membuat satu skenario konspirasi yang rumit untuk mengamankan rahasia wafatnya Sultan.

Selama masa itu, otoritas negara praktis sepenuhnya berada di bawah kendali Shajarat al-Durr. Hebatnya, skenario ini berjalan mulus, negara baik-baik saja, meskipun ancaman dari luar terus mendesak masuk ke Istana. Dan setelah lebih dari tiga bulan, akhirnya Turan Shah bersama pasukannya tiba dari Turki.

Perintah pertama Shajarat al-Durr kepada putra tirinya ini adalah mengambil alih komando pasukan dan mengalahkan Louis IX. Dengan racikan strategi yang memang sudah matang dipersiapkan oleh Shajarat al-Durr, Turan Shah akhirnya berhasil mengalahkan Pasukan Salib, dan menangkap Louis IX.

Setelah berhasil mengalahkan Pasukan Salib, tahta Kairo kemudian diserahkan kepada Turan Shah yang sekaligus menjadi Sultan Dinasti Ayyubiyah.

Namun situasi mendadak berubah ketika negara diperintah oleh Turan Shah. Ia tidak memiliki kecakapan yang mumpuni, dan tidak disukai oleh rakyatnya.

Situasi politik dalam negeri menjadi semakin kacau ketika Turan Shah lebih mengutamakan pesukan yang dibawanya dari Syiria ketimbang orang-orang Mamluk yang sudah bertahun-tahun menjadi elit di Ayyubiyah.

Gesekan ini berujung pada terbunuhnya Turan Shah pada 2 Mei 1250. Orang-orang Mamluk kemudian menobatkan Shajarat al-Durr sebagai Sultana.

Dengan tewasnya Turan Shah, maka berakhirlah masa Dinasti Ayyubiyah, dan bersamaan dengan itu, diangkatnya Shajarat al-Durr sebagai Sultana, telah menandai lahirnya dinasti Mamluk yang akan memerintah Mesir hingga awal abad ke 19 Masehi.

Tak lama setelah Shajarat al-Durr diangkat menjadi Sultan Mesir, tantangan pertamapun datang, yaitu budaya patriarki itu sendiri. Tidak sedikit yang mengecam keputusan yang menempatkan Shajarat al-Durr sebagai “Khilafah” dan memerintah satu areal kekuasaan yang cukup luas pada masanya. Kecaman ini tidak hanya datang dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri.

Salah satu kritik atau kecaman serius datang dari Abbasiyah. Khalifah al-Musta’sim menyatakan: “Kami telah mendengar bahwa Anda diperintah oleh seorang wanita sekarang. Jika Anda kehabisan orang di Mesir, beri tahu kami supaya kami dapat mengirimi Anda seorang pria untuk memerintah Anda.”

Akhirnya, untuk meredam situasi yang kurang kondusif ini, Shajarat al-Durr kemudian menikahi seorang prajurit rendahan bernama Izz al-Din Aybek dari Mamluk, dan memberikan mahkota kepadanya.

Sejarah mencatat, Shajarat al-Durr praktis hanya memerintah selama 80 hari sebagai Sultan Mesir secara de facto maupun de jure, sebelum akhirnya mahkota berpindah ke Izz al-Din Aybek.

Meski begitu, siapapun tau bahwa Aybek hanya dalih. Secara de facto, kekuasaan di Mesir tetap dipegang sepenuhnya oleh Shajarat al-Durr. Secara de facto, pemerintahan Shajarat al-Durr di Mesir berlangsung selama 7 tahun.

Para sejarawan mengatakan bahwa ia memiliki tipe kepemimpinan yang sangat kuat, serta berhasil menegakkan keadilan dan menyejahterakan masyarakatnya. Sehingga rezim pertama Mamluk – yang sebenarnya orang asing di Mesir – mendapat legitimasti dan dukungan yang luas dari masyarakat setempat.

Shajarat al-Durr meninggal dunia pada tahun 1257 Masehi. Hanya saja, kisah akhir kehidupan Shajarat al-Durr sangat tragis. Iapun mungkin tidak pernah menyadari bahwa keputusannya 7 tahun yang lalu, ketika ia menikahi Aybek akan berbuah pahit.

Ceritanya, pada saat Aybek dinikahi Shajarat al-Durr, ia sudah memiliki seorang istri yang bernama Ummu Ali, dan memiliki juga seorang putra. Karena pernikahannya, Aybek akhirnya menelantarkan anak dan istrinya. Namun lama kelamaan, Aybek pun mulai bosan dengan peran yang dimainkannya.

Ia pun akhirnya melancarkan pemberontakan kepada Shajarat al-Durr pada tahun 1254. Namun pemberontakan ini berhasil dipadamkan oleh Shajarat al-Durr.

Pada tahun 1257 Aybek mengambil keputusan yang fatal. Untuk meningkatkan kekuatannya, ia kemudian meminang seorang istri dari salah satu kerajaan yang cukup kuat pada masa itu.

Dan ini bagi Shajarat al-Durr adalah sebuah rencana pengkhianatan yang besar. Aybek pun akhirnya menjadi tahanan rumah. Ia di tempatkan di paviliun belakang istana. Tapi keputusan ini ternyata tidak disukai oleh banyak orang-orang Mamluk. Seorang Sultan ditahan di dalam Istana oleh istrinya, adalah sebuah hal yang aneh pada masa itu.

Melihat keputusannya yang kurang populis, akhirnya Aybek dibebaskan oleh Shajarat al-Durr hanya beberapa bulan kemudian. Tapi tak lama setelah bebas, berita duka pun datang. Aybek dikabarkan meninggal.

Shajarat al-Durr menceritakan bahwa ia meninggal wajar di tempat tidurnya. Namun ini ditolak oleh orang-orang Mamluk. Dukungan orang-orang Mamluk kepada Shajarat al-Durr-pun dicabut. Ia pun kemudian dihukum.

Adalah Al-Mansur Ali, putra Aybek yang ditelantarkan, dari perkawinannya dengan Ummu Ali, kemudian didaulat menjadi Sultan menggantikannya. Vonis terhadap Shajarat al-Durr pun dijatuhkan oleh Al-Mansur Ali.

Kabarnya, kaki Shajarat al-Durr di seret lalu tubuhnya kemudian dijatuhkan dari atas Benteng Kairo. Ia kemudian dimakamkan di tempat yang memang sudah dipersiapkan olehnya semasa hidupnya. Makam itu menjadi salah satu yang paling indah di Kairo.

(mhy) Miftah H. Yusufpati

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.