Keagamaan

Syaikh ‘Abdul Ghanī an-Nābulusī (w. 1143/1731) dan Bimbingan Akidah untuk Masyarakat Nusantara | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Dalam al-A‘lām (Juz 4, h. 32-33), Khairuddin az-Zirkilī memaparkan biografi singkat ulama agung dari Damaskus ini. Nama lengkapnya adalah ‘Abdul Ghanī bin Ismā‘īl bin ‘Abdul Ghanī an-Nābulusī. Yang biasa dipanggil dengan Syaikh ‘Abdul Ghanī an-Nābulusī. Beliau lahir tahun 1050/1641 dan tumbuh dewasa di Damaskus

Setelah dari Damaskus, beliau melakukan perjalanan mencari ilmu (riḥlah ‘ilmiyyah) ke berbagai bagian pusat keilmuan di dunia Islam. Beliau pertama kali menuju Baghdad, kembali ke Suriah, melanjutkan ke Palestina dan Lebanon, sebelum pergi menuju Mesir dan Hijaz, dan pada akhirnya kembali ke kampung halamannya di Damaskus hingga wafatnya.

Beliau dikenal sebagai penyair dan alim dalam bidang kajian ilmu agama dan peradaban. Harmonisasi ilmu dan kebudayaan ini tentu tidak lepas dari kenyataan bahwa beliau juga seorang orang yang menggunakan pendekatan sufistik dalam hidup beragama (mutashawwif). 

Karya-karyanya yang sangat banyak menunjukkan betapa luas dan dalam keilmuan yang beliau kuasai. Sayyid Aḥmad Khairī menginformasikan kepada az-Zirkilī bahwa karya Syaikh ‘Abdul Ghanī an-Nābulusī mencapai 223 karya, baik yang besar maupun yang kecil. 

Mungkin karena tulisan Muhammad Idris “Rokok dan Keramat Syaikh Abdul Ghani An-Nabulusi“, Syaikh ‘Abdul Ghanī dikenal juga sebagai kekasih Allah, waliyullāh, yang membolehkan rokok. Kajian serius mengenai hukum rokok beliau tuliskan dalam ash-Shulḥu bainal Ikhwān fī Ḥukmi Ibāḥatid Dukhān.
Sebuah Risalah untuk Menjawab Permasalahan Nusantara

Di antara karyanya ada sebuah risalah yang merupakan jawaban Syaikh ‘Abdul Ghanī untuk permasalahan yang terjadi di Nusantara (‘Abdul Ghanī, Risalah ‘Abdul Ghanī fī Ḥukmi Syathḥil Walī, dalam Syathaḥāt ash-Shūfiyyah, editor ‘Abdurraḥmān al-Badawī, Kuwait: al-Wakālah al-Mathbū‘āt, t.th.). Asalnya adalah sebuah manuskrip di perpustakaan azh-Zhāhiriyyah di Damaskus dengan kode 4008 (Gambar 1).

Latar belakangnya adalah seorang wali di Nusantara (ahlul jāwah) dalam keadaan “ekstase” sufistik mengatakan sesuatu yang membingungkan masyarakat awam. Bisa jadi perkataan itu menjadikannya kafir dan keluar dari Islam.

Namun sebagaimana adab yang luhur, di antara penduduk nusantara bertanya kepada para ulama di Hijaz. Apakah perkataan ini bisa adalah kekafiran atau ada takwil yang bisa membenarkannya dalam syariat? Lebih lengkapnya begini pertanyaannya:

وجدت رسالة اسمها “المسلك الجلي في حكم شطح الولي” للشيخ الامام العلامة العمدة المحقق المدقق الفهامة الملا ابراهيم الكوراني المدني رحمه الله تعالى اجاب بها عن سؤال ورد عليه من بعض جزائر جاوه من اقصى بلاد الهند في سنة ست و ثمانين والف.

Jadi Syaikh ‘Abdul Ghanī menemukan risalah berjudul Maslakul Jalī fī Ḥukmi Syathḥil Walī (Gambar 2). Seperti diketahui risalah ini merupakan jawaban Mulla Ibrāhīm al-Kūrānī (w. 1101/1690) atas pertanyaan dari murid nusantara (Ahlu Jāwah) yang beliau selesai tulis pada Sabtu 7 Rabiul Awal 1086 bertepatan dengan 1 Juni 1675 (baca ulasan Ginanjar Sya’ban, Maslakul Jalī). Tidak dijelaskan dari siapa Syaikh ‘Abdul Ghanī mendapatkan risalah ini.

Pada kolofon naskah (Gambar 3), kita tahu bahwa Syaikh ‘Abdul Ghanī menyelesaikan karyanya pada siang hari Jumat 13 Sya’ban tahun 1139 H bertepatan dengan 4 April 1727. Artinya pada rentang waktu 50 tahun risalah ini masih dikaji hingga sampai ke tangan Syaikh ‘Abdul Ghanī.

Sebuah manuskrip Maslakul Jalī menunjukkan dia ditulis pada Sabtu 26 Muharam 1092 yang bertepatan dengan 15 Februari 1681 (Gambar 4). Jadi kita bisa melihat sejak ditanyakan oleh murid nusantara, risalah ini terus dikaji. Lalu bagaimana jawaban Mulla al-Kūrānī berbeda dari jawaban Syaikh ‘Abdul Ghanī?

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap jawaban Mulla al-Kūrānī, Syaikh ‘Abdul Ghanī berusaha menawarkan sudut pandang yang berbeda. Mulla al-Kūrānī mengawali jawabannya dengan pentingnya para ulama menyesuaikan bahasa dakwah mereka sesuai dengan kemampuan pikir dari masyarakat yang menerima dakwah. 

Hal ini agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami materi dakwah. Kekeliruan yang fatal bisa mengantarkan masyarakat awam mengingkari apa yang telah Allah tetapkan. Ini ditetapkan atas dari dalil-dalil hadis yang mana beliau sangat kuasai.

Dari nash-nash itulah beliau mengambil hukum dan menjelaskannya dengan cara yang gamblang. Dari landasan itu, kemudian beliau menjelaskan definisi dari tiap-tiap konsep penting terkait pertanyaan itu, yaitu nafs, wujūd, dan Allāh, dan insān.

Sedangkan, Syaikh ‘Abdul Ghanī mengawali jawabannya dengan penjelasan pentingnya bersandar kepada al-Qur’an dan Sunnah. Beliau memberikan kritik pada mereka yang hanya menggunakan akalnya dalam memahami ajaran Allah. 

Lalu dengan mengutip beberapa ayat terkait relasi Allah dan hamba-Nya, serta memberikan tafsir sufistik kepada ayat-ayat tersebut, beliau memberikan rentang posisi seorang wali yang mengatakan hal itu.

Syaikh ‘Abdul Ghanī menjelaskan bahwa ada empat traktat pemahaman ucapan di atas. Traktat pertama adalah ghairiyyah (pembedaan) dari Allah swt. Artinya ada dualitas antara manusia dan Sang Pencipta. Traktat kedua adalah af‘ālullāh,yaitu manusia secara lahir dan batin adalah tindakan Allah swt. Mulai dari tahapan ini dualitas telah hilang. 

Traktat ketiga adalah sifat Allah, yaitu manusia adalah sifat dan asma’ Allah. Ketika seorang mampu memahami ketiga traktat ini dan melaluinya tahap demi tahap, maka dia akan sampai pada traktat terakhir yaitu dzātullāh.

Kesimpulannya apabila seorang mampu keluar dari tingkatan pertama dan terus menuju hingga traktat terakhir maka dia adalah seorang muwaḥḥid.

فهذا القائل الكلام المذكور إن صدق في نفسه وركب هذه الأطباق طبقا عن طبق فقد صدق، وهو … … موحد بالتوحيد، وهو وارث محمدي.

Apabila orang yang mengatakan perkataan di atas itu jujur pada dirinya sendiri dan mengikuti tahapan-tahapan pemahaman ini, satu demi satu, maka dia (dua kata hilang) seorang yang mengesakan Allah dengan tauhid yang sesungguhnya (penekanan penulis), dan dia adalah pewaris Muhammad.

Kita tidak tahu peristiwa faktual yang dirujuk pada pertanyaan di abad ke-17 ini. Namun sebenarnya ini bisa kaum muslim terapkan pada setiap ucapan-ucapan ekstase yang kandungannya sama. Kita bisa terapkan kepada Syaikh Siti Jenar. 

Maka apabila Syaikh Siti Jenar jujur pada diri sendiri dengan ucapannya dan memahami bahwa dia sudah lepas dari tataran ghairiyyah, maka dia adalah seorang pewaris Muhammadiy

Kita juga bisa menerapkannya pada Syaikh Hamzah Fanshuri dan pengikutnya. Bahkan kita juga bisa menggunakan cara pandangan ini untuk mereka yang meyakini wahdatul wujud atau manunggaling kawula gusti bahwa ketika mereka yang mengikuti manunggaling kawula gusti ketika benar dan jujur pada dirinya sendiri dan telah keluar dari tahapan pemahaman dualitas, maka mereka telah mencapai muwaḥḥid dan menjadi pewaris Sang Nabi.

Yang jelas, situasi masyarakat muslim di Nusantara telah berhasil mendorong perkembangan keilmuan yang dibahas di pusat-pusat dunia Islam oleh para guru mulia. Pembahasan yang telah mencapai tataran tinggi dan tidak sekadar hitam dan putih. Wallahu a’lam.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.