Serbaserbi

Kisah Ratu Balqis yang Demokratis, Ibunya Ternyata dari Bangsa Jin

Ratu Balqis adalah pemimpin perempuan di Negeri Saba’. Dia dikenal sebagai pemimpin yang demokratis. Balqis bisa menjadi pemimpin negeri Saba’ dengan usaha dan rintangan. Lalu siapa sejatinya perempuan hebat di era Nabi Sulaiman as ini?

Balqis adalah putri Raja Syarahil, pemimpin Negeri Yaman, keturunan Ya’rib bin Qahthan, nenek moyang Penduduk Arabia. Dalam Tafsir Al-Kasyaf, az-Zamakhsyari menceritakan bahwa Syarahil merupakan keturunan raja Negeri Yaman. Ia putra terakhir dari 40 bersaudara sekaligus pewaris takhta kerajaan ayahnya.

Ibu Balqis bukanlah sebangsa manusia, melainkan jin, bernama Raihanah binti Sakan. Konon, karena keluhuran derajat Raja Syarahil membuatnya tidak pantas menikah dengan perempuan mana pun dari bangsa manusia, sehingga ia memutuskan untuk menikah dengan jin.

Balqis adalah anak tunggal sehingga otomatis mengantikan ayahnya sebagai pemimpin di Yaman. Hanya saja tidak mudah bagi seorang wanita menjadi pemimpin.

Imam Husain bin Mas’ud Al-Baghawi (w. 1122 M) dalam “Ma’alimut Tanzil” atau lebih dikenal sebagai Tafsir al-Baghawi menceritakan, Balqis menaruh harapan untuk meneruskan jejak ayahnya dengan usaha keras meyakinkan penduduk Yaman.

Merespons usaha Balqis, kaum Yaman tidak semua sependapat. Ada yang mau mengakui kepemimpinan Balqis. Ada pula yang menolak. Dua respons yang pro-kontra tersebut menyebabkan Negeri Yaman terpecah menjadi dua. Satu bagian dipimpin Ratu Balqis. Bagian lainnya, dipimpin oleh seorang laki-laki.

Wilayah kepemimpinan Balqis di Yaman inilah yang disebut dengan Negeri Saba’. Di bawah kepemimpinan perempuan Saba’ jusru menjadi negeri yang damai dan sejahtera. Sementara satu kerajaan Yaman yang lain bernasib buruk, sebab rajanya lalim terhadap rakyatnya.

Pemimpin yang Demokratis

Balqis adalah pemimpin yang demokratis. Al-Quran merekam sikap demokratis Ratu Balqis tersebut pada saat membahas surat dari Nabi Sulaiman yang ditujukan kepadanya. Allah SWT berfirman:

قَالَتۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَؤُاْ إِنِّيٓ أُلۡقِيَ إِلَيَّ كِتَٰبٞ كَرِيمٌ

إِنَّهُۥ مِن سُلَيۡمَٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

أَلَّا تَعۡلُواْ عَلَيَّ وَأۡتُونِي مُسۡلِمِينَ

قَالَتۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَؤُاْ أَفۡتُونِي فِيٓ أَمۡرِي مَا كُنتُ قَاطِعَةً أَمۡرًا حَتَّىٰ تَشۡهَدُونِ

قَالُواْ نَحۡنُ أُوْلُواْ قُوَّةٖ وَأُوْلُواْ بَأۡسٖ شَدِيدٖ وَٱلۡأَمۡرُ إِلَيۡكِ فَٱنظُرِي مَاذَا تَأۡمُرِينَ

“Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.”

“Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,”

“Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”

“Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Berilah aku pertimbangan dalam perkaraku (ini). Aku tidak pernah memutuskan suatu perkara sebelum kamu hadir dalam majelis(ku).”

“Mereka menjawab, “Kita memiliki kekuatan dan keberanian yang luar biasa (untuk berperang), tetapi keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan engkau perintahkan.” ( QS An-Naml : 29-33)

Sikap Ratu Balqis dalam Al-Qur’an tersebut menarasikan bahwa pada saat menerima surat dari Raja Sulaiman yang berisi ajakan untuk mengikuti ajaran tauhid, sang ratu merasa perlu membahas ajakan tersebut dengan para petinggi kerajaan.

Fadal Hasan ‘Abbas menceritakan dalam Qashasul Qur’an, bahwa kekhasan jiwa kepemimpinan Balqis ada pada sikapnya yang selalu mendiskusikan persoalan dengan rakyatnya. Termasuk saat menentukan langkah untuk merespons surat Nabi Sulaiman.

Ratu Balqis selalu meminta pertimbangan rakyatnya sebelum mengambil keputusan. Ini menunjukkan bahwa Ratu Balqis tidak egois. Ia mementingkan kesejahteraan semua orang. Maka tak heran, kerajaan yang dipimpinnya bisa hidup damai, dan sarat akan kebebasan untuk berpendapat.

Para menteri Ratu Balqis kemudian hanya menunjukkan bahwa Kerajaan Saba’ memiliki perangkat militer yang kuat. Tetapi mereka menyerahkan keputusan kepada sang ratu. Hal ini sebagaimana yang tertera pada Surat An-Naml ayat 34 di atas.

Diplomatis

Sementara itu, siasat diplomatis Ratu Balqis dinarasikan dalam QS An-Naml ayat 34-35

قَالَتۡ إِنَّ ٱلۡمُلُوكَ إِذَا دَخَلُواْ قَرۡيَةً أَفۡسَدُوهَا وَجَعَلُوٓاْ أَعِزَّةَ أَهۡلِهَآ أَذِلَّةٗۚ وَكَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ

وَإِنِّي مُرۡسِلَةٌ إِلَيۡهِم بِهَدِيَّةٖ فَنَاظِرَةُۢ بِمَ يَرۡجِعُ ٱلۡمُرۡسَلُونَ

“Dia (Balqis) berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian yang akan mereka perbuat.”

“Dan sungguh, aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku) akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan itu.” ( QS An-Naml : 34-35)

Ratu Balqis tidak lantas memanfaatkan kekuatan militernya untuk menyerang kerajaan Sulaiman dengan cara yang anarkistik. Tergambar jelas dengan siasat politik diplomatis Balqis yang tergambar dalam Surat An-Naml ayat 34 dan 35.

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quranul ‘Adzim menjelaskan ayat 34 di atas itu menunjukkan bahwa kepemimpinan Ratu Balqis untuk tidak mengambil jalan perang. Ia mengatakan pada menteri-menterinya, bahwa meyulut api peperangan untuk menyerang negeri lain adalah kebiasaan raja-raja terdahulu, yang tidak boleh dilestarikan.

Tindakan itu, hanya akan membuat kerusakan, pertumpahan darah, menginjak kehormatan dan kekuatan pemimpinnya. Tindak perlawanan yang anarkistis demikian ini kemudian justru membuat peradaban terdahulu terhina dan porak poranda.

Ratu Balqis tidak ingin melakukan kebiasaan buruk para pendahulunya itu, ia lebih memilih langkah diplomasi dengan mengirimkan hadiah terlebih dahulu. Ia berharap dapat memberi kesan baik sehingga bisa membangun relasi yang kooperatif.

Bagi Balqis, memberi hadiah bisa membahagikan hati penerima, menyatakan rasa kasih, dan kadang dapat menghindarkan dari peperangan.

(mhy)

Miftah H. Yusufpati

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.