Keagamaan

Mengenal Malamatiyyah dalam Tradisi Sufi | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Malamatiyyah tengah ramai dibahas masyarakat Indonesia. Malamatiyyah ini juga langsung tranding dipelbagai platform media sosial. Berikut penjelasan lengkap dari malamatiyyah. 

Dalam tradisi sufi, banyak sekali instansi (baca; tarekat). Setiap instansi ini, semua substansinya sama, yakni menggapai ridha ilahi. Uniknya, di antara golongan sufi yang dipandang sebagai tarekat agamis dan saleh dalam berbagai dimensi.

Ternyata ada tarekat yang anti mainstream, sangat berbanding terbalik dengan tarekat pada umumnya, namanya adalah tarekat Malamatiyyah. 

Kelompok ini muncul pada abad kedua hijriyah di daerah Naisabur, Khurasan. Kelompok ini disebut dengan kelompok Malamatiyyah atau Mulamatiyyah dan Malamiyyah, yang kesemuanya bermakna celaan (derivasi dari terma Laum). 

Alasan mengapa kelompok ini disebut dengan Malamatiyyah adalah karena mereka mencela diri mereka sendiri atau dicela orang lain, namun mereka tidak mencela dunia dan penduduknya. Maksud dari mencela diri sendiri adalah bahwasanya mereka menganggap dirinya bukan apa-apa. 

Sehingga wali malamatiyyah meyakini bahwa diri tidak memiliki bagian apapun di dunia ini secara mutlak, mereka merasa tenang dan bahagia ketika dicela karena mereka berkeyakinan bahwa dirinya sangat jelek. Hal ini dilakukan untuk melawan tabiat nafsu yaitu suka pamer (riya’) dan sembrono dalam melakukan sesuatu. 

Adapun yang dimaksud dengan dicela orang lain adalah karena mereka menyembunyikan pergaulannya dengan Allah, mereka tidak ingin hubungannya dengan Allah diketahui orang. Bahkan mereka sangat merahasiakan ini, syahdan ketika ia bersama sesama hamba, ia akan menyembunyikan bagaimana hubungannya dengan Allah. 

Hatta ketika hubungannya diketahui dengan orang lain (yakni semisal ia mulai dianggap wali), niscaya ia akan sengaja melakukan sesuatu agar orang lain mencela atau menghinanya.  

Mudahnya, kelompok ini tidak mau terlihat baik (dalam segi sosial, spiritual dan intelektual), namun juga berusaha untuk tidak punya keburukan (baik dalam relasi dengan Allah maupun hamba-Nya). Hanya saja ketika status mereka diketahui, niscaya akan menganulir framing khalyak dengan melakukan sesuatu yang berpotensi dicela orang lain. (Abu Al-Ala’ Al-Afifi, Al-Malamatiyyah Wa Al-Sufiyyah Wa Ahl Al-Futuwwah, h. 17 ) 

Sungguh kelompok yang anti mainstream bukan? Jika umumnya orang ingin agar tidak dicela orang lain, beda halnya dengan kelompok Malamatiyyah. Justru ketika mereka merasa berpotensi untuk dipuji, lantas mereka akan melakukan sesuatu agar tidak jadi dipuji oleh orang.

Bahkan Ibnu Hajar Al-Haitami mengisahkan terkait malamatiyyah;

وَهُوَ مَا يَقع للملامتية وهم قوم طابت نُفُوسهم مَعَ الله فَلم يودوا أَن أحدا يطلع على أَعْمَالهم غَيره فَإِذا رأى أحد مِنْهُم أَن أحدا اعْتقد فِيهِ خرب أَي ارْتكب مَا يذم بِهِ ظَاهره من فعل وَقَول كسرقة بعض الْأَوْلِيَاء وَهُوَ إِبْرَاهِيم الْخَواص نفع الله بِهِ وناهيك بِهِ علما وَمَعْرِفَة لما رأى أهل بَلَده يعتقدونه سرق ثيابًا من الْحمام لِابْنِ الْملك وَخرج يتبختر بهَا حَتَّى أدْرك فَضرب وَأخذت مِنْهُ وسمى لص الْحمام فَقَالَ الْآن طابت الْإِقَامَة فِي هَذِه الْبَلَد.

“Wali malamatiyyah adalah kelompok tareqat yang selalu menjaga kebaikan hatinya untuk allah semata, mereka tidak menyukai orang lain melihat amalnya-amalnya. 

Bahkan ketika seseorang mengetahui kebaikannya, maka mereka segera merusak amal-amal tersebut yaitu dengan melakukan perbuatan atau perkataan yang kelihatannya tercela seperti yang dilakukan sebagian auliya’ yaitu Ibrahim al-khowaas.

 Ketika beliau mulai dikenal baik, maka beliau mencuri. kejadian ini cukup untuk dipetik sebagai ilmu pengetahuan saja, bukan untuk dicontoh. 

Ketika itu penduduk kampungnya menganggap Ibrahim Al-khowaas mencuri beberapa potong baju kepunyaan pangeran dari sebuah pemandian air hangat, mereka menjumpai ibrahim dengan bangga keluar dari pemandian.

Kemudian ditangkap ramai-ramai oleh penduduk, dipukul dan baju-baju itu diambil kembali. Kemudian beliau mendapat julukan “pencuri pemandian air hangat. 

Setelah kejadian itu, Ibrahim pun berucap, sekarang aku bisa nyaman berdiam di kampung ini.”

 فَإِن قلت مَا تَأْوِيله فِي لبس ثِيَاب الْغَيْر قلت يحْتَمل أَنه علم عَتبه وَرضَاهُ بل أرضاه وَإِن لم يعلم قلبه نظرا إِلَى الْغَالِب لِأَن من اطلع على بَاطِن عبد أَنه فِي غَايَة الصّلاح وَأَن لبسه هَذَا الزَّمن الْيَسِير ليطهر نَفسه من النّظر إِلَى الْخلق رضى لَهُ بذلك قطعا وَقد صرح الشَّافِعِي رَضِي الله عَنهُ بِأَنَّهُ يجوز أَخذ خلال وخلالين من مَال الْغَيْر نظرا إِلَى أَن ذَلِك مِمَّا يتَسَامَح بِهِ عَادَة ومسئلتنا أولى من ذَلِك لِأَن أَكثر النَّاس مجبولون على محبَّة هَذِه الطَّائِفَة بل كلهم منقادون إِلَى الصَّادِقين من أَهلهَا.

“Jika kamu bertanya, apa sebaiknya alasan yang tepat untuk diperbolehkan memakai pakaian orang lain (dalam peristiwa ini), maka saya katakan bahwa kemungkinan Ibrahim Al-khowaas telah mengetahui kadar kemarahan dan kerelaan pemiliknya,bahkan kejadian itu bisa menyebabkan kerelaannya, meskipun hatinya tidk mengethui secara pasti. 

Namun hal itu bisa berdasar pada kebiasaan, karena jika si pangeran tadi mengetahui kebaikan Syekh Ibrahim yang memakai pakaiannya dalam waktu sebentar, dengan tujuan membersihkan hati supaya tidak dipandang simpati oleh para mahluk, niscaya ia akan merelakannya. 

Sungguh Imam Al-Syafii telah menerangkan bahwa diperbolehkan mengambil 1 atau 2 cukil gigi (sedikit) dari harta orang lain, karena pada umumnya kejadian seperti ini bisa dimaafkan. 

sementara itu masalah yang sedang kita bicarakan ini lebih penting dari pada hanya sekedar mengambil cukil gigi, lagi pula kebanyakan manusia sangat menyukai kaum sufi atau bahkan menjadi pengikut setia dari kelompok mereka, jadi seakan mereka pasti rela akan yang dilakukan sufi.” (Al-Fatawa Al-Haditsiyyah, h. 226)

Menurut penuturan Syaikhina Gus Baha’, Wali Malamatiyyah tidak se-ekstrim demikian. Dilansir dari pengajian beliau yang berjudul Kisah Wali Mulamatiyah. Wali Malamatiyyah ini beragama dengan aqallul wajib (yakni hanya melakukan kewajiban saja). 

Mereka tidak melaksanakan sholat sunnah qabliyah dan ba’diyah, sebab mereka berkebutuhan untuk merepresentasikan ajaran Islam yang normal kepada orang abangan, sehingga mereka tidak keberatan dalam beragama. 

Bahkan di antara mereka ada yang hanya memakai kaos oblong dan celana pendek saja (aqallul wajib fi al-aurat), guna menyesuaikan dengan masyarakat yang hendak didakwahi, serta menutupi kewaliannya. 

Tentunya ini dijanggali oleh Sufi agung, Abul Hasan Al-Syadzili, ternyata beliau kasyaf, kemudian ia diberi penjelasan leh wali Malamatiyyah, sehingga Al-Syadzili tidak inggar lagi. 

Jadi Wali Malamatiyyah itu tidak melanggar syariat, hanya saja mereka memframing diri dengan seadanya, agar tidak dikira wali. Syahdan manaqib-manaqib itu banyak yang bertawassul dengan tarekat ini, sebab mereka mempunyai maqam yang tinggi.

Syahdan tareqat ini disanjung oleh sebagian kalangan, diantaranya disebutkan;

وَقد ذكرنَا حَال الملامتية وَإنَّهُ حَال شرِيف ومقام عَزِيز وَتمسك بالسنن والْآثَار وَتحقّق بالإخلاص والصدق وَلَيْسَ مِمَّا يزْعم المفتونون بِشَيْء 

“Tareqat Malamatiyyah adalah tareqat yang mulia, di mana wali dalam posisi ini memiliki maqam yang tinggi. Ia berpegang teguh pada sunnah dan atsar, hatta mereka mencapai realisasi sifat ikhlas. Tareqat ini bukanlah seperti yang diframing khalayak, sungguh fitnahnya terlalu jauh. 

(Justifikasi mereka berbanding terbalik dengan fakta yang telah disebutkan, adapun ketika terjadi penyimpangan, maka harus ditakwil atau tabayyun)”. (Al-Fatawa Al-haditsiyyah, h. 234)      

Pendiri golongan ini adalah Hamdun Bin Ahmad Al-qashhar Al-Naisaburi, beliau adalah seorang faqih dari kalangan madzhab Al-Tsauri (Madzhab fikih selain madzhab 4, sebab dulunya ada 13 madzhab, antaranya madzhabnya Imam Sufyan Al-Tsauri, hanya saja madzhab fikih ini sudah lenyap, hingga sekarang menjadi 4 saja).

Beliau wafat pada tahun 271 H, dan dikebumikan di pusara Al-Haidah. (Syekh Abdul Wahhab Al-Sya’rani, Lawaqih Al-Anwar fi Tabaqat al-Akhyar, jilid I, halaman 72)

Di antara kalam beliau yang terkenal adalah sebagai berikut;

  1. Tidak ada hamba yang resah akan hadirnya musibah, kecuali ia yang senantiasa mencurigai tuhannya.
  2.  Alasan mengapa ucapannya ulama’ salaf lebih bermanfaat dari pada ucapakan kita adalah karena beliau-beliau berbicara untuk kemuliaan atau kejayaan Islam, menyelamatkan jiwa dari hawa nafsu dan mengharap ridha Allah. Sedangkan kita berbicara dengan tujuan mendapatkan kemuliaan, mencari duniawi dan disenangi makhluk.
  3. Sesiapa yang menganggap dirinya lebih baik dari Fir’aun, maka sungguh ia telah jumawa, padahal ia belum mengetahui bagaimana akhir hayatnya.
  4. Ketika kamu ingin rahasia atau aibmu ditutupi, maka jangan sesekali membuka rahasia atau aibnya orang lain, sebagaimana kamu tidak ingin fakta tersebut diketahui oleh khalayak.
  5. Aku berwasiat kepada kalian, agar senantiasa bergaul dengan para ulama’. Ketika kalian melihat ada kebaikan padanya, maka jangan jauhi dia. (Zainuddin Muhammad Al-Munawi, Al-Kawakib Al-durriyyah fi tarajim al-sadat al-sufiyyah,  I/591)

Demikianlah sekilas penjelasan mengenai tarekat Malamatiyyah, maqam ini berbeda dengan maqam lainnya. Sebenarnya yang mengetahui tingkatan wali hanyalah Allah SWT dan para walinya, namun kita tetap harus menghormati sama lain. 

Ketika ada sufi yang menyimpang, maka dahulukan husnudzan. Namun ketika yang dilakukan sudah berlebihan, maka yang dilakukan adalah tabayyun. Sungguh tidak ada gunanya, hanya membabi buta vonis murtad sana sini. Pemahaman khalayak memang perlu dijaga, namun tentunya dilakukan dengan mekanisme yang bijak. 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.