Keagamaan

Sayyid Utsman Betawi (1822–1914): Sang Penjaga Syariah | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Sayyid Utsman Betawi dikenal sebagai salah satu pemikir Muslim terpenting di Hindia Belanda. Perjalanan hidupnya ditandai dengan perjalanan panjang pencarian ilmu keislaman, perdebatan masalah agama cum politik, dan lebih dari segalanya usaha menjaga praktik syariat masyarakat awam (Abushouk dan Ibrahim 2009, 107:170). 

Nama lengkapnya adalah Sayyid Uthmān bin Abdullāh bin Aqil bin Umar bin Yahyā al-ʿAlawi (Kaptein 2014, 55; Nurhasanah 2017, 85). Ia lahir pada 17 Rabiul Awal 1238 bertepatan dengan 1 Desember 1822 di Pekojan, Betawi (Kaptein, Vrolijk, dan Ouwehand 2018, 4).

Sebagaimana umumnya keturunan Nabi yang datang ke Hindia Timur pada abad kesembilan belas, keluarga Sayyid Utsman berasal dari Hadhramaut (Kaptein 2014, 53). Kakek buyutnya, Sayyid Umar, lahir di Qarat Al Shaykh, sebuah desa di Hadhramaut (Harahap 2018, 177; Kaptein 2014, 55). Dia dan anggota lain dari klan Hadhrami kemudian pindah ke Mekah di mana Sayyid Aqil ibn Umar (w. 1831), kakek dari Sayyid Utsman, lahir.

Sayyid Aqil adalah seorang guru terkemuka di Kota Suci yang mengajar banyak mata pelajaran ilmu-ilmu keislaman mulai dari fikih Islam hingga tasawuf (Kaptein 2014, 55). Ayah Sayid Utsman, Sayid Abdullah juga lahir di Mekah. Tidak jelas kapan dan bagaimana ia pindah ke Betawi. 

Namun, di kota ini, ia menikah dengan Amina, putri Abd al-Rahman al-Misri yang melahirkan Sayyid Utsman pada tahun 1822. Dalam Qamar al-zaman menyatakan keadaannya pada al-Habib Utsman dan taʾrikhnya, biografinya ditulis oleh putranya, Sayyid Alwi bin Utsman, disebutkan bahwa ketika Sayyid Utsman baru berusia tiga tahun, pada tahun 1825, ayahnya berangkat ke Mekah dan tidak pernah kembali ke Hindia Belanda (Nurhasanah 2017, 85).

Sebagaimana disebutkan dalam Qamar al-zaman, ia diasuh dan dididik sejak dini oleh kakek dari pihak ibu (Kaptein 2014, 22). Syekh Abd al-Ramān al-Miri adalah seorang dai dari Mesir yang menguasai ilmu-ilmu dasar Islam. Ia dikenal terutama karena penguasaannya dalam ilmu astronomi Islam (ilmu falak) (Harahap 2018, 278). 

Ia mengajari Sayyid Utsman muda berbagai ilmu dari dasar hingga lanjutan. Selain falak, ilmu yang diajarkan meliputi membaca Alquran, nahw, sharaf, teologi, etika, fiqih, dan tasawuf (Nurhasanah 2017, 85). Kepada anaknya yang berumur sembilan belas tahun, siang dan malam, Sayyid Utsman belajar dari kakeknya.

Namun, kakeknya bukanlah satu-satunya sumber pendidikannya di Nusantara. Sayyid Alwi dalam Qamar al-zaman menyatakan bahwa Sayyid Utsman juga menuntut ilmu dari ulama-ulama terbaik Melayu. Namun, sangat disayangkan Sayyid Alwi tidak memberikan keterangan rinci tentang para ulama tersebut. 

Satu-satunya nama lain yang ditelusuri sebagai gurunya di dunia Melayu-Indonesia adalah Syaikh Salim bin Sumair Betawi (w. 1855). Dia berasal dari Dzi Ashbuh, sebuah desa di Hadhramaut. Ia pindah ke Hindia Timur untuk berdakwah hingga wafatnya pada tahun 1855 di Betawi. Ia lebih dikenal sebagai penulis buku fiqih Islam untuk pembelajar awal, yaitu Safinah al-Najāh (Nurhasanah 2017, 85). 

Kitab ini terkenal di kalangan Muslim tradisional di Indonesia dan dipelajari di sebagian besar pesantren hingga saat ini.

Informasi lebih rinci tentang proses pendidikan Sayyid Utsman umumnya diperoleh dari tahun-tahun ketika ia pergi haji pada tahun 1841. Kaptein (2014, 59) percaya bahwa alasan utama perjalanan ini adalah untuk menyatukan kembali ikatan keluarga, terutama setelah ibunya meninggal. Pandangan ini dikuatkan oleh Sayyid Alwi dalam karyanya Qamar al-zaman tapi bukan satu-satunya alasan. 

Sayyid Alwi menyebutkan bahwa alasan Sayyid Utsman Betawi pergi ke Mekah adalah untuk mengikuti ayahnya dan untuk menyempurnakan keislamannya, yaitu untuk menunaikan haji (dalam Qamar al-zaman diterjemahkan oleh Kaptein 2014, 22).

Dia belajar kepada banyak ulama yang mengajar di Kota Suci. Di antara gurunya adalah ayahnya sendiri dan Sayyid Ahmad Zayni Dahlan (w. 1886) (dalam catatan pinggir Qamar al-zaman, Kaptein 2014, 23). Nama terakhir ini populer sebagai guru ulama Jawi yang berkunjung dan menuntut ilmu di Mekkah. 

Kecenderungan ini mungkin disebabkan karena Sayyid Ahmad Zayni Dahlan adalah seorang mufti Syafi’i, mazhab fiqih yang dianut oleh umat Islam di Indonesia. Kiai Sholeh Darat (Al-Murshid al-Wajīz, 119), seorang penulis produktif buku-buku Islam Jawa, menyebutkan bahwa Sayyid Ahmad Zayni Dahlan adalah gurunya dari siapa dia belajar dan menerima ijazah Iʼ ʻUlūmiddīn Imam Ghazzālī. 

Aman untuk mengasumsikan bahwa Sayyid Utsman juga mempelajari kitab yang sama dari Sayyid Amad Zaynī Dalān karena merupakan norma dalam cara pembelajaran tradisional bahwa seorang guru cenderung memprioritaskan mengajarkan kitab-kitab yang memiliki rantai transmisi kembali ke penulisnya. 

Namun, seorang ulama besar seperti Sayyid Amad Zaynī Dalān sangat mungkin memiliki beberapa rantai transmisi (ijazah) ke banyak kitab. Dengan kata lain, Sayyid Utsman mungkin juga belajar kitab lain dengan Sayyid Amad Zaynī Dalān.

Tujuh tahun setelah berkumpul dan menempuh pendidikan kepada ayahnya di Mekah, Sayyid Utsman meminta izin kepada ayahnya untuk melanjutkan pendidikan ke Hadramaut, tempat asal keluarganya (Kaptein 2014, 23). 

Sayyid Utsman Betawi tinggal di tanah air leluhurnya dari tahun 1847-1862. Ia belajar kepada banyak ulama dari masyarakat sayyid. Salah satu guru yang paling penting adalah Al-Habib Abdullah bin Husain bin Tahir (1777–1855) (Nurhasanah 2017, 85; Kaptein 2014, 65). Diyakini bahwa dari guru inilah kecenderungan Sayyid Utsman untuk menolak nuansa praktik adat lokal di masyarakat muslim.

Setelah kematian Abdullah bin Husain bin Tahir pada tahun 1855, Sayyid Utsman berkeliling dunia Muslim dari Mekah ke barat, dari Mesir, Tunis, Maroko, Istanbul, dan kemudian dia kembali ke Yerusalem dan Yaman. Perjalanan panjang ini dilakukan dari tahun 1855 hingga 1862. Dalam perjalanan ini ia mengunjungi keluarganya di Mekah, berziarah ke makam Nabi di Madinah, dan bertemu dengan banyak ulama (Kaptein 2014, 68–70).

Pada tahun 1862, ia kembali ke tanah airnya di Betawi dan menghabiskan waktunya di sana sampai wafatnya pada tahun 1914. Periode ini ditandai dengan hasil karya ilmiah, kegiatan dakwah, dan perselisihan agama. Dia menulis sekitar seratus karya, kebanyakan dalam bahasa Melayu dan sedikit dalam bahasa Arab (Abushouk dan Ibrahim 2009, 107:170). 

Selain itu, ia juga mulai memberikan ceramah umum (majelis taklim) di banyak masjid di sekitar Betawi. Pada saat kedatangannya, Haji Abdul Ghani Bima, yang sebelumnya adalah pemimpin kaum Jawi di Mekkah yang kembali ke Betawi di usia tuanya, meminta Sayyid Utsman untuk menggantikannya mengajar di Masjid Pekojan (Kaptein 2014, 73). Prosedur yang sama terjadi padanya ketika ia mengambil posisi sebagai guru di banyak masjid.

Namun, kegiatan paling menarik yang dilakukannya pada periode ini adalah keterlibatannya dengan pemerintah Hindia Belanda. Penasihat Urusan Pribumi dan Arab Pemerintah Hindia Belanda, Snouck Hurgonje (wafat 1936), mengangkatnya sebagai penasehat pemerintah. Kedekatannya dengan Belanda membuatnya harus terlibat polemik agama cum politik dengan beberapa beberapa ulama lain. 

Sebagai seorang tradisionalis, ia adalah pendukung untuk mengikuti salah satu empat mazhab dalam yurisprudensi Islam yang merupakan masalah penting yang dipermasalahkan oleh tokoh revivalis Muhammad Rashīd Ridā seperti yang ditunjukkan dalam publikasi al-Manār (Abushouk dan Ibrahim 2009, 107:159–90). 

Ia juga mempermasalahkan penemuan baru fonograf yang memutar bacaan al-Qur’an. Kontroversi lain yang berkaitan dengan Al-Qur’an adalah bahwa ia mewanti-wanti kaum muslimin terkait terjemahan al-Qur’an ke bahasa lain. 

Namun, niatnya adalah untuk memperingatkan masyarakat umum agar tidak memperlakukan terjemahan itu sama dengan Al-Qur’an, seperti berwudhu sebelum membacanya atau membacanya dalam doa kanonik (Kaptein 2014, 197).

Semua kontroversi seputar fatwanya dapat dilihat sebagai tindakan untuk menjaga terus-menerus praktek syariat masyarakat. Dia mengadopsi sikap ini sampai wafatnya pada Minggu malam, 18 Januari 1914 (Kaptein 2014, 252). Ia dimakamkan di pemakaman Karet di Tanah Abang. Hingga saat ini, majelis-majelis taklim rutin dilakukan di Masjid al-ʿAbidin, di samping komplek makam beliau.

(Baca juga: Sayyid Usman bin Yahya: Mufti dari Betawi)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.