Keagamaan

Ulama yang Mulai Serius Belajar di Usia Tua (1): Imam Al-Kisa’i – Alif.ID

Jika dalam ilmu fikih ada Imam Abu Hanifah, Malik bin Anas, Ahmad bin Hambal dan Imam Syafi’i, dalam ilmu akidah ada Imam Asy’ari dan al-Maturidi, dalam ilmu tasawuf ada Imam Junaid al-Baghdadi dan al-Ghazali, dalam hal ilmu hadits ada Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dalam ilmu tafsir ada Imam At-Thabari, ar-Razi, al-Qurthubi, as-Suyuthi dan banyak lainnya. Maka, dalam ilmu qira’ah ada Imam al-Kisai.

Sebutan al-Kisai tidak bisa dihilangkan dari ilmu qiraah. Selain salah satu ulama yang menguasai ilmu Al-Qur’an itu sekaligus melahirkan banyak ulama ahli qiraat di masa setelahnya, Al-Kisai juga salah satu pengkodifikasi pertama di balik keberadaan ilmu qiraah. Oleh karenanya, nama al-Kisai menjadi sangat populer (popular) dalam dunia qiraah.

Selain itu, Imam al-Kisai adalah figur yang bisa menguasai dua ilmu penting dalam Islam. Bahkan, di balik namanya yang sangat terkenal, setidaknya dengan ketokohan dalam dua hal. Pertama adalah popularitasnya yang sangat menjulang dalam ilmu Nahwu. Kedua, adalah ketenarannya yang begitu menggaung dalam jagat ilmu Qiraah.

Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala mengatakan bahwa Imam al-Kisa’i memiliki nama lengkap Ali bin Hamzah bin Abdullah bin Yahman bin Fairuz al-Asadi. Beliau dilahirkan di Kota Kufah pada tahun 119 H/737 M, dan wafat di Ray pada tahun 189 H/809 M, pada usia 70 tahun.

Rihlah intelektual Imam al-Kisa’i ini diawali dari belajar Al-Qur’an dan dasar-dasar umum ilmu keislaman lainnya pada beberapa guru di daerah tempat ia tinggal. Tradisi ini kurang lebih sama dengan tradisi pembelajaran pada umumnya di dunia Islam, bahwa yang pertama kali dipelajari adalah Al-Qur’an.

Kemudian Imam al-Kisa’i melanjutkan pendalaman pengetahuan ke jenjang berikutnya pada beberapa ulama pakar. Di antara beberapa nama gurunya adalah sebagai berikut.

Pertama, Imam Hamzah bin Habib al-Zayyat. Kepada Imam Hamzah ini, Imam al-Kisa’i mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak empat kali dan menjadi rujukan utama dalam qiraah-nya. Suatu ketika beliau pernah ditanya siapa yang menjadi referensi qiraah-nya, ia pun menjawab dengan yakin, Imam Hamzah.

Kedua, Imam al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi. Dalam Tarikh Ibnu Katsir ada pendapat yang mengatakan bahwa Imam al-Kisai pernah belajar Nahwu pada al-Khalil. Dengan demikian, berarti al-Khalil memiliki dua murid yang menjadi imam dua mazhab Nahwu, yaitu Imam Sibawaih yang menjadi imam madhab Nahwu di Bashrah dan al-Kisai yang menjadi imam mazhab Nahwu di Kufah.

Namun yang paling penting diketahui, yaitu perihal kapan waktu dimulainya belajar Imam al-Kisa’i perihal ilmu-ilmu Islam. Dan seperti apa histori yang beliau jalani sebelum mencari ilmu.

Imam al-Kis’ai, selain sebagai potret keilmuan yang begitu luas, beliau juga menjadi referensi bahwa mencari ilmu tidak memiliki batas waktu secara khusus. Sebab, al-Kisa’i baru memulai rihlah belajarnya pada usia yang cukup tua, yaitu 40 tahun.

Imam Ibnu Hajar, dalam salah satu masterpiece-nya mengatakan, bahwa Imam al-Kisa’i pada mulanya hanyalah pengembala kambing. Pekerjaan itu beliau tekuni sejak masih bocah hingga menginjak usianya yang cukup tua, yaitu usia 40 tahun.

Akan tetapi, suatu hari, tepatnya ketika beliau sedang menggembala kambing-kambing miliknya, ia melihat seorang ibu sedang menasihati dan memotivasi anaknya untuk pergi ke halaqah ilmiah dengan tujuan bisa menghafal Al-Qur’an. Namun, sang anak enggan pergi ke halaqah tersebut.

Saat itu, sang ibu berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, pergilah ke majelis ilmu untuk belajar, agar ketika engkau dewasa nanti tidak seperti pengembala kambing ini.”

Blas! Imam al-Kisa’i seperti terkena sambaran petir yang begitu keras, ia serasa dihajar dengan pukulan amat dahsyat yang membuat perasannya remuk, hancur dan sangat berantakan. Sesekali ia mencoba menenangkan dirinya agar tidak terpengaruh ocehan itu, akan tetapi tidak ada hasil. Dalam hatinya bergumam, “Aku dijadikan permisalan untuk hal kebodohan!”

Dengan tekad yang kuat, dan cita-cita yang tinggi. Semangatnya timbul saat itu, juga. Di usia yang cukup tua, 40 tahun. Meski demikian, usia tak menghalangi semangatnya untuk membuktikan bahwa tidak ada batas waktu untuk mencari ilmu. Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ibnu Hajar,

فَذَهَبَ فَبَاعَ غَنَمَاهُ وَانْطَلَقَ إِلَى التَّعَلُّمِ وَتَحْصِيْلِهِ، فَأَصْبَحَ إِمَاماً فِى الُّلغَةِ وَإِمَامًا فِى القِرَاءَاتِ وَيُضْرَبُ بِهِ المَثَلَ فِي الْعِلْمِ وَكِبَرِ الْهِمَّةِ

Artinya, “Maka (Imam al-Kisa’i) pun pergi dan menjual semua kambingnya. Kemudian ia bersegera untuk belajar dan memperkuat keilmuannya. Setelah itu, jadilah beliau imam dalam ilmu bahasa dan imam dalam ilmu qiraah. Selain itu, Al-Kisa’i dijadikan permisalan dalam hal keilmuan dan kuatnya tekat. (Abdurrahman As-Sakhawi, al-Jawahiru wa ad-Durar fi Tarjamati Syaikhil Islam Ibni Hajar, [Mesir, Dar Ibnu Hazm], halaman 38).

Demikianlah potret Imam al-Kisai. Salah satu tokoh ilmu nahwu di kota Kufah, yang memiliki andil besar dalam perkembangan ilmu nahwu, sekaligus pembesar ilmu qiraah yang namanya harum sebagai salah satu pengkodifikasi ilmu Al-Qur’an tersebut.

Dari rihlahnya, mulai menggembala kambing hingga mencari ilmu, menjadi salah satu referensi bahwa untuk memahami ilmu agama tidak dibatasi oleh usia. Beliau menjadi bukti di balik kesuksesan dalam keilmuan di akhir usianya yang sudah sangat tua.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.