Keagamaan

Mengenal 4 Syarah Jauharat al-Tauhid Karya 4 Kiai Pantura | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com-Salah satu kitab tauhid dasar yang banyak dipakai sebagai acuan dalam pengenalan aqidah adalah Jauharat al-Tauhid. Kitab ini merupakan kitab aqidah dasar yang sangat populer di kalangan cendekiawan muslim

Kitab karangan Ibrahim bin Ibrahim bin Hasan al-Laqqani (w. 1042 H) ini merupakan salah satu kitab aqidah dasar yang berbentuk nazam atau syair. Secara umum kitab ini berbicara tentang dasar-dasar pemahaman aqidah Ahlussunnah wal Jamaah menurut Mazhab al-Asy’ari.

Kitab ini sangat populer di kalangan pesantren dan cendekiawan muslim. Oleh sebab itu kitab ini   mempunyai kitab syarah (komentar) yang begitu banyak. Sebut saja diantara ulama yang memberi komentar (Syarah) terhadap Jauharat al-Tauhid adalah Syaikhul Azhar Syekh Ibrahim al-Bajuri (w. 1276 H) dalam kitabnya yang berjudul Tuhfat al-Murid ‘ala Jauharat al-Tauhid.

Kemudian Syekh Ahmad bin Muhammad as-Shawi Al-Maliki (w. 1241 H) dalm kitab Hasyiah-nya. Lalu ada Sykeh Abdul Barr bin Abdullah al-Ajhury berjudul Fath al-Qorib al-Majid Syarh Jauharat al-Tauhid, dan masih banyak lagi syarah-syarah lain. Sepanjang penelusuran kami tak kurang dari 20 syarah kitab komentar yang ikut mewarnai mengupas intisari dari Kitab Jauhar al-Tauhid ini.

Nah, diantara sekian banyak syarh atau kitab penjelas dari Jauharat al-Tauhid ini, banyak juga ulama nusantara yang juga memberikan perhatian khusus terhadap kandungan kitab ini. Mereka menulis syarah dan keterangan tambahan yang sesuai dengan kondisi lokalitas masyarakat. 

Perhatian para ulama ini bukan tanpa alasan, kitab Jauharat al-Tauhid ini sekalipun ringkas dan padat, akan tetapi kandungan maknanya begitu luar biasa. Tak heran jika setiap pesantren di Indonesia bisa dipastikan juga menjadikan kitab ini sebagai bahan ajar tauhid dasar santri.  

Dalam tulisan ini akan penulis akan mengulas karya yang ditulis oleh 4 ulama dari pesisir Utara pulau Jawa. Pesisir Utara pulau Jawa, memang telah sekian lama menjadi salah satu sentra penyebaran Islam di Jawa.

Walisongo sendiri mayoritas berada di Pesisir Utara. Tak heran jika hingga saat ini pesisir utara Jawa ini selalu melahirkan sosok-sosok ulama hebat pada masanya. Diantaranya adalah:

Pertama, Manhaj al-Abid Karangan KH. Abdul Hadi Zahid Langitan. KH. Abdul Hadi Zahid sendiri merupakan pengasuh PP. Langitan generasi ke-4. Beliau merupakan menantu dari Kh. Khozin bin Syihabuddin yang merupakan pengasuh generasi ke-3.

Secara genealogi keilmuan, KH . Abdul Hadi Zahid pernah menimba ilmu kepada Syaikhona KH. Kholil Bangkalan, juga kepada KH. Idris Jamsaren Solo.

Kitab ini beliau tulis merujuk pada dua syarah yang sudah ada sebelumnya. Yakni Tuhfatul Murid karangan Syekh Ibrahim al-Bajuri (w. 1276 H) dan Umdatul Murid sebuah syarh yang ditulis oleh putra Syekh Ibrahim al-Laqqani sendiri, yakni Syekh Abdussalam bin Ibrahim al-Laqqani. 

Dari kedua kitab tersebut beliau meringkas dan meracik dengan begitu sempurna. Hingga tersajilah kitab manhajul Abid yang begitu nikmat untuk ditelaah dan dinikmati santri. 

Kedua, Taqrirat Jauharat al-Tauhid karangan KH. Maimoen Zubair pengasuh PP. Al-Anwar Sarang, Rembang.  Saat ini taqrirat ini juga dijadikan salah satu kurikulum pelajaran Tauhid di Madrasah Ghazaliyah Syafi’iyah Sarang.

Kitab ini relatif lebih tipis daripada tiga kitab diatas, mengingat memang kitab ini ditulis oleh KH. Maimoen Zubair hanya sebagai taqrirat atau catatan yang bisa memudahkan para pelajar dalam memahami kitab Jauharat al-Tauhid. 

Akan tetapi walaupun begitu, penjelasan dan keterangannya begitu jelas dan cukup komplit. Dalam awal muqaddimah beliau juga menulis sanad beliau dalam kitab jauharat al-Tauhid ini. Terdapat dua jalur sanad, pertama dari jalur sang ayah, KH. Zubair Dahlan dan yang kedua dari Syekh Yasin al-Fadani mekkah. 

Ketiga, Ad-Durrul Farid fi Syarhi Jauharah at-Tauhid  karangan KH. Abul Fadhol Senori. Kiai Abul Fadhol Senori adalah seorang kiai tradisional yang terkenal kealimannya. Beliau tidak pernah mengenyam pendidikan di Timur tengah. 

Akan tetapi kealiman dan kecakapannya dalam menulis karangan berbahasa Arab sungguh mengagumkan. Beliau berasal dari sebuah desa kecil di Tuban, Senori. Beliau merupakan murid dari  kiai Abu Fadhol adalah kiai Faqih Maskumambang (w. 1930 an), juga Syekh Muhammad Baghir bin Al-Jughjawi al-Makki. 

Kitab  Ad-Durrul Farid sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak karangan KH. Abul Fadhol. Diantaranya adalah Ahlal Musamaroh fi Auliya’ Asyroh, Kasyfut Tabarih fi Shalatit Tarawih, Kawakibul Lama’ah fi Tahqiqi Ahlissunnah wal Jama’ah, Tashilul Masalik Syarah Alfiyah Ibnu Malik.

Kitab Ad-Durrul Farid, selesai ditulis pada 13 Dzulqo’dah tahun 1386 H atau sekitar tahun 1967 M. Selain mengulas isi dan kandungan dari Jauharat al-Tauhid, Kiai Abul Fadhol Senori juga dalam beberapa halaman menulis beberapa masalah kontekstual. 

Termasuk di akhir kitab beliau menulis panjang lebar mengenai Ahlussunnah wal-Jamaah lengkap beserta berbagai dinamika dalam memahami ahlussunnah wal jamaah ini. Catatan yang ditulis oleh Kiai Abul Fadhol ini sangatlah komprehensif, beliau juga menulis berbagai organisasi keislaman di Indonesia, mulai Muhammadiyah, Persis hingga NU.

Termasuk perihal amaliyah-amaliyah serta problematika masyarakat pun tak luput dari kritik dari beliau. Karena memang pada awalnya, selain menulis syarah beliau juga ingin menulis dan meluruskan beberapa hal dan problematika yang sering dilakukan masyarakat saat itu. 

Keempat, Sabilul Abid Syarh Jauharat al-Tauhid karangan KH. Sholeh Darat. Seperti karya-karya KH. Sholeh Darat yang lain, kitab ini ditulis menggunakan bahasa jawa pasaran. Hal ini dimaksudkan agar karya ini lebih mudah diterima dengan mudah oleh masyarakat awam. Hal ini bisa kita lihat dalam salah satu kalimat beliau dalam pengantar salah satu karya populernya, Majmu’ah As-Syari’ah al-Kafiyah li al-‘Awam. 

Dalam kitab ini, beliau menulis, “Kerono arah supoyo pahamo wong-wong amsal ingsun awam kang ora ngerti boso Arab mugo-mugo dadi manfaat biso ngelakoni kabeh kang sinebut ing njeroni iki tarjamah,”.

(agar masyarakat awam yang tidak mengerti bahasa Arab bisa paham dan semoga bermanfaat (serta) bisa mengamalkan semua yang disebutkan dalam terjemahan ini).”

Sehingga dalam Kitab Sabilul Abid ini sendiri, racikan ilmu teologi tauhid yang agak rumit  bisa secara sederhana disampaikan dengan bahasa masyarakat. Kitab ini juga beberapa waktu lalu sudah dicetak versi terjemah Indonesia oleh Penerbit Sahifa. 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.