Keagamaan

Empat Model Relasi Umara dan Ulama | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com – Relasi umara dan ulama, tengah lama dibahas dan dialogkan oleh masyarakat. Nah, dalam tulisan ini akan membahas, setidaknya ada empat model relasi umara dan ulama.

Mengutip KH Afifuddin Muhajir bahwa antara agama dan negara adalah satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan namun bisa dibedakan. Hal ini, menunjukkan keduanya memiliki relasi yang erat, dan akhirnya juga memiliki pengaruh terhadap relasi orang-orang yang berkompeten di dalam keduanya. 

Umumnya, orang-orang yang berkompeten atau pemimpin dalam dua bidang itu (agama dan negara) diistilahkan dengan ulama dan umara. Sebab itulah diskursus seputar pemimpin dalam islam sangat krusial. Inilah empat relasi antara umara dan ulama.

Pertama, relasi intrinsik. Relasi intrinsik adalah relasi yang benar-benar kesatuan, yang mana umara adalah ulama itu sendiri dan sebaliknya. Model yang pertama ini merupakan relasi yang sangat ideal dalam Islam. Karena menurut Islam, kepala negara atau umara seharusnya orang yang betul-betul memahami hukum Islam. 

Dan, bahkan jika perlu ia juga sampai pada tataran level mujtahid sebagaimana pada masa kepemimpinan Nabi Muhammad dan khulafa’ur Rasyidin, atau pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Karena tugas mereka tidak hanya menjamin kedamaian rakyatnya di dunia, melainkan juga kebahagiaan akhirat kelak. 

Dengan begitu, pengaturan negara harus senafas dengan nilai-nilai universal agama yang mana diduga kuat akan terwujud jika dikendalikan orang yang memahami agama sekaligus kenegaraan. Dalam kondisi ideal ini, agama dan negara merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam berbagai aspek kehidupan. Sakulerisme pun tidak mendapatkan ruang dalam sistem di atas.

Kedua, umara tunduk pada ulama. Sebagaimana sudah maklum, dalam panggung sejarah islam, kondisi ideal yang sudah dialami selama kepemimpinan Nabi dan para empat sahabatnya tidak bisa bertahan lama.

Sejarah membawa umat pada kenyataan bahwa kekuasaan dipegang oleh mereka yang bukan ulama, apalagi mujtahid, bahkan mereka yang terkadang awam dalam soal agama. 

Kendatipun mereka seorang negarawan. Akan tetapi, meski ulama dan umara bukan satu orang namun mereka masih memiliki relasi mesra. Satu sama lain saling mendukung, menyokong dan menguatkan agar negara yang dijalani tetap di bawah pancaran agama.

Ringkasnya, meski umara bukan ulama akan tetapi mereka masih berkonsultasi kepada ulama untuk meminta bimbingan. 

Ketiga, antara ulama dan umara saling berhadapan satu sama lain. Dalam kondisi ini, relasi keduanya tidak harmonis, yakni ketika negara berada di kekuasaan orang yang tidak paham agama dan juga tidak tunduk dengan ulama. Kebijakan-kebijakannya banyak yang bertentangan denga nafas islami. 

Akan tetapi, dengan gagah berani para ulama berdiri untuk menentang kebijakan yang menyimpang tersebut. Misalnya, dalam fakta sejarah adalah kebijakan umara Al-Makmun yang mendoktrin paham-paham mu’tazilah yang tidak seharusnya karena tidak memberikan ruang demokratis kepada rakyat.

Diantaranya adalah peristiwa mihnah. Namun, ada banyak ulama yang menentangnya termasuk Imam Ahmad bin Hambal yang teguh menantangnya meski mendapat siksa dari para umara.

Keempat, ulama tunduk kepada umara. Kondisi ini merupakan kondisi yang paling buruk dimana para ulama sudah tidak memiliki pengaruh di hadapan umara bahkan kehilangan harga dirinya sehingga rela menjual agamanya dengan gampang melegitimasi kebijakan umara meski tidak sesuai dengan nilai islami. 

Maka jika antara ulama dan umara saling sokong dalam kezaliman sesungguhnya sedang menuju dalam    jurang kehancuran. Dari Ibnu Abbas, Nabi Muhammad pernah bersabda yang artinya;

“Dua golongan dari umatku jika keduanya baik maka manusia akan baik. Jika keduanya rusak maka umat akan rusak. Mereka yaitu umara dan ulama”

Itulah empat relasi antara ulama dan umara. Jika kita melihat kondisi saat ini, khususnya indonesia sudah barang tentu tidak termasuk dalam kategori pertama. Akan tetapi, apakah termasuk kategori kedua ketiga atau justru yang terakhir.

Di mana banyak para ulama yang sejatinya tunduk dengan pemimpin yang zalim atau sebaliknya para penguasa yang tunduk dengan nila islami. Wallahu A’lam. (Baca: Ulama dalam Perumpamaan Pohon)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.